RADAR TULUNGAGUNG - Legenda Banyuwangi menjadi salah satu cerita rakyat paling terkenal di Jawa Timur yang terus menarik perhatian publik. Kisah ini bukan sekadar dongeng, melainkan sarat makna tentang cinta, pengkhianatan, hingga pengorbanan yang melahirkan asal-usul nama Banyuwangi.
Legenda Banyuwangi berawal dari peperangan antara Kerajaan Klungkung dan Blambangan. Dalam konflik tersebut, Kerajaan Klungkung mengalami kekalahan dari pasukan Blambangan yang dipimpin Prabu Menak Prakoso. Dua anak raja Klungkung, Raden Rupaksa dan Putri Surati, berhasil melarikan diri ke hutan untuk menyelamatkan diri.
Dalam pelarian, keduanya berpisah demi menghindari kejaran musuh. Surati kemudian hidup sendirian di tengah hutan hingga suatu hari bertemu dengan Raden Banterang, putra Prabu Menak Prakoso yang sedang berburu.
Baca Juga: Kisah Bondan Kejawan, Putra Majapahit yang Memeluk Islam dan Jadi Kunci Lahirnya Mataram Islam
Pertemuan yang Mengubah Takdir
Pertemuan Raden Banterang dan Surati menjadi awal dari kisah cinta yang tak terduga. Surati yang misterius membuat Banterang penasaran. Seiring waktu, keduanya saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah.
Meski sempat ditentang karena asal-usul Surati tidak jelas, pernikahan tetap berlangsung. Surati dikenal sebagai sosok ramah dan disukai rakyat Blambangan. Kehidupan rumah tangga mereka pun berjalan harmonis.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Fitnah yang Menghancurkan Hubungan
Konflik mulai muncul ketika Raden Rupaksa, kakak Surati, datang dan mengajak adiknya membalas dendam atas kematian ayah mereka. Surati menolak ajakan tersebut dan memilih setia kepada suaminya.
Sebelum pergi, Rupaksa meninggalkan sebuah ikat kepala sebagai kenang-kenangan. Benda itulah yang kemudian menjadi awal malapetaka.
Rupaksa memfitnah Surati dengan mengatakan bahwa sang putri berselingkuh dan merencanakan balas dendam. Ia juga menyebut ikat kepala sebagai bukti.
Raden Banterang yang diliputi emosi langsung mempercayai tuduhan tersebut tanpa mencari kebenaran lebih dalam.
Kebenaran yang Terlambat Disadari
Banterang menemukan ikat kepala di bawah bantal Surati. Tanpa memberi kesempatan penjelasan, ia menuduh istrinya berkhianat. Surati mencoba menjelaskan bahwa itu adalah pemberian kakaknya, bukan tanda perselingkuhan.
Namun, Banterang sudah dikuasai amarah. Ia membawa Surati ke tepi danau tempat mereka pertama kali bertemu.
Di sana, Surati membuat sumpah terakhir. Ia memilih menceburkan diri ke danau untuk membuktikan kesuciannya. Ia berkata, jika air danau menjadi keruh dan berbau, maka ia bersalah. Namun jika air menjadi jernih dan harum, maka ia tidak bersalah.
Surati pun melompat ke dalam danau.
Asal Usul Nama Banyuwangi
Tak lama setelah Surati tenggelam, air danau berubah menjadi jernih dan mengeluarkan aroma harum. Saat itulah Raden Banterang menyadari kesalahannya.
Ia menyesal dan terus mengucapkan kata “banyu wangi” yang berarti air yang harum. Dari peristiwa itulah, nama Banyuwangi dipercaya berasal.
Legenda Banyuwangi menjadi simbol tentang bahaya prasangka dan pentingnya kepercayaan dalam hubungan. Kisah ini juga menjadi bagian penting dari warisan budaya yang terus diceritakan lintas generasi.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula