Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Primbon Jawa Jelaskan Nogo Dino Bulanan, Ini Arah yang Sebaiknya Dihindari Saat Lamaran Menurut Tradisi Jawa

M. Helmi Nurhisam • Minggu, 28 Juni 2026 | 19:32 WIB
Nogo Dino bulanan dalam Primbon Jawa dipercaya menjadi acuan menentukan arah yang dihindari saat lamaran dan pernikahan. (Pinterest)
Nogo Dino bulanan dalam Primbon Jawa dipercaya menjadi acuan menentukan arah yang dihindari saat lamaran dan pernikahan. (Pinterest)

Radar TulungagungNogo Dino merupakan salah satu perhitungan dalam Primbon Jawa yang masih digunakan oleh sebagian masyarakat sebagai pedoman sebelum melaksanakan lamaran maupun pernikahan. Berbeda dengan perhitungan Naga Dina berdasarkan weton, Nogo Dino ini mengacu pada posisi bulan dalam kalender Jawa yang diyakini menentukan arah pantangan setiap bulannya.

Menurut tradisi Jawa, posisi Nogo Dino selalu berpindah dari timur, selatan, barat, hingga utara mengikuti pergantian bulan. Karena itu, masyarakat yang masih memegang adat Jawa kerap menjadikan perhitungan tersebut sebagai pertimbangan sebelum menentukan waktu dan arah perjalanan menuju rumah calon mempelai.

Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini masih dipraktikkan di berbagai daerah di Pulau Jawa. Meski tidak memiliki dasar ilmiah, Nogo Dino dipandang sebagai bagian dari kearifan lokal yang tetap dilestarikan.

Baca Juga: Cara Menghitung Naga Dina dan Patine Dina Menurut Primbon Jawa, Ketahui Arah Keberuntungan dan Pantangan Sebelum Hajatan

Posisi Nogo Dino Sepanjang Tahun Jawa

Dalam Primbon Jawa, bulan Suro, Safar, dan Mulud menempatkan posisi Nogo Dino di arah timur. Selama tiga bulan tersebut, perjalanan menuju arah timur dipercaya sebaiknya dihindari ketika rombongan keluarga hendak melaksanakan prosesi lamaran.

Memasuki bulan Bakda Mulud, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir, posisi Nogo Dino bergeser ke arah selatan. Selanjutnya, pada bulan Rejeb, Ruwah, dan Poso, arah pantangan berpindah ke barat.

Adapun bulan Syawal, Apit, dan Besar menjadi kelompok terakhir yang menempatkan Nogo Dino di arah utara. Setelah itu, siklus kembali berulang dimulai dari arah timur pada bulan Suro.

Baca Juga: Cara Mengetahui Naga Dina Menurut Primbon Jawa, Ini Arti Posisi Timur, Selatan, Barat, dan Utara bagi Pemilik Weton

Menentukan Waktu yang Dianggap Tepat

Dalam praktiknya, posisi Nogo Dino digunakan untuk mencocokkan arah rumah calon mempelai dengan bulan yang sedang berlangsung. Jika arah tujuan sama dengan posisi Nogo Dino, sebagian masyarakat memilih menunda prosesi hingga bulan berikutnya.

Sebagai ilustrasi, apabila rumah calon pengantin berada di arah selatan sementara bulan yang sedang berjalan adalah Jumadil Akhir, keluarga biasanya memilih menunggu hingga memasuki bulan Rejeb ketika posisi Nogo Dino telah berpindah ke arah barat.

Cara tersebut dipercaya dapat menghindarkan perjalanan dari arah yang dianggap kurang baik menurut tradisi Primbon Jawa.

Rute Memutar Dinilai Bukan Solusi

Dalam penjelasan mengenai Nogo Dino juga disebutkan bahwa memutar arah perjalanan tidak mengubah ketentuan arah tujuan. Misalnya, apabila tujuan sebenarnya berada di timur, lalu rombongan sengaja berangkat ke utara terlebih dahulu sebelum menuju lokasi, arah akhirnya tetap dihitung sebagai timur.

Karena itu, sebagian masyarakat lebih memilih menyesuaikan waktu pelaksanaan daripada mengubah jalur perjalanan. Pergeseran posisi Nogo Dino setiap tiga bulan dianggap memberikan kesempatan untuk memilih waktu yang lebih sesuai dengan tradisi.

Hingga kini, Nogo Dino masih menjadi salah satu bagian dari Primbon Jawa yang terus dipelajari oleh masyarakat. Selain digunakan sebagai pedoman adat dalam prosesi lamaran dan pernikahan, tradisi ini juga menjadi bentuk pelestarian budaya leluhur yang tetap bertahan di tengah perkembangan zaman. Bagi banyak orang, Nogo Dino dipahami sebagai kearifan lokal yang patut dihormati sebagai warisan budaya, bukan sebagai aturan yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Editor : M. Helmi Nurhisam
#Trenggalek Njenggelek #Nogo Dino #Lamaran Jawa #Primbon Jawa #kalender jawa