Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Ujian Sabar 7 Minggu! Menguak Karomah Mursyid Kamil Thoriqoh Syadziliyah dan Isyarat Batin Rahasia Romo Kiai Jalil

Maylanni Diana Fitri • Rabu, 24 Juni 2026 | 22:15 WIB
Kisah sakral sanad Thoriqoh Syadziliyah Peta Tulungagung. Ketatnya ujian sabar 7 minggu Romo Kiai Jalil hingga karomah kasyaf membaca batin jemaah.(pinterest)
Kisah sakral sanad Thoriqoh Syadziliyah Peta Tulungagung. Ketatnya ujian sabar 7 minggu Romo Kiai Jalil hingga karomah kasyaf membaca batin jemaah.(pinterest)

 

Radar Tulungagung – Lembaran sejarah spiritual di tanah Mataraman, khususnya wilayah Tulungagung, selalu menyimpan kisah perjuangan para ulama sepuh yang sangat menggetarkan hati. Dalam sebuah majelis pengajian komunal yang dihadiri oleh jajaran pengurus JATMAN (Jam'iyyah Ahli Thoriqoh al-Mu'tabarah al-Anahdliyah), sebuah memoar berharga mengenai ketatnya sanad keilmuan masa lalu kembali dibuka. Kisah autentik ini meluncur langsung dari lisan seorang kiai sepuh yang memberikan kesaksian sejarah mengenai fase awal pembentukan jemaah thoriqoh di bawah bimbingan para wali di Peta.

Napak tilas sejarah ini bermula sekitar tahun 1975, sebuah masa di mana benih-benih spiritual Thoriqoh Syadziliyah mulai ditanam secara kuat. Sang kiai mengisahkan bagaimana dirinya yang saat itu merupakan santri didikan Romo Kiai Sodiq Temboro, diajak bersama rombongan untuk sowan ke kediaman ulama kharismatik, Romo Kiai Abdul Jalil. Tujuan mereka hanya satu, yakni memohon barokah dan mengambil baiat resmi dari jalur sanad suci yang tersambung langsung hingga ke guru agung Romo Kiai Mustaqim.

Namun, untuk bisa masuk ke dalam lingkaran spiritual thoriqoh tersebut, para santri harus melewati ujian mental yang sangat berat. Prosesi baiat tidak diberikan secara instan. Pada sowan minggu pertama, Romo Kiai Jalil belum berkenan mengesahkan mereka. Beliau memerintahkan rombongan tersebut untuk pulang dan mematangkan niat batin terlebih dahulu. Ujian kesabaran ini tidak main-main, karena setiap kali mereka datang kembali pada minggu-minggu berikutnya, jawaban yang diterima selalu sama: diminta pulang dan kembali mengulang dari awal (dibaleni dadi kosong meneh).

Konsistensi 7 Minggu dan Penunjukan Mengejutkan Imam Paling Muda

Keteguhan iman dan ketulusan niat para santri benar-benar diuji secara konsisten hingga memasuki minggu ketujuh. Baru pada pertemuan di minggu ketujuh itulah, setelah dirasa wadah batin para santri sudah siap dan bersih, Romo Kiai Jalil berkenan membuka pintu baiat resmi Thoriqoh Syadziliyah. Pada momen sakral tersebut, terkumpullah 12 orang santri pilihan yang duduk bersama melakukan wirid takwa di dalam satu ruangan khusus.

Kejutan spiritual kembali terjadi saat struktur kepemimpinan jemaah hendak dibentuk. Di hadapan para santri yang mayoritas sudah berusia lanjut dan berpengalaman seperti Mbah Nawawi, Romo Kiai Jalil justru menunjuk santri yang paling muda di antara mereka untuk mengemban amanah sebagai imam jemaah. Sifat takzim dan patuh terhadap guru (sami'na wa atho'na) membuat santri muda tersebut tidak berani membantah, meskipun batinnya sempat merasa berat. Berkat dorongan dan restu dari para sesepuh, tugas suci memimpin wirid tersebut akhirnya mulai dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Karomah Kasyaf Sang Mursyid: Membaca Pikiran Santri di Tengah Pengajian

Seiring berjalannya waktu, para jemaah semakin sering diperlihatkan bukti nyata bahwa Romo Kiai Jalil adalah seorang Mursyid Kamil—seorang pembimbing spiritual sempurna yang dianugerahi kelebihan berupa pandangan mata batin (Waskito) yang sangat tajam. Salah satu peristiwa yang paling membekas adalah ketika sang kiai harus menghadiri pengajian mendadak sebagai kiai pengganti di daerah Lore Tambakberas, yang membuatnya harus memacu kendaraan dengan sangat cepat menuju Tulungagung tepat pada malam Senin.

Di tengah-tengah jalannya pengajian yang berlangsung khusyuk di dalam mushola, Romo Kiai Jalil tiba-kira menghentikan bacaan kitabnya sejenak. Beliau kemudian melontarkan sebuah kalimat sindiran halus (isyarah) yang ditujukan langsung untuk menyentil isi hati beberapa santri senior yang hadir, termasuk Mbah Muslim dan Mbah Lem. Secara spontan, beliau mempertanyakan kualitas kehadiran batin seseorang saat berada di dalam majelis ilmu.

Sentilan batin yang keluar dari lisan sang Mursyid Kamil tersebut seketika membuat seluruh jemaah terdiam dan merinding. Romo Kiai Jalil terbukti secara nyata mampu membaca dinamika pikiran dan tingkat kekhusyukan para santrinya secara akurat, meskipun secara fisik mereka tampak duduk rapi mendengarkan ngaji. Melalui sindiran halus tersebut, beliau sedang mendidik para pengikut thoriqoh agar tidak sekadar berpasrah pada ibadah lahiriah, melainkan selalu menjaga kesucian niat dan totalitas kehadiran jiwa di hadapan Sang Pencipta.

Editor : Maylanni Diana Fitri
#Thoriqoh Syadziliyah #Romo Kiai Jalil #Sejarah Peta Tulungagung #Karomah Mursyid #Pengajian Suro