TULUNGAGUNG - Sejarah tradisi mudik Lebaran di Indonesia ternyata tidak muncul begitu saja di era modern. Tradisi pulang kampung yang kini identik dengan Idul Fitri itu disebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu, bahkan sejak masa Kerajaan Majapahit.
Setiap menjelang Lebaran, jutaan masyarakat Indonesia melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman. Fenomena mudik ini seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat, khususnya bagi para perantau yang bekerja di kota besar.
Namun, di balik kemacetan panjang di jalan tol, antrean di stasiun, hingga padatnya terminal dan bandara, ada sejarah panjang yang melatarbelakangi tradisi mudik tersebut.
Menariknya, sejarah tradisi mudik Lebaran di Indonesia dipercaya sudah ada sejak zaman kerajaan Nusantara.
Tradisi Mudik Sejak Zaman Majapahit
Beberapa sumber menyebutkan bahwa kebiasaan pulang ke kampung halaman sudah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Namun pada masa itu, mudik tidak selalu berkaitan dengan perayaan hari raya.
Pada era tersebut, masyarakat biasanya pulang ke kampung halaman menjelang musim panen raya. Para perantau yang bekerja di daerah lain akan kembali ke desa asal untuk membantu keluarga sekaligus merayakan hasil panen bersama.
Perjalanan mudik pada masa itu tentu sangat berbeda dibandingkan sekarang. Tidak ada kendaraan bermotor, kereta api, apalagi pesawat. Sebagian besar orang harus berjalan kaki untuk mencapai kampung halaman mereka.
Meski demikian, tradisi pulang ke desa tetap dilakukan karena memiliki makna penting sebagai momen berkumpul dengan keluarga dan masyarakat.
Asal Usul Kata Mudik
Selain sejarahnya, asal-usul kata mudik juga memiliki beberapa versi penjelasan.
Menurut ahli kajian filsafat Jacob Sumardjo, kata mudik berasal dari bahasa Jawa ngoko “mulih dilik” yang berarti pulang sebentar. Makna tersebut merujuk pada para perantau yang hanya pulang sementara sebelum kembali lagi ke tempat mereka bekerja.
Ada pula penjelasan lain dari perspektif budaya Betawi. Sejarawan Betawi Ridwan Saidi menyebutkan bahwa istilah mudik berasal dari kata “menuju udik”, yang berarti menuju daerah hulu atau wilayah selatan.
Pada masa lalu, masyarakat Betawi banyak yang bekerja atau membuka usaha di kawasan pesisir utara. Namun tempat tinggal mereka berada di daerah selatan yang lebih sepi.
Ketika mereka kembali dari wilayah pesisir menuju rumah di selatan, perjalanan tersebut disebut menuju udik atau mudik.
Urbanisasi Membuat Mudik Semakin Besar
Seiring perkembangan zaman, fenomena mudik semakin besar terutama karena tingginya urbanisasi di Indonesia.
Gelombang perpindahan penduduk dari desa ke kota mulai meningkat ketika pemerintah gencar menjalankan program pembangunan. Program ini menciptakan banyak lapangan pekerjaan di kota-kota besar.
Akibatnya, banyak masyarakat dari desa yang merantau ke kota untuk mencari pekerjaan dan meningkatkan taraf hidup.
Ketika hari raya tiba, para perantau tersebut memanfaatkan momen libur panjang untuk kembali ke kampung halaman. Dari sinilah tradisi mudik semakin mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Peran Program Transmigrasi
Selain urbanisasi, program transmigrasi juga ikut mempengaruhi berkembangnya tradisi mudik.
Pada masa kolonial, pemerintah Belanda memindahkan penduduk dari daerah padat untuk bekerja di perkebunan di wilayah lain. Kebijakan ini membuat banyak orang tinggal jauh dari kampung halaman mereka.
Kemudian pada era Orde Baru, program transmigrasi menjadi salah satu program pemerintah yang cukup besar. Sekitar 2,5 juta penduduk dipindahkan dari Pulau Jawa ke berbagai daerah di luar Jawa.
Bagi para transmigran ini, mudik menjadi perjalanan yang jauh lebih panjang. Mereka biasanya harus menggunakan kapal laut atau pesawat terbang untuk kembali ke kampung halaman.
Kereta Api Jadi Transportasi Favorit Pemudik
Untuk masyarakat yang masih berada di Pulau Jawa, perjalanan mudik biasanya menggunakan berbagai jenis kendaraan darat seperti mobil pribadi, bus, sepeda motor, hingga kereta api.
Menariknya, kereta api menjadi salah satu transportasi favorit bagi para pemudik. Hal ini tidak lepas dari sejarah pembangunan jalur kereta oleh pemerintah kolonial Belanda.
Pada awalnya, jaringan kereta api dibangun untuk mengangkut hasil bumi dari berbagai daerah menuju pelabuhan. Namun karena transportasi ini relatif murah dan cepat, kereta api kemudian menjadi pilihan utama masyarakat.
Hingga kini, kereta api tetap menjadi moda transportasi favorit saat mudik Lebaran. Tiket kereta bahkan sering habis jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan.
Tradisi mudik sendiri kini telah menjadi fenomena sosial besar di Indonesia. Meski perjalanan sering diwarnai kemacetan dan kepadatan transportasi, jutaan orang tetap rela menempuh perjalanan jauh demi satu tujuan: pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga saat Lebaran.
Editor : Axsha Zazhika