Radar Tulungagung – Naga Dina dan Patine Dina menjadi salah satu pembahasan yang masih sering muncul dalam tradisi Primbon Jawa. Bagi masyarakat yang masih memegang hitungan weton, kedua istilah tersebut dipercaya dapat menjadi pedoman untuk mengetahui arah yang membawa keberuntungan sekaligus arah yang sebaiknya dihindari ketika menjalankan aktivitas penting.
Dalam pandangan budaya Jawa, Naga Dina dimaknai sebagai jayaning dina atau tempat bersemayamnya kekuatan suatu hari. Sementara Patine Dina diartikan sebagai arah berakhirnya kekuatan hari yang dalam istilah masyarakat Jawa sering diibaratkan sebagai "kuburane dina". Karena itulah, arah tersebut dipercaya kurang baik dijadikan tujuan ketika menggelar hajatan, pindah rumah, hingga memulai usaha.
Tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur Jawa. Walaupun tidak memiliki dasar ilmiah, hingga kini masih banyak masyarakat yang mempelajarinya sebagai bagian dari pelestarian budaya.
Cara Menghitung Naga Dina
Perhitungan Naga Dina dimulai dengan mengetahui jumlah neptu hari dan pasaran. Nilai neptu hari terdiri atas Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sedangkan neptu pasaran meliputi Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, serta Kliwon 8.
Sebagai contoh, Kamis Kliwon memiliki jumlah neptu 16. Angka tersebut kemudian dihitung mulai dari arah timur dengan urutan timur, selatan, barat, dan utara secara berulang hingga mencapai hitungan ke-16.
Apabila hitungan terakhir berhenti di arah barat, maka arah itulah yang dipercaya sebagai Naga Dina atau jayaning dina bagi weton tersebut.
Menghitung Patine Dina
Setelah posisi Naga Dina diketahui, langkah berikutnya adalah menentukan Patine Dina. Perhitungan dilakukan dengan menghitung kembali hari dan pasaran berdasarkan jumlah neptu yang telah diperoleh sebelumnya.
Sebagai ilustrasi, Kamis Kliwon menghasilkan pasangan Jumat Legi. Neptu Jumat sebesar 6 dijumlahkan dengan Legi sebesar 5 sehingga memperoleh angka 11.
Angka tersebut kemudian kembali dihitung mulai dari arah timur hingga diperoleh posisi akhir. Arah terakhir dipercaya menjadi Patine Dina atau arah yang menurut tradisi Jawa sebaiknya dihindari ketika melakukan kegiatan penting.
Dipahami Sebagai Warisan Leluhur
Dalam kehidupan masyarakat Jawa, perhitungan Naga Dina dan Patine Dina kerap digunakan sebagai bahan pertimbangan sebelum menggelar pernikahan, pindah rumah, berdagang, maupun memulai perjalanan jauh. Tujuannya bukan untuk memastikan hasil, melainkan sebagai bentuk ikhtiar menurut tradisi yang diwariskan oleh leluhur.
Para sesepuh Jawa juga mengingatkan agar tradisi tersebut dipahami sebagai bagian dari budaya yang patut dilestarikan. Nilai utamanya terletak pada penghormatan terhadap ajaran nenek moyang serta kehati-hatian dalam mengambil langkah penting dalam kehidupan.
Di tengah perkembangan zaman, pembahasan mengenai Naga Dina dan Patine Dina masih banyak diminati melalui berbagai media sosial maupun kanal YouTube bertema Primbon Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa warisan budaya tersebut tetap hidup dan terus dipelajari oleh masyarakat sebagai bagian dari identitas budaya Jawa, bukan sebagai ketentuan yang telah dibuktikan secara ilmiah.
Editor : M. Helmi Nurhisam