Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Rahasia Naga Dina dan Patine Dina Menurut Primbon Jawa, Simak Cara Menghitung Arah Keberuntungan Berdasarkan Weton

M. Helmi Nurhisam • Minggu, 28 Juni 2026 | 19:10 WIB
Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa dipercaya menunjukkan arah keberuntungan dan arah yang perlu dihindari berdasarkan weton. (Pinterest)
Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa dipercaya menunjukkan arah keberuntungan dan arah yang perlu dihindari berdasarkan weton. (Pinterest)

Radar Tulungagung – Kepercayaan mengenai Naga Dina dan Patine Dina masih menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa yang memegang teguh perhitungan weton. Dalam Primbon Jawa, kedua istilah tersebut dipercaya dapat menjadi pedoman untuk mengetahui arah yang membawa keberuntungan sekaligus arah yang sebaiknya dihindari ketika menjalankan aktivitas penting.

Naga Dina dipahami sebagai letak kekuatan atau kejayaan suatu hari, sedangkan Patine Dina dimaknai sebagai arah yang melambangkan berakhirnya kekuatan hari. Oleh karena itu, banyak masyarakat Jawa menggunakan perhitungan ini sebagai bahan pertimbangan sebelum menggelar hajatan, pindah rumah, membuka usaha, hingga melakukan perjalanan untuk mencari rezeki.

Dasar perhitungannya berasal dari penjumlahan nilai neptu hari dan pasaran. Setelah jumlah neptu diperoleh, hasilnya dihitung berdasarkan empat arah mata angin, yaitu timur, selatan, barat, dan utara.

Baca Juga: Cara Menghitung Naga Dina dan Patine Dina Menurut Primbon Jawa, Panduan Menentukan Arah Baik untuk Hajatan hingga Mencari Rezeki

Cara Menentukan Naga Dina

Dalam Primbon Jawa, neptu hari terdiri atas Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Adapun nilai neptu pasaran adalah Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, dan Kliwon 8.

Sebagai contoh, Sabtu Legi memiliki jumlah neptu 14. Angka tersebut dihitung mulai dari arah timur, kemudian selatan, barat, utara, dan kembali berulang hingga mencapai hitungan ke-14.

Dari proses tersebut diketahui bahwa angka 14 berhenti di arah selatan. Dengan demikian, arah selatan dipercaya sebagai Naga Dina untuk Sabtu Legi atau arah yang menyimpan kekuatan hari tersebut.

Baca Juga: Rahasia Naga Dina dan Patine Dina dalam Primbon Jawa, Begini Cara Menentukan Arah Hoki dan Menghindari Pantangan

Menghitung Patine Dina

Perhitungan Patine Dina dilakukan dengan menentukan kembali pasangan hari dan pasaran berdasarkan jumlah neptu sebelumnya. Dalam contoh Sabtu Legi, hasilnya adalah Sabtu Kliwon.

Neptu Sabtu sebesar 9 dan Kliwon sebesar 8 dijumlahkan sehingga menghasilkan angka 17. Selanjutnya angka tersebut dihitung kembali dari arah timur menggunakan pola yang sama.

Hasil akhirnya menunjukkan arah timur sebagai Patine Dina Sabtu Legi. Dalam tradisi Jawa, arah tersebut dipercaya kurang baik dijadikan tujuan ketika menggelar hajatan, pindah rumah, berdagang, atau memulai usaha karena dianggap sebagai arah berakhirnya energi hari.

Warisan Budaya yang Masih Dilestarikan

Sebagian masyarakat percaya bahwa memilih arah sesuai Naga Dina dapat menjadi bentuk ikhtiar untuk memperoleh kelancaran dalam berbagai urusan. Sebaliknya, menghindari arah Patine Dina dipandang sebagai langkah antisipasi agar tidak menemui hambatan dalam aktivitas yang dijalankan.

Meski demikian, kepercayaan mengenai Naga Dina dan Patine Dina merupakan bagian dari warisan budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini lebih dipahami sebagai kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat, bukan sebagai ketentuan yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Hingga sekarang, pembahasan mengenai Naga Dina dan Patine Dina masih banyak diminati melalui berbagai konten Primbon Jawa di media sosial maupun YouTube. Hal itu menunjukkan bahwa tradisi leluhur tetap memiliki tempat di tengah perkembangan zaman sekaligus menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang terus dikenalkan kepada generasi muda.

Editor : M. Helmi Nurhisam
#naga dina #patine dina #Trenggalek Njenggelek #Weton Jawa #Primbon Jawa