Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bikin Kiai Sepuh Takzim! Karomah Kasyaf Gus Saladin, Ulama Nyentrik Berkuncit yang Mampu Membaca Kesucian Lahir Batin Santri

Maylanni Diana Fitri • Rabu, 24 Juni 2026 | 22:05 WIB
Menguak karomah dan makrifat nyata Gus Saladin sejak masa kecil. Kisah selamat dari banjir Tulungagung hingga rahasia rambut kuncit sang ulama.(pinterest)
Menguak karomah dan makrifat nyata Gus Saladin sejak masa kecil. Kisah selamat dari banjir Tulungagung hingga rahasia rambut kuncit sang ulama.(pinterest)

 

Radar Tulungagung – Khazanah kisah spiritual para tokoh pemuka agama di tanah Jawa selalu menyisakan decak kagum sekaligus rasa takzim yang mendalam bagi masyarakat. Salah satu figur bersahaja yang belakangan ini menyedot perhatian kaum muhibbin di kawasan Mataraman adalah Gus Saladin. Lewat untaian kesaksian lisan yang penuh haru dari kiai sepuh yang mengasuhnya sejak belia, terkuak lembaran-lembaran peristiwa luar biasa yang mewarnai perjalanan hidup sang tokoh religius tersebut semenjak masa kanak-kanak hingga menempuh sanad keilmuan di pondok pesantren.

Dalam penuturan emosional tersebut, tanda-tanda keistimewaan Gus Saladin sudah terlihat sangat nyata sejak bodi fisiknya masih sangat kecil. Sang kiai mengenang kembali petaka banjir bandang yang sempat melumpuhkan wilayah Tulungagung beberapa tahun silam. Di saat air bah bergulung menenggelamkan pemukiman, Gus Saladin kecil ternyata sempat ikut tenggelam dan terendam di bawah derasnya air di bawah batur (aben-uben) dalam durasi waktu hingga berjam-jam. Ajaibnya, atas izin Allah SWT, beliau berhasil diselamatkan dari maut tanpa mengalami cedera atau luka sedikit pun—sebuah peristiwa di luar nalar yang seketika menggemparkan pihak keluarga.

Keistimewaan ini terus melekat kuat seiring pertumbuhan usianya, terutama saat beliau mulai menimba ilmu agama secara formal setelah menyelesaikan jenjang kuliahnya. Kedekatan spiritual antara guru dan murid ini bahkan melahirkan kultur penghormatan yang sangat tinggi. Meski berstatus sebagai pengasuh dan kiai utamanya, sang guru justru tidak canggung untuk mencium tangan Gus Saladin. Sang kiai merasa bahwa derajat keilmuan, adab, serta pancaran spiritual yang bersemayam di dalam diri santri mudanya tersebut jauh melampaui usianya, sehingga patut dihormati secara lahir dan batin.

Misteri Bungkus Nasi yang Ditolak dan Isyarat Penguasa Air

Sejak usia belia, karomah laduni Gus Saladin sering kali mewujud dalam peristiwa harian yang spontan tanpa rekayasa. Salah satu cerita yang paling mahsyur di kalangan santri adalah ketika beliau pergi bermain memancing di area sungai timur pondok pesantren. Saat teman-teman sebayanya mengeluh karena tidak kunjung mendapatkan gigitan ikan, Gus Saladin dengan tenang mendekati bibir sungai lalu memanggil ikan-ikan lele yang bersembunyi di dalam air. Secara ajaib, kawanan lele liar tersebut langsung berenang ke permukaan dan dengan pasrah mendekat untuk ditangkap langsung menggunakan tangan kosong.

Tidak hanya memiliki keselarasan yang kuat dengan makhluk hidup di alam, beliau juga dianugerahi kelebihan berupa kemampuan kasyaf tajam—yaitu kesanggupan dalam menembus batin dan kondisi suci seseorang. Suatu hari, seorang santri diutus untuk membelikan sebungkus nasi ke luar pondok. Namun setibanya di hadapan beliau, nasi tersebut sama sekali tidak disentuh dan justru diperintahkan untuk diberikan kepada orang lain. Kejadian tersebut berulang hingga beberapa kali sampai akhirnya sang santri mengaku bahwa dirinya membeli nasi tersebut dalam kondisi batal wudhu.

Begitu sang santri kembali dan menunaikan ibadah wudhu dengan benar sebelum membelikan hidangan yang baru, barulah nasi tersebut diterima dan didaharkan (dimakan) oleh beliau. Peristiwa-peristiwa kecil bermuatan spiritual ini senantiasa disikapi oleh para santri senior sebagai bentuk bisyarah atau isyarat tersembunyi yang mendahului kejadian-kejadian besar di kemudian hari, membuat namanya kian disegani oleh para pencinta ulama dari berbagai wilayah basis santri, mulai dari Tebuireng hingga Candi Mulyo.

Gaya Rambut Kuncit yang Nyentrik dan Ketakutan terhadap Harta Dunia

Secara personal, penampilan fisik Gus Saladin di masa mudanya tergolong sangat ikonik dan berbeda dari pakem santri tradisional pada umumnya. Beliau dikenal gemar memelihara rambut panjang yang sengaja disemir warna dan diikat kuncit rapi ke belakang. Walau penampilannya sempat memicu pandangan heran dari orang awam, para kiai sepuh makrifat seperti Kiai Jamal dan Kiai Jalil justru memahami bahwa gaya nyentrik tersebut merupakan bagian dari tabir penyamaran (khumul) agar derajat kewalian tingginya tidak mudah terdeteksi oleh pandangan manusia biasa.

Sifat zuhud atau kebersihan hati yang murni dari keterikatan duniawi juga dibuktikan dengan ketidaksukaan beliau yang amat sangat terhadap urusan nominal uang. Dalam sebuah fragmen kesaksian, diceritakan ada seorang tamu yang datang untuk menyerahkan amplop tebal berisi uang kepada beliau. Alih-alih menghitung atau menyimpannya, Gus Saladin langsung membuang muka dan menyerahkan amplop tersebut begitu saja kepada sang ibunda tanpa sudi melirik isinya sedikit pun.

"Aku emoh kangelan mikir duit, pikiranku wis mung kanggo Allah (Aku tidak mau kesusahan memikirkan uang, pikiranku sudah hanya untuk Allah)," tutur Gus Saladin, menegaskan prinsip hidupnya yang enggan disibukkan oleh gemerlap materi fana yang bisa melalaikan hati dari mengingat Sang Pencipta.

Editor : Maylanni Diana Fitri
#Trenggalek Njenggelek #Gus Saladin #Karomah Ulama #Kisah Wali #Penampilan Nyentrik