Radar Tulungagung – Nogo Dino merupakan salah satu perhitungan dalam Primbon Jawa yang masih digunakan oleh sebagian masyarakat sebagai pedoman sebelum melaksanakan lamaran maupun pernikahan. Berbeda dengan perhitungan Naga Dina berdasarkan weton, Nogo Dino ini mengacu pada posisi bulan dalam kalender Jawa yang diyakini menentukan arah pantangan setiap bulannya.
Menurut tradisi Jawa, posisi Nogo Dino selalu berpindah dari timur, selatan, barat, hingga utara mengikuti pergantian bulan. Karena itu, masyarakat yang masih memegang adat Jawa kerap menjadikan perhitungan tersebut sebagai pertimbangan sebelum menentukan waktu dan arah perjalanan menuju rumah calon mempelai.
Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan hingga kini masih dipraktikkan di berbagai daerah di Pulau Jawa. Meski tidak memiliki dasar ilmiah, Nogo Dino dipandang sebagai bagian dari kearifan lokal yang tetap dilestarikan.
Posisi Nogo Dino Sepanjang Tahun Jawa
Dalam Primbon Jawa, bulan Suro, Safar, dan Mulud menempatkan posisi Nogo Dino di arah timur. Selama tiga bulan tersebut, perjalanan menuju arah timur dipercaya sebaiknya dihindari ketika rombongan keluarga hendak melaksanakan prosesi lamaran.
Memasuki bulan Bakda Mulud, Jumadil Awal, dan Jumadil Akhir, posisi Nogo Dino bergeser ke arah selatan. Selanjutnya, pada bulan Rejeb, Ruwah, dan Poso, arah pantangan berpindah ke barat.
Adapun bulan Syawal, Apit, dan Besar menjadi kelompok terakhir yang menempatkan Nogo Dino di arah utara. Setelah itu, siklus kembali berulang dimulai dari arah timur pada bulan Suro.
Menentukan Waktu yang Dianggap Tepat
Dalam praktiknya, posisi Nogo Dino digunakan untuk mencocokkan arah rumah calon mempelai dengan bulan yang sedang berlangsung. Jika arah tujuan sama dengan posisi Nogo Dino, sebagian masyarakat memilih menunda prosesi hingga bulan berikutnya.
Sebagai ilustrasi, apabila rumah calon pengantin berada di arah selatan sementara bulan yang sedang berjalan adalah Jumadil Akhir, keluarga biasanya memilih menunggu hingga memasuki bulan Rejeb ketika posisi Nogo Dino telah berpindah ke arah barat.
Cara tersebut dipercaya dapat menghindarkan perjalanan dari arah yang dianggap kurang baik menurut tradisi Primbon Jawa.
Rute Memutar Dinilai Bukan Solusi
Dalam penjelasan mengenai Nogo Dino juga disebutkan bahwa memutar arah perjalanan tidak mengubah ketentuan arah tujuan. Misalnya, apabila tujuan sebenarnya berada di timur, lalu rombongan sengaja berangkat ke utara terlebih dahulu sebelum menuju lokasi, arah akhirnya tetap dihitung sebagai timur.
Karena itu, sebagian masyarakat lebih memilih menyesuaikan waktu pelaksanaan daripada mengubah jalur perjalanan. Pergeseran posisi Nogo Dino setiap tiga bulan dianggap memberikan kesempatan untuk memilih waktu yang lebih sesuai dengan tradisi.
Hingga kini, Nogo Dino masih menjadi salah satu bagian dari Primbon Jawa yang terus dipelajari oleh masyarakat. Selain digunakan sebagai pedoman adat dalam prosesi lamaran dan pernikahan, tradisi ini juga menjadi bentuk pelestarian budaya leluhur yang tetap bertahan di tengah perkembangan zaman. Bagi banyak orang, Nogo Dino dipahami sebagai kearifan lokal yang patut dihormati sebagai warisan budaya, bukan sebagai aturan yang telah dibuktikan secara ilmiah.
Editor : M. Helmi Nurhisam