Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Kerajaan Kediri, Dari Panjalu hingga Runtuh di Tangan Ken Arok, Jayabaya Bawa Masa Keemasan Nusantara

Muhamad Ahsanul Wildan • Minggu, 1 Maret 2026 | 19:00 WIB

Sejarah Kerajaan Kediri dari Panjalu hingga runtuhnya Kertajaya, masa kejayaan Jayabaya dan jejaknya di Blitar.
Sejarah Kerajaan Kediri dari Panjalu hingga runtuhnya Kertajaya, masa kejayaan Jayabaya dan jejaknya di Blitar.

RADAR TULUNGAGUNG - Sejarah Kerajaan Kediri menjadi salah satu bab penting dalam perjalanan panjang peradaban Jawa Timur.

Kerajaan bercorak Hindu ini berdiri antara tahun 1042 hingga 1222 Masehi dan berpusat di Kota Daha, yang kini berada di sekitar wilayah Kediri modern.

Dalam lintasan sejarahnya, Kediri yang juga dikenal sebagai Panjalu, tumbuh menjadi kekuatan besar di Nusantara sebelum akhirnya runtuh akibat konflik politik dan militer.

Awal mula sejarah Kerajaan Kediri tidak lepas dari keputusan besar Raja Airlangga pada 1045.

Ia membagi wilayah Kerajaan Kahuripan menjadi dua karena persaingan dua putranya.

Sri Samarawijaya memimpin Panjalu di Daha, sementara Mapanji Garasakan memimpin Janggala di Kahuripan.

Sejak saat itu, Panjalu atau Kediri berkembang menjadi kerajaan dominan, sedangkan Janggala perlahan meredup dan akhirnya ditaklukkan.

Nama Daha sendiri berasal dari Dahanapura yang berarti “kota api”.

Istilah ini tercatat dalam Prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga pada 1042.

Dalam sejumlah sumber seperti Negarakertagama dan Serat Calon Arang, disebutkan bahwa pusat pemerintahan memang telah berpindah ke Daha menjelang akhir masa pemerintahan Airlangga.

Masa Kejayaan di Era Jayabaya

Sejarah Kerajaan Kediri mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Jayabaya.

Di bawah kepemimpinannya, Panjalu berhasil menaklukkan Janggala dengan semboyan terkenal “Panjalu Jayati” yang berarti Panjalu menang.

Prasasti Ngantang menjadi bukti penting keberhasilan tersebut.

Wilayah kekuasaan Kediri saat itu meliputi hampir seluruh Pulau Jawa dan meluas hingga beberapa wilayah Nusantara.

Bahkan, pengaruhnya disebut mampu menandingi dominasi Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.

Catatan Tiongkok dalam kitab Ling Wai Tai Ta (1178) menyebut Jawa sebagai salah satu negeri terkaya selain Tiongkok.

Tak hanya kuat secara politik dan militer, Kediri juga unggul dalam bidang sastra.

Pada masa Jayabaya, kakawin Bharatayuddha digubah oleh Mpu Sedah dan diselesaikan Mpu Panuluh pada 1157.

Karya ini menjadi simbol kemenangan Jayabaya atas Janggala sekaligus menandai kemajuan kesusastraan Jawa Kuno.

Jayabaya juga dikenal dalam tradisi lisan sebagai tokoh peramal masa depan Jawa.

Meski sebagian ramalan tersebut diyakini sebagai karya pujangga era belakangan, namanya tetap melekat kuat dalam khazanah budaya Jawa.

Perkembangan Politik dan Raja-Raja Kediri

Setelah Jayabaya, Kediri dipimpin sejumlah raja seperti Sri Sarweswara, Aryeswara, hingga Kertajaya.

Pada masa Sri Kameswara, kesusastraan kembali berkembang lewat kakawin Smaradahana karya Mpu Dharmaja.

Cerita Panji yang populer di Nusantara juga berakar dari periode ini, terutama kisah cinta Dewi Kirana dari Janggala dan Kameswara dari Kediri.

Kehidupan sosial masyarakat Kediri tergambar dalam berita Tiongkok abad ke-12 dan ke-13.

Disebutkan bahwa rakyatnya hidup makmur, pertanian dan perdagangan maju, serta sistem hukum menerapkan denda emas bagi pelanggar hukum.

Raja keluar istana diiringi ratusan prajurit, mengenakan pakaian sutra dan perhiasan emas.

Runtuhnya Kerajaan Kediri

Akhir sejarah Kerajaan Kediri terjadi pada 1222. Raja terakhir, Kertajaya, berselisih dengan kaum Brahmana.

Konflik ini dimanfaatkan oleh Ken Arok, penguasa Tumapel yang bercita-cita memerdekakan wilayahnya dari Kediri.

Pertempuran besar terjadi di Desa Ganter. Pasukan Ken Arok berhasil mengalahkan Kertajaya.

Sejak itu, Kediri menjadi bawahan Tumapel yang kemudian berkembang menjadi Kerajaan Singasari.

Kediri sempat bangkit kembali di bawah Jayakatwang pada 1292 setelah berhasil menggulingkan Singasari.

Namun, kebangkitan itu singkat. Pada 1293, Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit, dengan dukungan pasukan Mongol, mengalahkan Jayakatwang.

Sejak saat itu, Kediri menjadi wilayah bawahan Majapahit.

Jejak Kediri di Blitar dan Sekitarnya

Menariknya, banyak prasasti peninggalan Kediri ditemukan di wilayah Blitar, Tulungagung, hingga Malang.

Nama-nama desa kuno seperti Pandelegan, Panumbangan, dan Jaring masih bertahan hingga kini.

Prasasti-prasasti tersebut menjadi bukti aktivitas politik, ekonomi, dan budaya di masa lampau.

Sejarah Kerajaan Kediri bukan hanya tentang perebutan takhta dan peperangan, tetapi juga tentang kejayaan sastra, kemakmuran rakyat, dan pengaruh budaya yang membekas hingga ratusan tahun kemudian.

Dari Daha hingga Blitar, jejak Panjalu tetap hidup dalam lembaran sejarah Jawa Timur.

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#Kerajaan Singasari #Panjalu #Ken Arok #Jayabaya #Sejarah Kerajaan Kediri