Radar Tulungagung – Naga Dina merupakan salah satu perhitungan yang dikenal dalam Primbon Jawa dan masih dipercaya oleh sebagian masyarakat hingga sekarang. Tradisi ini erat kaitannya dengan konsep Jayaning Dina dan Patine Dina, yaitu arah yang dipercaya membawa kekuatan hari serta arah yang dianggap kurang baik ketika seseorang hendak melakukan aktivitas penting.
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, Naga Dina bukan dimaknai sebagai sosok naga secara harfiah, melainkan lambang kekuatan yang menempati salah satu dari empat penjuru mata angin. Posisi tersebut ditentukan melalui hitungan neptu hari dan pasaran sehingga setiap weton memiliki arah Naga Dina yang berbeda.
Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur Jawa dan masih sering dijadikan pedoman dalam menentukan waktu maupun arah ketika menggelar hajatan, pindah rumah, berdagang, atau memulai usaha. Meski demikian, kepercayaan ini merupakan bagian dari budaya Jawa dan tidak didasarkan pada pembuktian ilmiah.
Naga Dina Disebut Sebagai Jayaning Dina
Dalam Primbon Jawa, arah tempat Naga Dina berada dikenal sebagai Jayaning Dina, yakni arah yang dipercaya menjadi pusat kekuatan suatu hari. Oleh karena itu, sebagian masyarakat memilih menjadikan arah tersebut sebagai tujuan ketika memulai aktivitas yang diharapkan membawa hasil baik.
Perhitungan dimulai dengan menjumlahkan neptu hari dan pasaran. Nilai yang diperoleh kemudian dihitung dari arah timur, selatan, barat, dan utara secara berulang hingga mencapai angka terakhir. Posisi akhir itulah yang menjadi letak Naga Dina.
Sebagai contoh, weton Kamis Kliwon memiliki jumlah neptu 16. Setelah dihitung mengikuti empat arah mata angin, posisi akhirnya menunjukkan letak Jayaning Dina sesuai hasil hitungan tersebut.
Patine Dina Menjadi Arah Pantangan
Selain mengetahui Jayaning Dina, masyarakat Jawa juga mengenal Patine Dina. Istilah ini digunakan untuk menyebut arah yang dipercaya menjadi titik berakhirnya kekuatan hari sehingga sering dianggap sebagai arah pantangan.
Cara menghitungnya dilakukan dengan mencari pasangan hari dan pasaran baru berdasarkan jumlah neptu sebelumnya. Setelah memperoleh hasil, neptu kembali dijumlahkan dan dihitung dari arah timur hingga ditemukan posisi akhir yang menjadi Patine Dina.
Dalam tradisi Jawa, arah tersebut umumnya dihindari ketika hendak menggelar pernikahan, pindah rumah, berdagang, maupun melakukan perjalanan penting.
Warisan Budaya yang Terus Dipelajari
Para sesepuh Jawa menjelaskan bahwa tujuan mempelajari Naga Dina bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian dan penghormatan terhadap ajaran leluhur yang telah diwariskan sejak lama.
Di tengah perkembangan zaman, pembahasan mengenai Naga Dina, Jayaning Dina, dan Patine Dina masih banyak ditemukan dalam berbagai kajian Primbon Jawa. Banyak masyarakat mempelajarinya untuk memahami filosofi budaya Jawa sekaligus menjaga tradisi agar tidak hilang ditelan zaman.
Kepercayaan tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Dengan demikian, Naga Dina tetap menjadi salah satu warisan budaya Jawa yang menarik untuk dipelajari, tanpa mengesampingkan bahwa keberhasilan dan rezeki pada akhirnya merupakan bagian dari ikhtiar serta keyakinan masing-masing individu.
Editor : M. Helmi Nurhisam