Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal Usul Lebaran di Indonesia, Ternyata Berasal dari Tradisi Jawa hingga Dakwah Wali Songo, Ini Sejarah dan Ragam Tradisinya

Axsha Zazhika • 2026-03-15 19:45:00
Asal Usul Lebaran di Indonesia, Ternyata Berasal dari Tradisi Jawa hingga Dakwah Wali Songo, Ini Sejarah dan Ragam Tradisinya
Asal Usul Lebaran di Indonesia, Ternyata Berasal dari Tradisi Jawa hingga Dakwah Wali Songo, Ini Sejarah dan Ragam Tradisinya

 

TULUNGAGUNG - Asal usul Lebaran di Indonesia ternyata memiliki cerita panjang yang tidak hanya berkaitan dengan ajaran Islam, tetapi juga dengan budaya lokal di tanah Jawa. Istilah Lebaran yang sering digunakan masyarakat Indonesia untuk menyebut Hari Raya Idul Fitri memiliki sejarah unik yang berakar dari tradisi budaya Jawa serta proses dakwah para ulama pada masa lampau.

Lebaran menjadi salah satu momen paling dinanti oleh umat Islam setelah menjalani ibadah puasa Ramadan selama satu bulan penuh. Pada hari tersebut, umat Islam merayakan kemenangan spiritual setelah berhasil menahan diri dari berbagai hal yang dapat membatalkan atau mengurangi pahala puasa.

Di Indonesia, istilah Lebaran bahkan lebih populer dibandingkan penyebutan Hari Raya Idul Fitri. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa istilah ini memiliki makna budaya yang cukup dalam serta berkaitan dengan sejarah penyebaran Islam di Nusantara.

Baca Juga: BYD Atow & Premium: Mobil Listrik Murah di Indonesia, Mulai Rp190 Jutaan dengan Bonus Lengkap

Asal Usul Istilah Lebaran

Istilah Lebaran dipercaya berasal dari tradisi masyarakat Hindu di Jawa sebelum Islam berkembang luas di wilayah tersebut. Dalam tradisi tersebut, kata “lebaran” memiliki arti selesai, usai, atau habis.

Dalam bahasa Jawa, kata Lebaran berasal dari istilah “wis bar” yang berarti sudah selesai. Makna ini kemudian dikaitkan dengan berakhirnya ibadah puasa Ramadan yang dijalani umat Islam selama satu bulan penuh.

Kata “bar” sendiri merupakan bentuk pendek dari kata “lebar” yang berarti selesai. Dengan demikian, Lebaran dapat dimaknai sebagai tanda berakhirnya masa puasa dan dimulainya hari kemenangan bagi umat Islam.

Baca Juga: 3 Mobil Listrik Murah di Indonesia Mulai Rp190 Jutaan, Cocok untuk Kota dan Ramah Lingkungan

Beberapa budayawan juga menyebut bahwa istilah Lebaran kemudian digunakan oleh para ulama untuk memudahkan masyarakat Jawa memahami ajaran Islam melalui pendekatan budaya.

Peran Wali Songo dalam Tradisi Lebaran

Menurut sejumlah catatan sejarah, tradisi Lebaran di Jawa mulai berkembang sekitar abad ke-15. Salah satu tokoh yang disebut berperan dalam mengenalkan istilah ini adalah Sunan Bonang, salah satu anggota Wali Songo yang terkenal sebagai penyebar Islam di Pulau Jawa.

Melalui pendekatan budaya dan tradisi lokal, para Wali Songo memperkenalkan berbagai nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Istilah Lebaran kemudian dipakai untuk menjelaskan makna Hari Raya Idul Fitri dengan cara yang lebih mudah dipahami masyarakat setempat.

Baca Juga: Mobil Listrik Murah untuk Anak Muda: Dari Tata Nano Hingga Mahindra dengan Harga Mulai Rp13 Juta

Tradisi tersebut kemudian dilanjutkan oleh para pengikut dan masyarakat hingga bertahan sampai sekarang. Bahkan hingga saat ini, istilah Lebaran telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia.

