Radar Tulungagung - Sejarah persebaran ajaran spiritual dan sanad thoriqoh di tanah Mataraman, khususnya Tulungagung, menyimpan lembaran kisah perjuangan yang sangat menyentuh hati. Dalam sebuah pengajian komunal yang dihadiri oleh para tokoh jam'iyah keagamaan, terungkap kembali memoar berharga mengenai prosesi baiat thoriqoh kuno yang melibatkan tokoh-tokoh besar masa lalu. Kisah sejarah ini disampaikan secara runtut oleh seorang kiai sepuh yang ditunjuk mendadak oleh protokol untuk memberikan sambutan spiritual di hadapan para pengurus JATMAN (Jam'iyyah Ahli Thoriqoh al-Mu'tabarah al-Anahdliyah).
Sang kiai mengawali kisahnya dengan rasa takzim kepada Romo Kiai Mustaqim, salah satu pilar spiritual utama di Tulungagung. Beliau menceritakan garis sejarah sekitar tahun 1975, ketika dirinya mulai bersinggungan langsung dengan pusat kegiatan thoriqoh di Peta. Sebelum mendalami thoriqoh secara mendalam, beliau merupakan santri bentukan dari Romo Kiai Sodiq Temboro. Melalui bimbingan dan wasilah Romo Kiai Sodiq inilah, rombongan santri sepuh dari Genukwatu diajak sowan menuju kediaman ulama kharismatik, Romo Kiai Abdul Jalil, demi mengambil sanad resmi Thoriqoh Syadziliyah.
Proses untuk mendapatkan baiat tersebut rupanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Romo Kiai Jalil Genukwatu dan para santri senior kala itu harus melewati ujian kesabaran yang sangat tebal. Pada sowan minggu pertama, Romo Kiai Jalil sepuh belum memperkenankan mereka untuk langsung dibaiat. Beliau justru meminta para santri untuk pulang terlebih dahulu dan mematangkan hati lewat amalan-amalan dasar. Ujian tersebut terus berulang secara ketat setiap beberapa minggu.
Ujian Ulang 7 Minggu dan Pembentukan 12 Imam Pertama Thoriqoh
Setiap dua atau tiga minggu sekali, para santri kembali datang sowan, namun jawaban yang diterima tetap sama: diminta untuk kembali lagi di lain waktu (dibaleni dadi kosong meneh). Konsistensi dan keteguhan iman para santri benar-benar diuji hingga memasuki minggu ketujuh. Baru pada pertemuan di minggu ketujuh itulah, pintu baiat resmi Thoriqoh Syadziliyah dibuka lebar oleh Romo Kiai Jalil. Saat itu, terkumpullah 12 orang santri pilihan yang melakukan wirid bersama secara khusyuk.
Kejutan spiritual terjadi ketika proses penunjukan posisi imam jemaah dimulai. Di luar dugaan, Romo Kiai Jalil justru menunjuk santri yang paling muda di antara rombongan tersebut untuk menjadi pemimpin. Meski sempat merasa keberatan karena merasa masih ada sosok lain yang jauh lebih sepuh dan mumpuni seperti Mbah Nawawi, santri muda tersebut tidak berani membantah titah sang guru (sami'na wa atho'na). Dukungan penuh dari para sesepuh akhirnya menjadi pelecut semangat bagi sang santri muda untuk terus belajar memimpin umat dengan ilmu kekhasan batin yang matang.
Karomah Nyata Sang Mursyid Kamil dan Sindiran Halus di Tengah Pengajian
Seiring berjalannya waktu, para santri semakin diyakinkan bahwa Romo Kiai Jalil merupakan sosok Mursyid Kamil—seorang guru spiritual sempurna yang memiliki ketajaman mata batin (Waskito) luar biasa. Salah satu bukti karomahnya terjadi ketika ada agenda pengajian penting pengganti di daerah Lore Tambakberas. Jadwal yang mendadak membuat sang kiai harus memacu kendaraannya dengan sangat cepat hingga langsung tembus ke wilayah Tulungagung tepat pada malam Senin.
Saat pengajian sedang berlangsung khidmat di tengah-tengah mushola, Romo Kiai Jalil tiba-kira memberikan sebuah sindiran atau isyarah batin yang sangat halus namun menancap kuat ke sanubari para santri yang hadir, termasuk Mbah Muslim dan Mbah Lem. Secara spontan di tengah membacakan kitab, beliau melemparkan sebuah pertanyaan retoris yang menggunakan perumpamaan tajam mengenai hukum seorang santri yang mengabaikan atau meninggalkan majelis ilmu demi urusan lain.
"Piye hukume wong tunggang pengajian ditinggal rene? (Bagaimana hukumnya orang yang sedang mengikuti pengajian tapi pikirannya malah ditinggal pergi ke mana-mana?)" tiru sang kiai mengenang ucapan Romo Kiai Jalil.
Sindiran spiritual yang keluar dari lisan sang Mursyid Kamil tersebut seketika membuat para santri merasa merinding sekaligus kagum. Romo Kiai Jalil terbukti mampu membaca dinamika batin dan fokus pikiran para jemaahnya secara akurat, meskipun secara fisik mereka duduk rapi mendengarkan ngaji. Sentilan halus itu disadari oleh para santri sebagai bentuk edukasi batin agar mereka senantiasa menjaga kesucian niat, totalitas kehadiran jiwa, serta ketakziman penuh ketika sedang menimba ilmu-ilmu ketuhanan.
Editor : Maylanni Diana Fitri