Radar Tulungagung – Kisah mistis tentang Pesugihan Nyi Blorong kembali mencuri perhatian publik. Seorang wanita bernama Dewi mengaku pernah menjalani ritual gaib di kawasan Pantai Selatan setelah usahanya bangkrut dan terlilit utang hingga Rp1,1 miliar.
Pengakuan tersebut bermula dari perjalanan hidupnya yang sempat berada di titik terendah. Dewi yang sebelumnya sukses menjalankan usaha furniture mengaku kehilangan hampir seluruh aset yang dimilikinya akibat proyek bisnis yang gagal dan masalah rumah tangga yang menghantam kehidupannya secara bersamaan.
Saat itu, usaha furniture yang dikelolanya mampu menghasilkan omzet ratusan juta rupiah per bulan. Namun semuanya berubah ketika sang suami mengajak berinvestasi pada proyek properti yang disebut-sebut menjanjikan keuntungan besar.
Alih-alih memperoleh keuntungan, proyek tersebut justru tidak memberikan hasil apa pun. Dana ratusan juta rupiah yang telah dikeluarkan menghilang tanpa kejelasan. Kondisi semakin sulit ketika bisnis furniture mengalami penurunan drastis dan tagihan utang terus menumpuk.
"Saya benar-benar tertekan. Setiap hari ada orang datang menagih. Saya bahkan takut pulang ke rumah," ungkap Dewi dalam pengakuannya.
Bertemu Sosok yang Menawarkan Jalan Pintas
Di tengah keputusasaan, Dewi bertemu seorang teman lama yang menawarkan solusi tidak biasa. Temannya mengajak bertemu seorang sesepuh yang diyakini memiliki kemampuan spiritual untuk membantu menyelesaikan masalah ekonomi.
Dalam pertemuan tersebut, Dewi mengaku ditawari sebuah ritual yang dipercaya dapat mendatangkan kekayaan secara instan.
Tanpa berpikir panjang, ia menerima tawaran itu. Fokusnya saat itu hanya satu, yakni melunasi seluruh utang yang membelit kehidupannya.
"Saya sudah tidak memikirkan apa-apa lagi. Yang ada di pikiran saya hanya bagaimana utang itu bisa lunas," katanya.
Ritual di Tengah Hutan Pantai Selatan
Ritual pertama dilakukan pada malam Jumat Kliwon di kawasan Pantai Selatan. Sebelum ritual dimulai, Dewi menjalani serangkaian prosesi seperti mandi bunga, pembacaan mantra, dan penyediaan sesajen.
Saat tengah malam tiba, ia ditinggalkan sendirian di lokasi yang disebut berada di kawasan hutan dekat pantai.
Dalam suasana gelap dan sunyi, Dewi mengaku mulai melihat berbagai penampakan menyeramkan. Mulai dari sosok bertanduk bermata merah hingga makhluk berbadan ular yang muncul di sekitarnya.
Karena ketakutan, ritual pertama disebut gagal. Namun hal itu tidak membuatnya mundur.
Dua minggu kemudian, ritual kedua kembali dilakukan.
Pada ritual kedua inilah Dewi mengaku mengalami kejadian yang sulit dilupakan. Ia mendengar suara gamelan, keramaian seperti pasar malam, hingga kemunculan sosok ular bermahkota yang dipercaya sebagai Nyi Blorong.
Satu Karung Berisi Uang
Setelah ritual selesai, Dewi dibawa ke sebuah ruangan oleh sang sesepuh. Di dalam ruangan tersebut terdapat enam karung yang disebut sebagai hasil ritual.
Menariknya, ia hanya diperbolehkan mengambil satu karung.
Sesampainya di rumah, rasa penasaran membuat Dewi langsung membuka karung tersebut. Ia mengaku terkejut karena menemukan tumpukan uang dalam jumlah sangat besar.
Setelah dihitung, nominal uang yang ada di dalam karung disebut sesuai dengan jumlah utangnya, yakni Rp1,1 miliar.
Uang tersebut kemudian digunakan seluruhnya untuk membayar utang tanpa menyisakan sedikit pun untuk kebutuhan pribadi.
Penyesalan Datang Belakangan
Meski berhasil terbebas dari utang, hidup Dewi tidak langsung berjalan normal. Beberapa bulan setelah ritual, ia kembali mendatangi rumah sang sesepuh dengan tujuan meminta bantuan modal usaha.
Namun, ia justru mendapat kabar bahwa sesepuh tersebut telah meninggal dunia.
Peristiwa itu membuat Dewi mulai merasa takut dan menyesali keputusan yang pernah diambilnya.
Tak lama kemudian, kondisi kesehatannya menurun drastis. Ia mengaku mengalami sakit berkepanjangan hingga lumpuh selama beberapa tahun.
Menurutnya, masa-masa tersebut menjadi titik balik untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Kini Dewi memilih kembali membangun hidup melalui usaha yang dijalankan secara normal. Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak tergoda mencari jalan pintas untuk memperoleh kekayaan.
"Kalau ingin berhasil, bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Jangan mencari cara instan karena dampaknya bisa sangat berat," pesannya.
Editor : Maylanni Diana Fitri