TULUNGAGUNG - Tradisi andilan Betawi menjelang Lebaran menjadi salah satu warisan budaya yang menunjukkan kuatnya nilai gotong royong di tengah masyarakat. Tradisi ini dilakukan jauh sebelum Hari Raya Idul Fitri tiba dan menjadi cara masyarakat Betawi mempersiapkan perayaan Lebaran secara bersama-sama.
Tradisi andilan Betawi menjelang Lebaran tidak hanya sekadar kegiatan urunan atau iuran warga. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan simbol solidaritas sosial yang telah berlangsung sejak masa lalu dan masih dipertahankan hingga kini di sejumlah wilayah Jakarta.
Dalam praktiknya, tradisi andilan Betawi menjelang Lebaran biasanya dilakukan sekitar enam hingga tujuh bulan sebelum Ramadan. Warga berkumpul untuk merencanakan pembelian hewan, biasanya kerbau, yang nantinya akan dipotong dan dibagikan kepada seluruh peserta menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Tradisi Andilan Betawi Menjelang Lebaran
Menurut budayawan Betawi Yahya Andi Saputra, tradisi andilan pada dasarnya merupakan bentuk kebersamaan masyarakat dalam mempersiapkan hari raya. Kata “andilan” sendiri berasal dari bahasa Belanda, yaitu “andil” yang berarti bagian atau kontribusi.
Dalam pelaksanaannya, warga yang ingin ikut serta akan mendaftarkan diri dan menyetor sejumlah uang kepada tetua kampung atau tokoh masyarakat. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk membeli kerbau yang akan dipelihara hingga menjelang Lebaran.
Jumlah kerbau yang dibeli biasanya disesuaikan dengan jumlah peserta yang mengikuti andilan. Semakin banyak warga yang berpartisipasi, maka semakin banyak pula kerbau yang disiapkan.
Baca Juga: BYD Atow & Premium: Mobil Listrik Murah di Indonesia, Mulai Rp190 Jutaan dengan Bonus Lengkap
Setelah hewan tersebut dipotong beberapa hari sebelum Lebaran, dagingnya dibagikan secara merata kepada para peserta. Tidak hanya daging, bagian lain seperti kulit, jeroan, hingga tulang juga dibagikan secara adil kepada seluruh anggota andilan.
Tradisi ini juga melibatkan sejumlah peran penting dalam masyarakat, mulai dari tetua kampung yang mengelola iuran, tukang piara yang merawat kerbau, hingga tukang potong yang membantu proses penyembelihan.
Makna Gotong Royong dalam Tradisi Betawi
Keberadaan tradisi andilan menunjukkan bahwa masyarakat Betawi sejak dahulu memiliki sistem gotong royong yang kuat. Dengan cara ini, warga dapat merayakan Lebaran secara bersama-sama meskipun kondisi ekonomi masing-masing berbeda.
Baca Juga: BYD Atow & Premium: Mobil Listrik Murah di Indonesia, Mulai Rp190 Jutaan dengan Bonus Lengkap
Pada masa lalu, mendapatkan daging bukanlah hal yang mudah seperti sekarang. Karena itu, melalui sistem andilan, masyarakat bisa menikmati hidangan istimewa saat Lebaran tanpa harus menanggung biaya sendiri.
Selain itu, tradisi ini juga menjadi ajang mempererat hubungan sosial antarwarga. Diskusi mengenai iuran, perawatan kerbau, hingga pembagian daging dilakukan secara musyawarah.
Meski zaman telah berubah dan akses terhadap bahan makanan semakin mudah, tradisi andilan masih tetap dipertahankan di beberapa komunitas Betawi sebagai simbol kebersamaan.
Baca Juga: Harga Mobil Listrik Second di Indonesia: Wooling Cloud, BYD, dan Tesla Mulai Rp110 Jutaan
Tradisi Beleduran Menyambut Ramadan
Selain tradisi andilan Betawi menjelang Lebaran, masyarakat Betawi juga memiliki tradisi lain dalam menyambut bulan Ramadan, salah satunya adalah beleduran.
Beleduran merupakan permainan menggunakan bambu besar yang menghasilkan suara ledakan mirip meriam. Permainan ini biasanya dilakukan menjelang Ramadan atau saat suasana kampung sedang merayakan momen tertentu.
Bambu yang digunakan biasanya adalah bambu tua yang kuat dan besar. Bagian dalam bambu dilubangi hingga menyerupai pipa, kemudian diisi bahan tertentu agar dapat menghasilkan suara ledakan.
Baca Juga: Wooling RV vs BYD One: Duel Mobil Listrik Mulai Rp160 Jutaan yang Bikin Pasar Indonesia Geger
Menariknya, permainan ini tidak hanya dimainkan oleh anak-anak. Pada masa lalu, orang dewasa justru menjadi pihak yang membuat dan memainkan beleduran karena proses pembuatannya cukup rumit.
Tradisi ini dipercaya muncul sebagai bentuk ekspresi kegembiraan masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan.
Tradisi Sosial Betawi Menjelang Ramadan
Selain andilan dan beleduran, masyarakat Betawi juga mengenal tradisi lain seperti nyorog, yaitu memberikan bahan makanan kepada keluarga atau kerabat menjelang Ramadan.
Baca Juga: Charged Baycat, Motor Listrik dengan Fast Charging 40 Menit dan Jarak Tempuh Hingga 170 Km
Dalam tradisi ini, seseorang biasanya membawa bahan makanan mentah seperti beras, telur, atau sembako kepada anggota keluarga yang membutuhkan.
Tujuannya adalah membantu mereka mempersiapkan kebutuhan selama Ramadan serta mempererat hubungan kekeluargaan.
Seiring perkembangan zaman, bentuk nyorog memang mengalami perubahan. Jika dulu dilakukan dengan membawa bahan makanan secara langsung, kini sebagian masyarakat menggantinya dengan bantuan uang atau transfer.
Baca Juga: United C2000 Resmi Meluncur, Motor Listrik Bergaya Neo-Klasik dengan Jarak Tempuh Hingga 130 Km
Meski demikian, nilai kebersamaan yang menjadi inti dari tradisi tersebut tetap dipertahankan.
Berbagai tradisi masyarakat Betawi ini menunjukkan bahwa perayaan Ramadan dan Lebaran bukan hanya soal ibadah, tetapi juga tentang solidaritas sosial, kebersamaan, serta budaya gotong royong yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Editor : Axsha Zazhika