Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Guru Sejati Ternyata Bukan Sosok Manusia, Ini Rahasia Olah Roso, Tirakat, dan Semedi dalam Filsafat Jawa yang Jarang Dipahami

Muhamad Ahsanul Wildan • Sabtu, 13 Juni 2026 | 18:20 WIB
Guru sejati dalam filsafat Jawa ternyata adalah hati nurani yang jernih melalui olah roso dan tirakat. (Ilustrasi Gemini AI)
Guru sejati dalam filsafat Jawa ternyata adalah hati nurani yang jernih melalui olah roso dan tirakat. (Ilustrasi Gemini AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Konsep guru sejati dalam filsafat Jawa kembali menjadi perhatian setelah dibahas dalam sebuah kajian spiritual yang mengupas hubungan antara hati nurani, olah roso, dan perjalanan batin manusia menuju Tuhan.

Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa guru sejati bukanlah sosok manusia tertentu, melainkan suara hati nurani yang telah jernih dan mampu menangkap kehendak Tuhan.

Untuk menemukan guru sejati, seseorang harus menempuh tiga jalan utama.

Pertama adalah tazkiyatun nafs atau penyucian hati dari berbagai sifat negatif seperti iri, dengki, benci, dan kesombongan. Sifat-sifat tersebut dianggap sebagai penghalang yang membuat manusia sulit melihat kebenaran secara jernih.

Langkah kedua adalah tirakat atau laku prihatin. Dalam tradisi Jawa, tirakat dimaknai sebagai latihan pengendalian diri melalui pengurangan kesenangan duniawi, seperti menjaga pola makan, mengendalikan hawa nafsu, hingga melatih kesabaran.

Tujuannya bukan sekadar menahan diri, tetapi membentuk karakter yang lebih kuat dan terkendali.

Sementara itu, jalan ketiga adalah olah roso. Konsep ini menjadi inti dalam perjalanan menemukan guru sejati.

Olah roso dipahami sebagai proses menajamkan kesadaran batin agar manusia mampu memahami makna di balik berbagai peristiwa kehidupan.

Baca Juga: Siapa Veda Ega Pratama? Kisah Pembalap Muda Indonesia yang Mencuri Perhatian Dunia dan Digadang-Gadang Jadi Bintang Masa Depan

Olah Roso dan Kesadaran Batin

Dalam filsafat Jawa, roso tidak hanya berarti perasaan atau emosi. Roso memiliki dimensi yang lebih luas dan mendalam. Setidaknya terdapat tiga jenis roso yang harus dikenali.

Pertama adalah roso pribadi, yaitu kemampuan mengenali kondisi batin diri sendiri. Seseorang mampu menyadari ketika sedang marah, kecewa, takut, atau tersinggung. Kesadaran semacam ini dinilai penting karena menjadi pintu awal memahami diri.

Kedua adalah roso sosial, yakni kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Bentuknya berupa empati dan kepedulian terhadap sesama.

Sedangkan yang paling tinggi adalah roso ilahi, yaitu kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Pada tahap ini seseorang merasa selalu diawasi dan dibimbing oleh Allah sehingga tidak mudah melakukan kesalahan.

Tahapan Menemukan Guru Sejati

Perjalanan olah roso memiliki tiga tahapan penting. Tahap pertama disebut srawung roso, yaitu mengenali dan memahami berbagai rasa yang muncul dalam diri.

Tahap kedua adalah seleh roso atau menerima serta melepaskan perasaan yang hadir. Kemarahan, kesedihan, maupun kekecewaan diakui keberadaannya tanpa harus menjadi beban yang terus dipikul.

Setelah itu seseorang memasuki tahap manunggal roso. Pada fase ini hati yang telah bersih mulai selaras dengan nilai-nilai kebaikan dan kehendak Tuhan. Dalam istilah Jawa dikenal sebagai nyawiji, yaitu bersatunya kehendak manusia dengan kehendak Ilahi.

Menurut pemateri, kondisi tersebut membuat seseorang mampu mendengar suara hati nurani yang jernih dan terbebas dari berbagai kepentingan pribadi.

Semedi dan Jalan Menuju Kebijaksanaan

Sebagai sarana olah roso, filsafat Jawa mengenal praktik semedi. Semedi dipahami sebagai upaya mencari keheningan agar seseorang dapat mendengarkan suara batinnya sendiri.

Dalam kondisi hening, berbagai kegaduhan pikiran perlahan mereda sehingga hati menjadi lebih tenang. Dari sinilah muncul kejernihan yang memungkinkan seseorang menangkap petunjuk kehidupan secara lebih mendalam.

Buah dari proses panjang tersebut adalah kewaskitaan atau kebijaksanaan batin. Orang yang waskito digambarkan memiliki intuisi tajam, memahami makna di balik peristiwa, serta mampu melihat persoalan dengan lebih jernih.

Mereka juga memiliki ciri khas berupa sikap rendah hati, ramah, penuh kasih sayang, tidak haus pujian, serta teguh dalam memegang kebenaran. Kehadirannya mampu menenangkan orang lain tanpa perlu banyak berbicara.

Kajian tersebut menegaskan bahwa guru sejati sebenarnya telah ada dalam diri setiap manusia. Namun untuk menemukannya diperlukan proses pembersihan hati, pengendalian diri, serta latihan batin yang konsisten. Dengan demikian, hati nurani dapat menjadi kompas yang membimbing manusia menuju kehidupan yang lebih bijaksana dan dekat dengan Tuhan.

Baca Juga: Siapa Veda Ega Pratama? Kisah Pembalap Muda Indonesia yang Mencuri Perhatian Dunia dan Digadang-Gadang Jadi Bintang Masa Depan

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#guru sejati #olah roso #semedi #Tirakat #Filsafat Jawa