Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Banyak Anak Muda Mulai Lupa Unggah-Ungguh Basa Jawa, Begini Cara Mudah Memahami Ngoko hingga Krama Inggil

Muhamad Ahsanul Wildan • Senin, 15 Juni 2026 | 19:48 WIB
Unggah-ungguh basa Jawa kembali dipelajari generasi muda. Kenali ngoko, krama madya, dan krama inggil. (Ilustrasi Gemini AI)
Unggah-ungguh basa Jawa kembali dipelajari generasi muda. Kenali ngoko, krama madya, dan krama inggil. (Ilustrasi Gemini AI)

RADAR TULUNGAGUNG - Unggah-ungguh basa Jawa menjadi salah satu warisan budaya yang terus dijaga keberlangsungannya di tengah derasnya pengaruh bahasa modern.

Namun, tidak sedikit generasi muda yang masih kesulitan membedakan penggunaan bahasa ngoko, krama madya, maupun krama inggil dalam percakapan sehari-hari.

Padahal, unggah-ungguh basa Jawa merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Jawa.

Melalui sistem tingkatan bahasa tersebut, seseorang dapat menunjukkan rasa hormat, kesopanan, dan penghargaan kepada lawan bicara.

Pemahaman terhadap unggah-ungguh basa Jawa juga dinilai menjadi salah satu cara efektif untuk melestarikan budaya daerah agar tidak tergerus perkembangan zaman.

Baca Juga: Mobil Listrik Bekas Terbaru 2026 Bikin Geger! Harga Anjlok Drastis, Ioniq 5 hingga BYD Seal Jadi Rebutan di Pasar Indonesia

Bahasa Jawa Memiliki Tingkatan yang Berbeda

Dalam praktiknya, bahasa Jawa terbagi menjadi beberapa tingkatan yang digunakan sesuai kondisi dan lawan bicara. Tingkatan pertama adalah bahasa ngoko yang biasa digunakan dalam komunikasi santai.

Bahasa ngoko sering dipakai saat berbicara dengan teman dekat, saudara, atau orang yang memiliki hubungan akrab. Karena sifatnya yang tidak formal, bahasa ini menjadi bentuk komunikasi yang paling sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Di atas ngoko terdapat krama madya. Tingkatan bahasa ini digunakan ketika seseorang ingin menunjukkan rasa hormat yang lebih tinggi dibandingkan bahasa ngoko.

Krama madya banyak digunakan saat berinteraksi dengan orang yang baru dikenal atau orang yang usianya setara namun ingin diperlakukan secara lebih sopan.

Krama Inggil Jadi Simbol Kesopanan Orang Jawa

Tingkatan tertinggi dalam bahasa Jawa adalah krama inggil. Bahasa ini digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, guru, tokoh masyarakat, maupun atasan.

Krama inggil tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi simbol penghormatan yang telah mengakar dalam budaya Jawa selama bertahun-tahun.

Karena itu, banyak keluarga Jawa yang masih mengajarkan penggunaan krama inggil kepada anak-anak mereka sejak usia dini agar nilai kesopanan tetap terjaga.

Kosakata Dasar yang Perlu Diketahui

Untuk memudahkan pemahaman, terdapat sejumlah kosakata yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Misalnya, kata "permisi" dalam bahasa ngoko dikenal dengan istilah "amit". Pada tingkatan krama digunakan ungkapan "nuwun sewu" yang lebih sopan.

Sementara kata "silakan" dapat diucapkan "monggo" atau "sumangga" sesuai konteks dan tingkat penghormatan kepada lawan bicara.

Perbedaan juga terlihat pada penggunaan kata ganti orang. Kata "aku" berubah menjadi "kula" atau "kawula", sedangkan kata "kamu" dapat berubah menjadi "sampeyan" atau "panjenengan" pada tingkatan yang lebih halus.

Selain itu, kata "dia" yang biasa disebut "dewe'e" dalam bahasa ngoko memiliki padanan lebih sopan yaitu "piyambakipun".

Melalui pemahaman kosakata dan tingkatan bahasa tersebut, generasi muda diharapkan semakin mudah mempraktikkan unggah-ungguh basa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Upaya sederhana ini menjadi langkah penting untuk menjaga eksistensi bahasa dan budaya Jawa di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

Baca Juga: Mobil Listrik Bekas Terbaru 2026 Bikin Geger! Harga Anjlok Drastis, Ioniq 5 hingga BYD Seal Jadi Rebutan di Pasar Indonesia

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#unggah-ungguh basa Jawa #krama inggil #generasi muda #bahasa jawa #budaya jawa