TULUNGAGUNG - Sejarah mudik Lebaran di Indonesia ternyata memiliki akar yang sangat panjang. Tradisi pulang kampung yang identik dengan perayaan Idul Fitri ini bahkan disebut sudah ada sejak masa kerajaan di Nusantara, jauh sebelum istilah “mudik” populer seperti sekarang.
Setiap tahun, jutaan masyarakat Indonesia melakukan perjalanan pulang kampung menjelang Hari Raya Idul Fitri. Fenomena ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan menjadi tradisi sosial yang sarat makna kebersamaan dan silaturahmi keluarga.
Data menunjukkan skala fenomena ini sangat besar. Pada 2024, sekitar 193,6 juta penduduk Indonesia melakukan mudik. Sementara pada 2025, Kementerian Perhubungan memperkirakan sekitar 146,48 juta orang akan kembali ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.
Baca Juga: Review Xpeng X9 2026: MPV Full-Size Canggih dengan Auto Parking Smooth dan Fitur “Quiet Luxury”
Namun siapa sangka, sejarah mudik Lebaran di Indonesia ternyata telah berlangsung sejak masa kerajaan, khususnya pada era Majapahit dan Mataram Islam.
Akar Tradisi Mudik Sejak Zaman Kerajaan
Dosen sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno, menjelaskan bahwa fenomena pulang ke daerah asal sebenarnya sudah dilakukan oleh pejabat kerajaan pada masa lalu.
Pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit, wilayah kekuasaan kerajaan tersebut sangat luas, bahkan disebut mencapai wilayah Sri Lanka hingga Semenanjung Malaya. Karena luasnya wilayah, banyak pejabat kerajaan ditugaskan untuk menjaga daerah-daerah kekuasaan tersebut.
Para pejabat yang ditempatkan di berbagai wilayah ini tidak selalu tinggal di pusat kerajaan. Namun pada waktu tertentu, mereka kembali ke pusat pemerintahan untuk menghadap raja sekaligus mengunjungi kampung halaman mereka.
Tradisi serupa juga terjadi pada masa Kerajaan Mataram Islam. Para pejabat atau abdi kerajaan yang bertugas di berbagai wilayah biasanya pulang ke pusat kerajaan pada momen tertentu, salah satunya saat perayaan Idul Fitri.
Fenomena pulang dari tempat perantauan menuju pusat kerajaan atau kampung halaman inilah yang kemudian dianggap sebagai cikal bakal tradisi mudik yang dikenal saat ini.
Baca Juga: BYD Atow & Premium: Mobil Listrik Murah di Indonesia, Mulai Rp190 Jutaan dengan Bonus Lengkap
Asal Usul Kata Mudik
Meski praktiknya sudah berlangsung sejak lama, istilah “mudik” sendiri baru populer di Indonesia pada sekitar tahun 1970-an.
Secara bahasa, kata mudik memiliki beberapa penjelasan asal-usul. Dalam bahasa Jawa, mudik disebut berasal dari kata “mulih disik” yang berarti pulang terlebih dahulu.
Sementara dalam bahasa masyarakat Betawi, kata mudik diartikan sebagai kembali ke “udik”, yaitu kembali ke daerah asal atau kampung halaman.
Dari dua penjelasan tersebut, makna mudik pada dasarnya merujuk pada aktivitas para perantau yang kembali ke tempat asal mereka setelah lama tinggal di daerah lain.
Baca Juga: Mahindra e2o: Mobil Listrik Murah di Indonesia dengan Harga Setara Dua NMAX
Mudik Lebaran Mulai Populer Sejak 1970-an
Meski akar tradisinya sudah ada sejak zaman kerajaan, fenomena mudik yang identik dengan Lebaran baru berkembang pesat pada awal hingga pertengahan dekade 1970-an.
Pada periode tersebut, Jakarta mengalami perkembangan yang sangat pesat sebagai pusat ekonomi dan pemerintahan. Banyak warga dari berbagai daerah di Indonesia datang ke ibu kota untuk merantau dan mencari pekerjaan.
Para perantau ini umumnya bekerja sepanjang tahun di Jakarta dan hanya memiliki kesempatan libur panjang saat perayaan Idul Fitri. Momen libur Lebaran inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk pulang ke kampung halaman.
Baca Juga: Mobil Listrik Murah untuk Anak Muda: Dari Tata Nano Hingga Mahindra dengan Harga Mulai Rp13 Juta
Seiring waktu, kebiasaan ini berkembang menjadi tradisi besar yang dilakukan oleh jutaan masyarakat Indonesia setiap tahun.
Mudik tidak hanya sekadar perjalanan pulang, tetapi juga menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan keluarga, bersilaturahmi dengan kerabat, serta merayakan hari kemenangan bersama orang-orang terdekat.
Fenomena Sosial yang Terus Bertahan
Kini, tradisi mudik Lebaran telah menjadi fenomena sosial terbesar di Indonesia. Setiap menjelang Idul Fitri, berbagai moda transportasi seperti kereta api, bus, pesawat, hingga kendaraan pribadi dipadati oleh para pemudik.
Baca Juga: Charged Baycat, Motor Listrik dengan Fast Charging 40 Menit dan Jarak Tempuh Hingga 170 Km
Pemerintah bahkan harus menyiapkan berbagai kebijakan khusus untuk mengatur arus mudik agar perjalanan masyarakat tetap aman dan lancar.
Meski zaman telah berubah dan teknologi transportasi semakin berkembang, tradisi mudik tetap menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Indonesia.
Bagi banyak orang, mudik bukan hanya soal perjalanan jauh. Lebih dari itu, mudik adalah simbol kerinduan pada kampung halaman dan momen berharga untuk berkumpul kembali dengan keluarga.
Editor : Axsha Zazhika