Radar Tulungagung- Kepercayaan tentang weton paling kebal santet kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat yang masih menjaga tradisi Jawa. Dalam budaya leluhur, weton dianggap memiliki arti khusus karena merupakan gabungan antara hari lahir dan pasaran Jawa yang dipercaya menggambarkan karakter serta energi seseorang.
Dalam berbagai pembahasan primbon Jawa, terdapat sejumlah weton yang disebut memiliki daya tahan lebih kuat terhadap gangguan energi negatif seperti santet, teluh, guna-guna, maupun kiriman gaib lainnya. Meski demikian, kepercayaan tersebut tetap merupakan bagian dari budaya dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Menurut perhitungan tradisional, tidak semua weton memiliki karakter energi yang sama. Dari 35 kombinasi weton yang dikenal dalam kalender Jawa, beberapa di antaranya dianggap mempunyai keistimewaan tertentu karena masuk dalam hitungan khusus.
Hitungan Katur Papat yang Menjadi Dasar Perhitungan
Dalam primbon Jawa dikenal istilah katur papat. Perhitungan ini dilakukan dengan membagi jumlah neptu weton dengan angka tertentu untuk melihat hasil akhirnya.
Salah satu hasil yang sering dibahas adalah ketika pembagian tersebut menghasilkan sisa satu. Dalam istilah primbon, hitungan ini disebut “Kolo”. Weton yang masuk kategori tersebut dipercaya memiliki sifat kuat, ucapan yang berpengaruh, serta memiliki ketahanan batin.
Namun, pemaknaan weton tetap bergantung pada keyakinan masing-masing. Tidak semua orang dengan weton tertentu memiliki pengalaman hidup yang sama.
Senin Legi, Disebut Memiliki Aura Kuat
Weton pertama yang sering disebut adalah Senin Legi. Dalam perhitungan Jawa, Senin memiliki nilai empat dan Legi bernilai lima sehingga jumlah neptunya sembilan.
Karena masuk dalam hitungan sisa satu, Senin Legi dipercaya memiliki energi yang kuat. Pemilik weton ini biasanya digambarkan sebagai pribadi yang tenang, sabar, dan memiliki etos kerja tinggi.
Dalam cerita masyarakat Jawa, karakter tersebut dianggap membuat seseorang lebih mampu menghadapi tekanan dan berbagai persoalan kehidupan.
Minggu Wage Punya Intuisi Tajam
Berikutnya adalah Minggu Wage. Weton ini juga memiliki jumlah neptu sembilan dan masuk dalam hitungan yang sama.
Minggu Wage dipercaya memiliki sifat kalem, tidak mudah panik, serta memiliki kepekaan tinggi terhadap lingkungan. Sebagian masyarakat menghubungkan sifat tersebut dengan kemampuan menghadapi hal-hal yang tidak terlihat.
Karena itu, Minggu Wage sering disebut sebagai salah satu weton yang memiliki perlindungan kuat dalam pembahasan spiritual Jawa.
Sabtu Wage dan Jumat Pon Termasuk Weton Kuat
Sabtu Wage menjadi weton lain yang masuk daftar. Dengan nilai neptu 13, weton ini dipercaya memiliki karakter tegas dan daya juang tinggi.
Selain itu ada Jumat Pon yang juga memiliki nilai 13. Weton ini sering digambarkan sebagai pribadi yang kuat dalam menghadapi tantangan.
Meski disebut memiliki energi besar, setiap weton tetap mempunyai sisi positif dan kekurangan masing-masing.
Lima Weton Lain yang Sering Dibahas
Selain tiga weton tersebut, beberapa weton lain yang sering dikaitkan dengan kekuatan spiritual adalah Kamis Legi, Minggu Kliwon, Senin Pahing, Sabtu Kliwon, dan Kamis Pahing.
Weton-weton tersebut dipercaya mempunyai karakter unik. Ada yang dianggap memiliki wibawa tinggi, intuisi kuat, hingga kemampuan menyelesaikan masalah dengan cepat.
Dalam istilah Jawa, orang-orang dengan hitungan tertentu disebut mampu “nyangking gawe”, yaitu mampu membawa dan menyelesaikan tanggung jawab dengan baik.
Primbon Jawa Sebagai Warisan Budaya
Pembahasan mengenai weton paling kebal santet dan pemilik energi kuat tidak terlepas dari tradisi masyarakat Jawa yang sudah berkembang sejak lama.
Primbon bukanlah penentu mutlak masa depan seseorang, melainkan bagian dari pengetahuan tradisional yang berisi filosofi kehidupan.
Pada akhirnya, kekuatan seseorang tidak hanya dilihat dari weton kelahiran, tetapi juga dari usaha, doa, perilaku, dan cara menjalani kehidupan.
Masyarakat diharapkan tetap menghargai budaya leluhur tanpa menjadikan perbedaan kepercayaan sebagai alasan untuk saling merendahkan.
Editor : Maylanni Diana Fitri