TULUNGAGUNG - Sejarah tradisi mudik Lebaran di Indonesia ternyata sudah berlangsung sangat lama, bahkan disebut sudah ada jauh sebelum masa Kerajaan Majapahit. Tradisi pulang ke kampung halaman ini kini menjadi fenomena tahunan yang melibatkan jutaan masyarakat setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Setelah sempat dilarang selama dua tahun akibat pandemi Covid-19, pemerintah akhirnya kembali mengizinkan masyarakat untuk melakukan perjalanan mudik pada 2022. Keputusan tersebut disambut antusias oleh masyarakat yang sudah lama menantikan momen pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga.
Bahkan pemerintah memperkirakan jumlah pemudik pada Lebaran 2022 mencapai sekitar 85 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 14 juta pemudik diperkirakan berasal dari wilayah Jabodetabek.
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa tradisi mudik Lebaran di Indonesia telah menjadi bagian penting dari budaya masyarakat, khususnya bagi para perantau yang bekerja di kota besar.
Tradisi Mudik Sudah Ada Sebelum Majapahit
Jika menelusuri sejarahnya, kebiasaan pulang ke kampung halaman sebenarnya sudah dilakukan masyarakat Nusantara sejak lama. Bahkan beberapa sumber menyebutkan tradisi tersebut sudah ada sebelum masa kejayaan Kerajaan Majapahit.
Namun pada masa itu, perjalanan pulang kampung tidak dilakukan secara masif seperti sekarang. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan moda transportasi yang tersedia.
Perjalanan jarak jauh pada masa lalu membutuhkan waktu yang lama dan tidak praktis. Banyak orang harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki atau menggunakan alat transportasi sederhana.
Karena kondisi tersebut, hanya sebagian kecil masyarakat yang rutin melakukan perjalanan pulang kampung saat hari besar keagamaan seperti Idul Fitri.
Selain itu, budaya merantau pada masa tersebut juga belum terlalu luas di masyarakat Nusantara.
Suku Perantau yang Memulai Tradisi Mudik
Sebelum kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara, hanya beberapa kelompok masyarakat yang dikenal memiliki budaya merantau kuat. Di antaranya adalah masyarakat Bugis-Makassar dan Minangkabau dari Sumatera Barat.
Kedua kelompok masyarakat ini dikenal memiliki tradisi merantau untuk berdagang atau mencari penghidupan di wilayah lain.
Ketika Hari Raya Idul Fitri tiba, para perantau tersebut biasanya kembali ke kampung halaman untuk bertemu keluarga dan merayakan hari besar bersama.
Dari kebiasaan tersebut, praktik pulang kampung saat Lebaran mulai dikenal dan kemudian berkembang di masyarakat yang lebih luas.
Mudik Makin Populer Sejak 1960-an
Fenomena mudik secara besar-besaran mulai berkembang setelah Indonesia merdeka, terutama pada sekitar tahun 1960-an.
Pada masa itu, pembangunan di Jakarta dan berbagai kota besar lainnya mulai berkembang pesat. Banyak proyek pembangunan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Situasi tersebut mendorong masyarakat dari daerah kecil dan pedesaan untuk datang ke kota besar mencari pekerjaan dan memperbaiki taraf hidup.
Setelah beberapa tahun tinggal dan bekerja di kota, para perantau mulai merasakan kerinduan terhadap kampung halaman mereka.
Ketika libur Lebaran tiba, mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga.
Dari sinilah muncul fenomena mudik secara massal yang terus berkembang hingga sekarang.
Peran Transportasi dalam Tradisi Mudik
Melihat tingginya mobilitas masyarakat, pemerintah mulai memberikan perhatian terhadap sarana transportasi untuk mendukung perjalanan mudik.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengaktifkan kembali jalur-jalur kereta api peninggalan masa kolonial Belanda.
Kereta api menjadi salah satu moda transportasi penting bagi masyarakat untuk melakukan perjalanan jarak jauh dengan biaya yang relatif terjangkau.
Seiring perkembangan zaman, moda transportasi untuk mudik juga semakin beragam. Selain kereta api, masyarakat mulai menggunakan bus, kapal laut, hingga pesawat terbang.
Sejak sekitar tahun 1980-an, penggunaan kendaraan pribadi seperti mobil dan sepeda motor juga semakin meningkat untuk perjalanan mudik.
Asal Usul Istilah Mudik
Sebelum istilah mudik populer, masyarakat Indonesia biasanya menggunakan istilah “pulang kampung” untuk menggambarkan perjalanan kembali ke daerah asal.
Istilah mudik sendiri mulai populer sekitar tahun 1980-an sebagai sebutan bagi para perantau yang pulang ke kampung halaman.
Dalam bahasa Jawa, mudik sering diartikan sebagai singkatan dari “mulih disik” yang berarti pulang dulu.
Sementara dalam bahasa Betawi, kata mudik berasal dari kata “udik” yang berarti kampung atau daerah asal.
Baca Juga: Daftar Mobil Listrik Murah 2026: Harga Mulai Rp180 Jutaan, Jarak Tempuh Tembus 400 Km!
Seiring waktu, kata “udik” kemudian mengalami perubahan pengucapan menjadi “mudik”, yang kini dikenal luas sebagai istilah pulang kampung saat Lebaran.
Kini, tradisi mudik bukan sekadar perjalanan pulang. Bagi masyarakat Indonesia, mudik telah menjadi simbol kerinduan, kebersamaan keluarga, serta momentum penting untuk mempererat silaturahmi di hari raya.
Editor : Axsha ZazhikaSumber : Tribun Sumsel, youtube