RADAR TULUNGAGUNG - Kesenian Jaranan Sentherewe khas Tulungagung resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Pengakuan ini disambut haru sekaligus bangga oleh para pelaku seni. Terutama yang selama ini menjaga eksistensi kesenian tradisional tersebut.
Seniman Jaranan Sentherewe Tulungagung, Andik Gusdianto menyebut, pengakuan tersebut memiliki makna yang dalam. Bahkan jauh lebih dalam dibanding sekadar sertifikat atau piagam formal.
“Sebagai pelaku seni Jaranan Senterewe, rasanya bangga antara haru dan lega. Pengakuan ini bukan sekadar sertifikat, tapi bentuk validasi bahwa identitas wong Tulungagung itu kuat dengan kesenian tradisi daerahnya,” ujar pria pemilik Sanggar Seni Prana Kesuma Aji ini.
Menurut dia, status WBTB juga menjadi bentuk penghormatan terhadap para leluhur Jaranan Sentherewe. Khususnya yang telah menciptakan gerakan khas Sentherewe yang dikenal dinamis dan energik.
Dia menegaskan, capaian ini bukan hanya milik individu atau kelompok tertentu, melainkan kebanggaan seluruh seniman Jaranan Sentherewe di Tulungagung.
Lebih lanjut, Andik menilai pengakuan sebagai WBTb membawa manfaat konkret bagi para pelaku seni. Salah satunya adalah memperkuat legitimasi bahwa kesenian tersebut merupakan milik masyarakat Tulungagung.
“Ini mencegah klaim sepihak dari pihak luar dan memberikan rasa bangga serta rasa aman bagi pelaku seni dalam berkarya,” jelasnya.
Dia berharap dengan status tersebut pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kelompok-kelompok Jaranan Senterewe. Baik melalui dukungan anggaran, penyediaan alat kesenian, maupun membuka lebih banyak ruang pertunjukan.
Di sisi lain, Andik juga menyoroti tantangan yang dihadapi di era modern. Menurutnya, pengembangan atau kreasi dalam pertunjukan sering kali memicu perbedaan pandangan. Terutama terkait batas antara inovasi dan pelestarian pakem.
“Improvisasi memang penting agar lebih disukai, baik dari segi iringan maupun gerak tari. Tapi kadang ukurannya berbeda-beda, bahkan bisa menimbulkan perdebatan di media digital,” ungkapnya.
Dia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara inovasi dan pelestarian. Menurutnya, gerakan asli Senterewe yang dinamis dan agresif harus tetap dipertahankan agar tidak kehilangan jati diri.
“Jangan sampai larut menjadi sekadar tari latar musik populer yang kehilangan identitas aslinya. Ini jadi tugas kita bersama,” tandasnya. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri