Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Hari Raya Idul Fitri: Dari Tradisi Arab Jahiliyah hingga Lebaran Umat Islam, Ini Makna dan Sunnah yang Dianjurkan

Axsha Zazhika • 2026-03-15 19:35:56
Sejarah Hari Raya Idul Fitri: Dari Tradisi Arab Jahiliyah hingga Lebaran Umat Islam, Ini Makna dan Sunnah yang Dianjurkan
Sejarah Hari Raya Idul Fitri: Dari Tradisi Arab Jahiliyah hingga Lebaran Umat Islam, Ini Makna dan Sunnah yang Dianjurkan

 

TULUNGAGUNG - Sejarah Hari Raya Idul Fitri menjadi salah satu topik yang menarik untuk dipahami umat Islam, terutama ketika memasuki bulan Syawal setelah menjalani ibadah puasa Ramadan. Banyak orang merayakan Lebaran setiap tahun, tetapi belum tentu mengetahui bagaimana sejarah Hari Raya Idul Fitri bermula dalam perjalanan peradaban Islam.

Dalam berbagai literatur Islam disebutkan bahwa sejarah Hari Raya Idul Fitri berkaitan erat dengan perubahan tradisi masyarakat Arab setelah datangnya ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Perayaan yang sebelumnya identik dengan pesta dan hura-hura kemudian diganti dengan hari raya yang penuh makna ibadah, syukur, dan silaturahmi.

Memahami sejarah Hari Raya Idul Fitri juga membantu umat Islam mengetahui makna sebenarnya dari Lebaran, bukan sekadar tradisi makan bersama atau mengenakan pakaian baru, tetapi momentum kembali kepada kesucian setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Baca Juga: Wooling RV vs BYD One: Duel Mobil Listrik Mulai Rp160 Jutaan yang Bikin Pasar Indonesia Geger

Tradisi Hari Raya Sebelum Datangnya Islam

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab pada masa jahiliyah sebenarnya telah memiliki dua hari raya yang dirayakan setiap tahun. Namun perayaan tersebut jauh berbeda dengan konsep Idul Fitri yang dikenal saat ini.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa masyarakat Arab jahiliyah merayakan hari raya dengan pesta besar yang dipenuhi hiburan, tarian, hingga minuman keras. Perayaan itu lebih menyerupai festival hiburan dibandingkan kegiatan spiritual atau ibadah.

Menurut beberapa catatan sejarah Islam, dua hari raya yang dikenal pada masa itu adalah Nairuz dan Mahrajan. Kedua perayaan tersebut sebenarnya berasal dari tradisi Persia kuno yang kemudian diadopsi oleh masyarakat Arab.

Dalam praktiknya, perayaan tersebut sering diwarnai dengan berbagai bentuk hiburan yang tidak mencerminkan nilai-nilai keagamaan.

Baca Juga: Mahindra e2o: Mobil Listrik Murah di Indonesia dengan Harga Setara Dua NMAX

Perubahan Konsep Hari Raya dalam Islam

Ketika Islam datang, konsep hari raya mengalami perubahan besar. Nabi Muhammad SAW mengganti dua perayaan tersebut dengan dua hari raya yang lebih bermakna, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah telah mengganti dua hari raya masyarakat Arab dengan dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Dengan perubahan ini, perayaan hari raya tidak lagi sekadar menjadi pesta hiburan, tetapi berubah menjadi momentum untuk bersyukur kepada Allah SWT, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta meningkatkan kepedulian sosial.

Baca Juga: Mobil Listrik Murah untuk Anak Muda: Dari Tata Nano Hingga Mahindra dengan Harga Mulai Rp13 Juta

Idul Fitri sendiri dirayakan setiap tanggal 1 Syawal setelah umat Islam menjalani ibadah puasa Ramadan selama satu bulan penuh.

Hubungan Idul Fitri dengan Peristiwa Perang Badar

Dalam sejarah Islam, momentum Idul Fitri juga sering dikaitkan dengan kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadan tahun 2 Hijriah.

