Radar Tulungagung – Weton paling kebal santet kembali menjadi perbincangan di kalangan masyarakat yang masih mempercayai hitungan Primbon Jawa. Dalam kepercayaan Jawa, terdapat sejumlah weton yang diyakini memiliki perlindungan lebih kuat terhadap serangan santet, sihir, teluh, guna-guna, hingga berbagai bentuk energi negatif.
Pembahasan mengenai weton paling kebal santet ini berasal dari perhitungan Primbon Jawa yang dikenal dengan istilah “Kitab Papat”. Perhitungan tersebut dilakukan dengan membagi jumlah neptu weton dengan angka empat. Weton yang menghasilkan sisa satu disebut masuk dalam kategori “Kol”, yakni golongan yang dipercaya memiliki ketahanan spiritual lebih kuat dibanding weton lainnya.
Menurut kepercayaan Primbon, pemilik weton kategori Kol tidak sepenuhnya kebal terhadap santet. Namun, mereka dianggap lebih sulit dipengaruhi oleh kiriman energi negatif karena memiliki karakter, aura, dan kekuatan batin tertentu yang membuat serangan gaib tidak mudah menembus pertahanan mereka.
Perhitungan Weton Kategori Kol
Dalam Primbon Jawa, hasil pembagian neptu weton menjadi empat kategori, yaitu Kol, Kudu, Menara, dan Singa. Dari keempat kategori tersebut, Kol atau sisa satu dipercaya memiliki kemampuan paling baik dalam menghadapi gangguan spiritual.
Selain dianggap lebih kuat terhadap santet dan sihir, pemilik weton kategori ini juga diyakini memiliki kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan baik, mudah mencapai tujuan, serta mampu menghadapi berbagai persoalan hidup.
Daftar 9 Weton Paling Kebal Santet
Berikut sembilan weton yang masuk kategori Kol menurut perhitungan Primbon Jawa:
1. Senin Legi
Senin memiliki nilai neptu 4 dan Legi bernilai 5 sehingga total neptunya 9. Saat dibagi empat menghasilkan sisa satu. Pemilik weton ini dikenal tenang, pekerja keras, serta gemar melakukan tirakat.
2. Minggu Wage
Neptu Minggu sebesar 5 dan Wage 4 sehingga totalnya 9. Weton ini dipercaya memiliki intuisi tajam, peka terhadap lingkungan sekitar, serta mampu merasakan perubahan energi di sekitarnya.
3. Sabtu Wage
Sabtu bernilai 9 dan Wage bernilai 4 sehingga total neptunya 13. Weton ini masuk kategori Kol dan diyakini cukup kuat menghadapi kiriman santet maupun teluh.
4. Jumat Pon
Jumat memiliki neptu 6 sedangkan Pon bernilai 7 sehingga totalnya 13. Menurut Primbon, pemilik weton ini memiliki ketahanan terhadap energi negatif, meskipun disebut memiliki titik lemah pada bagian perut dan kepala.
5. Kamis Legi
Kamis bernilai 8 dan Legi bernilai 5 sehingga menghasilkan neptu 13. Weton ini juga termasuk golongan yang dipercaya memiliki perlindungan spiritual cukup kuat.
6. Minggu Kliwon
Minggu dengan nilai 5 dan Kliwon bernilai 8 menghasilkan neptu 13. Dalam Primbon, weton ini sering dikaitkan dengan kemampuan bertahan dari pengaruh sihir, pelet, maupun guna-guna.
7. Senin Pahing
Senin bernilai 4 dan Pahing bernilai 9 sehingga total neptunya 13. Weton ini masuk kategori Kol dan dipercaya memiliki energi batin yang kuat.
8. Sabtu Kliwon
Sabtu bernilai 9 dan Kliwon bernilai 8 sehingga total neptunya mencapai 17. Setelah dibagi empat tetap menghasilkan sisa satu, sehingga masuk dalam kelompok weton paling kebal santet.
9. Kamis Pahing
Kamis memiliki neptu 8 dan Pahing bernilai 9 sehingga totalnya 17. Weton ini menjadi daftar terakhir yang disebut memiliki perlindungan lebih kuat terhadap gangguan energi negatif.
Kelebihan Pemilik Weton Kategori Kol
Selain dikenal sebagai weton paling kebal santet, pemilik kategori Kol juga diyakini mempunyai sejumlah kelebihan lain. Mereka disebut lebih mudah menyelesaikan pekerjaan, mampu mengatasi berbagai tantangan, serta memiliki peluang lebih besar untuk mencapai keberhasilan.
Dalam istilah Jawa dikenal ungkapan “bisa nyangking gawe”, yang berarti mampu menuntaskan pekerjaan hingga selesai. Karakter tersebut membuat pemilik weton kategori Kol sering dianggap memiliki mental kuat dan tidak mudah menyerah saat menghadapi masalah.
Meski demikian, kepercayaan mengenai weton paling kebal santet ini merupakan bagian dari tradisi dan budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Kebenarannya tidak dapat dibuktikan secara ilmiah dan lebih banyak dipahami sebagai warisan kearifan lokal yang masih dipercaya sebagian masyarakat hingga saat ini.
Editor : Maylanni Diana Fitri