Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

5 Mitos Jawa Paling Seram yang Masih Dipercaya, dari Burung Gagak hingga Larangan Potong Kuku Malam Hari

Divka Vance Yandriana • Minggu, 24 Mei 2026 | 19:12 WIB
5 mitos Jawa paling seram masih dipercaya, dari burung gagak pembawa kabar buruk hingga larangan potong kuku malam hari.
5 mitos Jawa paling seram masih dipercaya, dari burung gagak pembawa kabar buruk hingga larangan potong kuku malam hari.

JAKARTA - Mitos Jawa paling seram masih dipercaya masyarakat hingga sekarang, meski hidup di era modern. Mulai dari burung gagak pembawa kabar buruk, larangan bersiul malam hari, hingga pantangan potong kuku saat malam, semua dipercaya memiliki makna mistis sekaligus pesan kehidupan yang diwariskan turun-temurun.

Masyarakat Jawa dikenal memiliki budaya dan tradisi yang sangat kuat. Tidak hanya adat istiadat, berbagai mitos Jawa juga masih hidup di tengah masyarakat dan sering dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mitos merupakan cerita tentang dewa, pahlawan, atau asal-usul suatu bangsa yang mengandung penafsiran mengenai alam semesta dan manusia dengan unsur gaib. Di Pulau Jawa, mitos berkembang menjadi bagian dari identitas budaya yang terus diwariskan lintas generasi.

Baca Juga: Sejarah Tulungagung Terungkap, dari Kerajaan Medang hingga Majapahit, Ternyata Pernah Jadi Penyelamat Raja Jawa

Burung Gagak dan Mitos Celaka Setelah Menabrak Kucing

Salah satu mitos Jawa paling terkenal adalah kemunculan burung gagak di atas rumah. Burung berwarna hitam itu sering dikaitkan dengan kabar duka atau pertanda buruk bagi penghuni rumah.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, gagak yang bertengger di halaman atau terbang mengitari rumah dipercaya menjadi pertanda akan ada anggota keluarga yang sakit bahkan meninggal dunia. Karena itu, suara atau kehadiran burung gagak sering membuat warga merasa waswas.

Selain burung gagak, masyarakat Jawa juga mempercayai mitos celaka setelah menabrak kucing. Seseorang yang tanpa sengaja menabrak kucing saat berkendara dipercaya akan mengalami kesialan jika tidak segera menolong atau meminggirkan hewan tersebut.

Baca Juga: Asal Usul Tulungagung Terungkap, Dari Rawa Bonorowo hingga Legenda Menak Sopal dan Baru Klinting yang Penuh Misteri

Meski terdengar mistis, mitos ini sebenarnya mengandung pesan moral agar pengendara lebih berhati-hati di jalan dan memiliki rasa empati terhadap makhluk hidup.

“Nilai positif yang bisa diambil adalah pengendara harus selalu waspada dan peduli terhadap hewan,” demikian penjelasan dalam tayangan video tersebut.

Kepercayaan seperti ini masih banyak ditemukan di desa-desa Jawa yang memegang teguh tradisi leluhur. Bahkan sebagian masyarakat menganggap mengabaikan mitos dapat mendatangkan nasib buruk.

Baca Juga: GP Italia 2026 Moto3 Mugello: HRC Siapkan Senjata Baru untuk Feda Ega Pratama, Rossi Ikut Buka Suara

Duduk di Pintu dan Siulan Malam Hari Dianggap Pamali

Mitos Jawa lainnya yang cukup populer adalah larangan duduk di depan pintu bagi anak gadis. Konon, perempuan yang sering duduk di tengah pintu akan sulit mendapatkan jodoh.

Kepercayaan ini sangat dikenal di kalangan masyarakat Jawa zaman dahulu. Namun di balik cerita mistis tersebut, tersimpan ajaran tentang tata krama dan sopan santun.

Seseorang yang duduk di depan pintu dianggap menghalangi jalan keluar masuk orang lain sehingga dinilai kurang sopan. Karena itu, larangan tersebut dijadikan cara halus untuk mendidik anak-anak perempuan agar menjaga etika.

Selain itu, masyarakat Jawa juga percaya bahwa bersiul di malam hari dapat memanggil setan atau makhluk halus. Aktivitas bersiul yang terdengar biasa bagi sebagian orang justru dianggap pamali jika dilakukan setelah malam tiba.

Kepercayaan tersebut berkembang karena malam dianggap sebagai waktu yang sakral dan identik dengan suasana sunyi. Siulan keras pada malam hari dinilai dapat mengganggu ketenangan warga sekitar.

Tidak sedikit orang tua Jawa yang masih melarang anak-anaknya bersiul pada malam hari karena takut mendatangkan hal-hal mistis.

“Terlepas dari benar atau tidaknya, larangan bersiul malam hari sebenarnya mengajarkan masyarakat untuk menjaga ketenangan lingkungan,” jelas narator video.

Larangan Potong Kuku Malam Hari Masih Dipercaya

Mitos lain yang sangat populer di Jawa adalah larangan memotong kuku pada malam hari. Banyak orang tua percaya aktivitas tersebut bisa mendatangkan kesialan atau keburukan bagi pelakunya.

Namun secara logika, mitos ini muncul pada masa ketika penerangan rumah masih minim. Pada zaman dahulu, masyarakat hanya mengandalkan lampu minyak atau lilin sehingga memotong kuku di malam hari berisiko melukai jari.

Karena itulah, larangan tersebut diwariskan turun-temurun dalam bentuk mitos agar masyarakat lebih berhati-hati.

Menariknya, berbagai mitos Jawa ini tidak hanya bertahan di pedesaan, tetapi juga masih dipercaya sebagian masyarakat perkotaan hingga sekarang. Meski tidak semua orang mempercayai unsur mistisnya, banyak yang menganggap mitos sebagai bagian dari warisan budaya dan nasihat kehidupan.

Di balik kisah menyeramkan yang melekat, mitos Jawa sebenarnya menyimpan banyak pesan moral tentang kehati-hatian, tata krama, hingga penghormatan terhadap lingkungan dan sesama makhluk hidup.

Editor : Divka Vance Yandriana
#mitos Jawa kuno #mitos jawa #mitos jawa yang dipercaya