Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Hari Raya Idul Fitri: Ternyata Berawal dari Perang Badar dan Tradisi Jahiliah, Ini Makna Kemenangan Umat Islam

Axsha Zazhika • Minggu, 15 Maret 2026 | 19:40 WIB
Sejarah Hari Raya Idul Fitri: Ternyata Berawal dari Perang Badar dan Tradisi Jahiliah, Ini Makna Kemenangan Umat Islam
Sejarah Hari Raya Idul Fitri: Ternyata Berawal dari Perang Badar dan Tradisi Jahiliah, Ini Makna Kemenangan Umat Islam

 

TULUNGAGUNG - Sejarah Hari Raya Idul Fitri ternyata memiliki kisah panjang yang berkaitan dengan perjuangan umat Islam pada masa awal perkembangan Islam. Perayaan yang setiap tahun dirayakan umat Muslim di seluruh dunia ini tidak hanya menjadi penanda berakhirnya ibadah puasa Ramadan, tetapi juga memiliki makna kemenangan spiritual serta sejarah penting yang berkaitan dengan peristiwa besar dalam Islam.

Hari Raya Idul Fitri dikenal sebagai momentum kemenangan bagi umat Islam setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan. Pada hari tersebut, umat Islam dianjurkan melaksanakan salat Idul Fitri secara berjamaah, saling memaafkan, serta mempererat tali silaturahmi dengan keluarga, tetangga, maupun kerabat.

Tradisi saling memaafkan yang sering disertai ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum” menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri. Ucapan tersebut memiliki arti semoga Allah menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadan.

Baca Juga: Harga Mobil Listrik Second di Indonesia: Wooling Cloud, BYD, dan Tesla Mulai Rp110 Jutaan

Sejarah Hari Raya Idul Fitri

Sejarah Hari Raya Idul Fitri tidak dapat dilepaskan dari dua peristiwa penting dalam sejarah Islam. Peristiwa pertama adalah kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar yang terjadi pada tahun ke-2 Hijriah.

Perang Badar merupakan pertempuran besar pertama antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy dari Makkah. Meski jumlah pasukan Muslim jauh lebih sedikit, kemenangan berhasil diraih oleh kaum Muslimin. Kemenangan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan sejarah Islam.

Momentum kemenangan tersebut kemudian beriringan dengan selesainya ibadah puasa Ramadan. Oleh karena itu, Idul Fitri sering dimaknai sebagai simbol dua kemenangan sekaligus, yaitu kemenangan spiritual setelah menahan hawa nafsu selama sebulan penuh dan kemenangan dalam perjuangan menegakkan agama Islam.

Baca Juga: Wooling RV vs BYD One: Duel Mobil Listrik Mulai Rp160 Jutaan yang Bikin Pasar Indonesia Geger

Dengan demikian, perayaan Idul Fitri tidak sekadar perayaan biasa, tetapi juga menjadi pengingat akan perjuangan para sahabat Nabi dalam mempertahankan dan menyebarkan ajaran Islam.

Tradisi Jahiliah yang Diganti oleh Rasulullah

Sebelum Islam datang, masyarakat Arab pada masa jahiliah telah memiliki dua hari raya yang dirayakan setiap tahunnya. Kedua hari raya tersebut dikenal dengan nama Nairus dan Marjan.

Pada masa itu, perayaan Nairus dan Marjan biasanya diisi dengan pesta besar, hiburan, tarian, hingga minum-minuman keras. Tradisi tersebut berasal dari kebudayaan Persia kuno yang kemudian diadopsi oleh masyarakat Arab.

Baca Juga: Mahindra e2o: Mobil Listrik Murah di Indonesia dengan Harga Setara Dua NMAX

Namun setelah Islam datang, Rasulullah SAW mengganti kedua perayaan tersebut dengan dua hari raya yang memiliki makna ibadah, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Pergantian ini bertujuan agar umat Islam memiliki tradisi yang lebih baik dan selaras dengan ajaran Islam.

Perayaan Idul Fitri kemudian tidak lagi diisi dengan pesta pora, melainkan dengan berbagai bentuk ibadah seperti salat Idul Fitri, zakat fitrah, serta kegiatan sosial yang mempererat persaudaraan.

Keutamaan Hari Raya Idul Fitri

Hari Raya Idul Fitri juga memiliki keutamaan besar dalam ajaran Islam. Pada hari tersebut, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan salat Idul Fitri sebagai ungkapan rasa syukur atas selesainya ibadah puasa Ramadan.

Baca Juga: Mobil Listrik Murah untuk Anak Muda: Dari Tata Nano Hingga Mahindra dengan Harga Mulai Rp13 Juta

Selain itu, Idul Fitri juga menjadi momen di mana Allah SWT menjanjikan ampunan bagi hamba-Nya yang telah menjalani ibadah puasa dengan penuh keikhlasan.

Karena itu, Idul Fitri sering disebut sebagai hari kembali ke fitrah, yakni kembali kepada keadaan suci setelah melewati proses penyucian diri selama bulan Ramadan.

Makna Sebenarnya dari Idul Fitri

Bagi sebagian orang, Idul Fitri identik dengan pakaian baru, hidangan khas lebaran, dan berbagai tradisi lainnya. Meski demikian, makna sebenarnya dari Idul Fitri tidak terletak pada hal-hal tersebut.

Baca Juga: Charged Baycat, Motor Listrik dengan Fast Charging 40 Menit dan Jarak Tempuh Hingga 170 Km

Dalam ajaran Islam, menggunakan pakaian baru memang dianjurkan sebagai bentuk syiar dan kebahagiaan dalam menyambut hari raya. Namun hakikat Idul Fitri adalah kebersihan hati, saling memaafkan, serta memperkuat hubungan antarsesama.

Dengan memahami sejarah dan makna Idul Fitri, umat Islam diharapkan dapat merayakan hari raya dengan penuh kesadaran spiritual. Idul Fitri bukan hanya perayaan tahunan, tetapi juga momentum untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah menjalani proses ibadah selama bulan Ramadan.

Editor : Axsha Zazhika
#sejarah hari raya Idul Fitri #Perang Badar #Tradisi Jahiliah #Makna Idul Fitri #idul fitri