Radar Tulungagung – Kisah mengejutkan tentang Pesugihan Nyi Blorong kembali menjadi perbincangan setelah seorang perempuan bernama Dewi membagikan pengalaman hidupnya yang mengaku berhasil melunasi utang hingga Rp1,1 miliar melalui ritual gaib di kawasan Pantai Selatan.
Cerita tersebut bermula ketika usaha furniture yang dijalankannya mengalami kehancuran. Dewi mengaku sempat berada di puncak kesuksesan pada tahun 2006 dengan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Namun, keadaan berubah drastis setelah suaminya mengajak terlibat dalam proyek bisnis properti yang belakangan diketahui fiktif.
Akibat proyek tersebut, Dewi harus menanggung beban utang mencapai Rp1,1 miliar. Kondisi semakin memburuk ketika usaha furniture yang menjadi sumber penghasilannya mengalami penurunan omzet dan suaminya dikabarkan memiliki wanita lain.
Dalam kondisi tertekan dan tidak menemukan jalan keluar, Dewi mengaku diperkenalkan oleh seorang teman kepada seorang sesepuh yang disebut mampu membantu menyelesaikan masalah keuangan melalui Pesugihan Nyi Blorong.
Terjerat Utang Miliaran Rupiah
Menurut pengakuannya, seluruh aset yang dimiliki perlahan habis dijual untuk menutupi kewajiban pembayaran pinjaman. Namun jumlah utang yang besar membuatnya tidak mampu bertahan.
Setiap hari ia harus menghadapi penagih utang yang datang ke rumah. Sementara sang suami semakin jarang pulang dan tidak memberikan kejelasan mengenai proyek yang dijalankan.
“Waktu itu saya benar-benar bingung. Semua jalan seperti tertutup. Saya hanya berpikir bagaimana caranya utang itu bisa lunas,” ungkapnya.
Dalam pertemuan dengan seorang sesepuh, Dewi ditawari ritual khusus yang diyakini dapat mendatangkan kekayaan secara instan. Ia diminta menyiapkan sejumlah sesajen dan menjalani prosesi pada malam tertentu.
Ritual Tengah Malam di Pantai Selatan
Ritual pertama dilakukan pada malam Jumat Kliwon. Dewi dibawa ke lokasi yang berada di kawasan Pantai Selatan dan dikelilingi hutan bambu serta medan yang sepi.
Di tempat itu ia diminta membaca amalan tertentu sambil menunggu hingga tengah malam. Namun ritual pertama disebut gagal karena dirinya mengaku ketakutan dan terus menyebut nama Allah ketika melihat berbagai penampakan menyeramkan.
Ia mengaku melihat sosok besar bertanduk, mata merah menyala, serta makhluk berbadan ular yang muncul di tengah terpaan angin kencang.
Meski mengalami ketakutan luar biasa hingga pingsan, Dewi tetap bersikeras melanjutkan ritual kedua karena keinginannya untuk melunasi utang.
Dua minggu kemudian, ritual kembali dilakukan. Kali ini ia mengaku melihat suasana yang berbeda. Terdengar suara gamelan, keramaian seperti pasar, hingga kemunculan sosok ular bermahkota yang disebut sebagai perwujudan Nyi Blorong.
“Saya hanya diminta meminta rezeki sebanyak-banyaknya,” katanya.
Enam Karung Misterius
Usai ritual kedua selesai, Dewi dibawa ke sebuah ruangan khusus. Di sana ia diperlihatkan enam karung yang disebut sebagai hasil ritual.
Sesepuh yang membimbingnya hanya memperbolehkan mengambil satu karung. Ketika dibuka di rumah, Dewi mengaku terkejut karena karung tersebut berisi uang tunai dalam jumlah besar.
Yang membuatnya semakin heran, jumlah uang tersebut disebut sesuai dengan nominal utang yang harus dibayarkan, yakni Rp1,1 miliar.
Selama satu minggu berikutnya, uang itu digunakan untuk melunasi seluruh kewajiban yang selama ini membebaninya.
Hidup Tidak Langsung Tenang
Meski utang berhasil lunas, Dewi mengaku tidak memperoleh ketenangan yang diharapkan. Beberapa waktu kemudian ia mendatangi kembali rumah sesepuh tersebut dengan tujuan meminta modal usaha.
Namun sesampainya di lokasi, ia mendapat kabar bahwa sang sesepuh telah meninggal dunia tidak lama setelah ritual dilakukan.
Kabar tersebut membuatnya ketakutan. Ia kemudian meminta penjelasan kepada seorang ahli spiritual yang menyebut bahwa praktik pesugihan selalu memiliki konsekuensi.
Tak lama setelah itu, kondisi kesehatan Dewi menurun drastis. Ia mengaku mengalami kelumpuhan selama beberapa tahun dan harus menjalani masa pemulihan yang panjang.
Kini, setelah bertobat dan kembali menjalani hidup secara normal, Dewi mengaku menyesali keputusan yang pernah diambilnya.
“Saya tidak menyarankan siapa pun melakukan pesugihan. Kalau ingin kaya, bekerjalah dengan cara yang halal dan nyata,” ujarnya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa jalan pintas menuju kekayaan sering kali menyimpan risiko besar yang tidak terlihat di awal.