Perang Badar merupakan salah satu pertempuran penting dalam sejarah Islam. Saat itu, pasukan Muslim hanya berjumlah sekitar 313 orang dengan perlengkapan yang sangat terbatas.

Baca Juga: Vespa Elettrica Resmi Diuji Jalan, Skuter Listrik Premium dengan Jarak Tempuh Hingga 100 Km

Sementara pasukan Quraisy dari Makkah memiliki jumlah sekitar 1.000 prajurit dengan perlengkapan yang jauh lebih lengkap.

Meski kalah dalam jumlah, kaum Muslimin berhasil memenangkan pertempuran tersebut. Kemenangan ini dianggap sebagai salah satu tonggak penting dalam perkembangan Islam.

Oleh karena itu, Idul Fitri tidak hanya menjadi simbol kemenangan setelah berpuasa, tetapi juga melambangkan kemenangan spiritual dalam melawan hawa nafsu.

Baca Juga: Motor Listrik Uwinfly T85 Mirip Motor Bensin, Punya NFC, Baterai 60V dan Tembus 126 Km, Ini Spesifikasi Lengkapnya

Kewajiban Zakat Fitrah pada Idul Fitri

Salah satu kewajiban yang harus ditunaikan menjelang Idul Fitri adalah membayar zakat fitrah. Zakat ini bertujuan untuk menyucikan diri setelah menjalani ibadah puasa serta membantu masyarakat yang kurang mampu.

Secara umum, zakat fitrah dikeluarkan sebesar satu sha’ makanan pokok. Jika dikonversikan ke dalam ukuran modern, jumlahnya sekitar 2,5 hingga 3 kilogram beras atau bahan makanan pokok lainnya.

Zakat fitrah dianjurkan untuk ditunaikan sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri agar dapat segera disalurkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.

Baca Juga: Motor Listrik Uwinfly M100 Gen 3 Punya Mode Boost Tersembunyi, Top Speed Bisa Tembus 120 Km/Jam dengan Harga Mulai Rp7 Jutaan

Sunnah yang Dianjurkan Saat Idul Fitri

Selain kewajiban zakat fitrah, terdapat beberapa sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan umat Islam pada hari raya Idul Fitri.

Salah satunya adalah memperbanyak takbir sejak malam hari hingga sebelum pelaksanaan salat Id. Tradisi takbiran ini juga sangat populer di Indonesia dengan berbagai bentuk perayaan.

Sunnah lainnya adalah mandi sebelum berangkat salat Id, memakai pakaian terbaik, serta menggunakan wewangian.

Baca Juga: Motor Listrik UNFLY M100 Dibanderol Rp24,5 Juta, Punya Dinamo 5000 Watt dan Jarak Tempuh 120 Km, Ini Review Kelebihan dan Kekurangannya

Rasulullah SAW juga dianjurkan untuk makan terlebih dahulu sebelum melaksanakan salat Idul Fitri. Biasanya beliau memakan kurma dengan jumlah ganjil.

Selain itu, umat Islam juga dianjurkan untuk mempererat silaturahmi dengan mengunjungi keluarga, tetangga, maupun sahabat.

Tradisi Lebaran di Indonesia

Di Indonesia, Idul Fitri dikenal dengan istilah Lebaran dan menjadi salah satu momen paling dinantikan setiap tahun.

Tradisi mudik, saling memaafkan, serta berkumpul bersama keluarga menjadi bagian penting dari perayaan ini.

Baca Juga: Rekomendasi HP Lebaran 2026: Kenapa HP Tahun 2025 Justru Lebih Worth It? Ini Alasannya dan Daftar Pilihannya

Selain itu, berbagai hidangan khas seperti ketupat, opor ayam, dan aneka kue Lebaran juga menjadi ciri khas yang selalu hadir saat Idul Fitri.

Meski memiliki berbagai tradisi lokal, makna utama Idul Fitri tetap sama, yaitu kembali kepada fitrah, memperkuat persaudaraan, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Editor : Axsha Zazhika
#sejarah hari raya Idul Fitri #hari raya umat Islam #sejarah lebaran #idul fitri #zakat fitrah