Selain bermakna selesai, kata Lebaran juga sering dimaknai sebagai “lapang”. Dalam konteks perayaan Idul Fitri, makna tersebut merujuk pada sikap lapang dada dalam memaafkan kesalahan orang lain.

Karena itu, tradisi saling meminta maaf saat Lebaran menjadi salah satu ciri khas perayaan Idul Fitri di Indonesia.

Baca Juga: Wooling RV vs BYD One: Duel Mobil Listrik Mulai Rp160 Jutaan yang Bikin Pasar Indonesia Geger

Sejarah Idul Fitri dalam Islam

Sementara itu, istilah Idul Fitri sendiri berasal dari bahasa Arab. Kata “Id” berarti kembali atau perayaan, sedangkan “Fitri” berasal dari kata “fitrah” yang berarti suci.

Dengan demikian, Idul Fitri dapat dimaknai sebagai hari kembalinya manusia kepada keadaan suci setelah menjalani proses penyucian diri melalui ibadah puasa Ramadan.

Dalam sejarah Islam, Hari Raya Idul Fitri pertama kali dirayakan oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun ke-2 Hijriah atau sekitar tahun 624 Masehi. Perayaan tersebut bertepatan dengan kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar.

Baca Juga: Charged Baycat, Motor Listrik dengan Fast Charging 40 Menit dan Jarak Tempuh Hingga 170 Km

Selain itu, sejarah Idul Fitri juga berkaitan dengan perubahan tradisi masyarakat Arab pada masa jahiliah. Sebelum Islam datang, masyarakat Arab memiliki dua hari raya yang dikenal dengan nama Nairus dan Mihrajan.

Kedua perayaan tersebut biasanya diisi dengan berbagai pesta dan hiburan. Namun setelah Islam datang, Nabi Muhammad SAW menggantinya dengan dua hari raya yang lebih bermakna, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Ragam Tradisi Lebaran di Indonesia

Di Indonesia, perayaan Lebaran juga diwarnai berbagai tradisi unik yang berkembang di berbagai daerah.

Baca Juga: United C2000 Resmi Meluncur, Motor Listrik Bergaya Neo-Klasik dengan Jarak Tempuh Hingga 130 Km

Salah satunya adalah tradisi meriam karbit yang dilakukan masyarakat di tepian Sungai Kapuas, Pontianak, Kalimantan Barat. Tradisi ini biasanya digelar dalam bentuk festival yang berlangsung selama beberapa hari menjelang hingga setelah Lebaran.

Di Bali, terdapat tradisi “ngejot” atau “ngejut”, yaitu kebiasaan berbagi makanan kepada tetangga. Tradisi ini bahkan dilakukan oleh berbagai umat beragama sebagai simbol toleransi dan kebersamaan.

Sementara itu, masyarakat Sasak di Lombok memiliki tradisi Lebaran Topat yang dilakukan sekitar seminggu setelah Idul Fitri. Tradisi ini berkaitan dengan puasa sunah enam hari di bulan Syawal yang kemudian dirayakan dengan makan ketupat bersama.

Baca Juga: Gogoro 3 Series, Motor Listrik dengan Jarak Tempuh Hingga 170 Km dan Fitur Canggih

Di Yogyakarta, Keraton juga memiliki tradisi Grebeg Syawal yang digelar setiap tanggal 1 Syawal. Dalam tradisi ini, gunungan hasil bumi diarak dari Keraton menuju Masjid Gedhe Kauman sebagai simbol rasa syukur.

Sedangkan di Gorontalo, masyarakat memiliki tradisi Tumbilotohe, yaitu menyalakan lampu di halaman rumah dan sepanjang jalan menuju masjid pada tiga malam terakhir menjelang Idul Fitri.

Beragam tradisi tersebut menunjukkan bahwa perayaan Lebaran di Indonesia tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga sarat nilai budaya, kebersamaan, dan toleransi antar masyarakat.

Editor : Axsha Zazhika
#Asal Usul Lebaran #Tradisi Lebaran Indonesia #Sejarah Idul Fitri #Sunan Bonang #Wali Songo