Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Primbon Jawa: Begini Cara Menghitung Naga Dina dan Patine Dina, Dipercaya Menentukan Arah Hoki hingga Pantangan Besar

M. Helmi Nurhisam • Minggu, 28 Juni 2026 | 19:03 WIB
Naga Dina dan Patine Dina menurut Primbon Jawa dipercaya menjadi pedoman menentukan arah keberuntungan dan menghindari pantangan. (Pinterest)
Naga Dina dan Patine Dina menurut Primbon Jawa dipercaya menjadi pedoman menentukan arah keberuntungan dan menghindari pantangan. (Pinterest)

Radar Tulungagung – Naga Dina dan Patine Dina merupakan dua istilah yang cukup dikenal dalam Primbon Jawa, terutama di kalangan masyarakat yang masih menggunakan perhitungan weton sebagai pedoman menjalani berbagai aktivitas penting. Keduanya dipercaya berkaitan dengan arah keberuntungan sekaligus arah yang sebaiknya dihindari agar berbagai urusan berjalan lebih lancar.

Dalam tradisi Jawa, Naga Dina dimaknai sebagai posisi kekuatan atau kejayaan suatu hari. Sementara Patine Dina diartikan sebagai arah yang melambangkan berakhirnya energi hari sehingga dianggap kurang baik dijadikan tujuan saat menggelar hajatan, berpindah rumah, membuka usaha, hingga mencari rezeki.

Untuk mengetahui kedua arah tersebut, seseorang harus lebih dulu menghitung jumlah neptu hari dan pasaran. Perhitungan inilah yang menjadi dasar dalam menentukan letak Naga Dina maupun Patine Dina.

Baca Juga: Cara Menghitung Naga Dina dan Patine Dina Menurut Primbon Jawa, Panduan Menentukan Arah Baik untuk Hajatan hingga Mencari Rezeki

Penjumlahan Neptu Menjadi Dasar Perhitungan

Nilai neptu hari dalam Primbon Jawa terdiri dari Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sedangkan nilai pasaran meliputi Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, serta Kliwon 8.

Sebagai contoh, Sabtu Legi memiliki jumlah neptu 14. Angka tersebut kemudian dihitung mulai dari arah timur, selatan, barat, dan utara secara berulang hingga mencapai hitungan ke-14.

Hasilnya menunjukkan posisi terakhir berada di arah selatan. Dalam kepercayaan Primbon Jawa, arah tersebut dipercaya menjadi Naga Dina atau pusat kekuatan hari Sabtu Legi.

Baca Juga: Rahasia Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa, Begini Cara Menentukan Arah Hoki dan Menghindari Pantangan

Menghitung Patine Dina

Tahap berikutnya adalah menentukan Patine Dina. Caranya dengan menghitung kembali pasangan hari dan pasaran berdasarkan jumlah neptu yang telah diperoleh.

Pada contoh Sabtu Legi, hasil hitungan menunjukkan pasangan Sabtu Kliwon. Kedua neptu tersebut kemudian dijumlahkan kembali menjadi 17.

Angka 17 dihitung lagi mulai dari arah timur menggunakan pola yang sama. Hasil akhirnya berada di arah timur sehingga dipercaya sebagai Patine Dina Sabtu Legi.

Masyarakat Jawa meyakini arah tersebut sebaiknya dihindari ketika melakukan kegiatan besar, seperti mengarak pengantin, pindah rumah, berdagang, atau memulai usaha karena dianggap kurang membawa keberuntungan.

Dipercaya Membantu Menentukan Langkah

Sebaliknya, arah Naga Dina dipercaya menjadi arah yang memiliki energi positif sehingga banyak dijadikan acuan ketika hendak melakukan aktivitas penting. Kepercayaan ini berkembang sebagai bentuk ikhtiar agar pekerjaan maupun usaha yang dilakukan memperoleh hasil yang lebih baik.

Walaupun tidak memiliki dasar ilmiah, Naga Dina dan Patine Dina tetap menjadi bagian dari warisan budaya Jawa yang masih dipelajari hingga sekarang. Tradisi tersebut dipandang sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang mengajarkan kehati-hatian sebelum mengambil keputusan penting.

Di era digital, pembahasan mengenai Naga Dina dan Patine Dina semakin mudah ditemukan melalui berbagai kanal YouTube maupun media sosial yang mengulas Primbon Jawa. Hal ini membuat pengetahuan tentang tradisi leluhur tetap lestari dan dikenal oleh generasi muda sebagai bagian dari kekayaan budaya Nusantara.

Editor : M. Helmi Nurhisam
#naga dina #patine dina #Trenggalek Njenggelek #weton #Primbon Jawa