Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Rahasia Jayaning Dina dan Patine Dina Menurut Primbon Jawa, Begini Cara Menghitung Naga Dina Berdasarkan Weton

M. Helmi Nurhisam • Minggu, 28 Juni 2026 | 19:46 WIB
Naga Dina, Jayaning Dina, dan Patine Dina dalam Primbon Jawa dipercaya menjadi pedoman arah keberuntungan berdasarkan weton. (Pinterest)
Naga Dina, Jayaning Dina, dan Patine Dina dalam Primbon Jawa dipercaya menjadi pedoman arah keberuntungan berdasarkan weton. (Pinterest)

Radar TulungagungNaga Dina merupakan salah satu perhitungan yang dikenal dalam Primbon Jawa dan masih dipercaya oleh sebagian masyarakat hingga sekarang. Tradisi ini erat kaitannya dengan konsep Jayaning Dina dan Patine Dina, yaitu arah yang dipercaya membawa kekuatan hari serta arah yang dianggap kurang baik ketika seseorang hendak melakukan aktivitas penting.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, Naga Dina bukan dimaknai sebagai sosok naga secara harfiah, melainkan lambang kekuatan yang menempati salah satu dari empat penjuru mata angin. Posisi tersebut ditentukan melalui hitungan neptu hari dan pasaran sehingga setiap weton memiliki arah Naga Dina yang berbeda.

Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur Jawa dan masih sering dijadikan pedoman dalam menentukan waktu maupun arah ketika menggelar hajatan, pindah rumah, berdagang, atau memulai usaha. Meski demikian, kepercayaan ini merupakan bagian dari budaya Jawa dan tidak didasarkan pada pembuktian ilmiah.

Baca Juga: Cara Menghitung Naga Dina dan Patine Dina Menurut Primbon Jawa, Ketahui Arah Keberuntungan dan Pantangan Sebelum Hajatan

Naga Dina Disebut Sebagai Jayaning Dina

Dalam Primbon Jawa, arah tempat Naga Dina berada dikenal sebagai Jayaning Dina, yakni arah yang dipercaya menjadi pusat kekuatan suatu hari. Oleh karena itu, sebagian masyarakat memilih menjadikan arah tersebut sebagai tujuan ketika memulai aktivitas yang diharapkan membawa hasil baik.

Perhitungan dimulai dengan menjumlahkan neptu hari dan pasaran. Nilai yang diperoleh kemudian dihitung dari arah timur, selatan, barat, dan utara secara berulang hingga mencapai angka terakhir. Posisi akhir itulah yang menjadi letak Naga Dina.

Sebagai contoh, weton Kamis Kliwon memiliki jumlah neptu 16. Setelah dihitung mengikuti empat arah mata angin, posisi akhirnya menunjukkan letak Jayaning Dina sesuai hasil hitungan tersebut.

Baca Juga: Cara Mengetahui Naga Dina Menurut Primbon Jawa, Ini Arti Posisi Timur, Selatan, Barat, dan Utara bagi Pemilik Weton

Patine Dina Menjadi Arah Pantangan

Selain mengetahui Jayaning Dina, masyarakat Jawa juga mengenal Patine Dina. Istilah ini digunakan untuk menyebut arah yang dipercaya menjadi titik berakhirnya kekuatan hari sehingga sering dianggap sebagai arah pantangan.

Cara menghitungnya dilakukan dengan mencari pasangan hari dan pasaran baru berdasarkan jumlah neptu sebelumnya. Setelah memperoleh hasil, neptu kembali dijumlahkan dan dihitung dari arah timur hingga ditemukan posisi akhir yang menjadi Patine Dina.

Dalam tradisi Jawa, arah tersebut umumnya dihindari ketika hendak menggelar pernikahan, pindah rumah, berdagang, maupun melakukan perjalanan penting.

Warisan Budaya yang Terus Dipelajari

Para sesepuh Jawa menjelaskan bahwa tujuan mempelajari Naga Dina bukan untuk menakut-nakuti masyarakat, melainkan sebagai bentuk kehati-hatian dan penghormatan terhadap ajaran leluhur yang telah diwariskan sejak lama.

Di tengah perkembangan zaman, pembahasan mengenai Naga Dina, Jayaning Dina, dan Patine Dina masih banyak ditemukan dalam berbagai kajian Primbon Jawa. Banyak masyarakat mempelajarinya untuk memahami filosofi budaya Jawa sekaligus menjaga tradisi agar tidak hilang ditelan zaman.

Kepercayaan tersebut lebih tepat dipahami sebagai bagian dari kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat. Dengan demikian, Naga Dina tetap menjadi salah satu warisan budaya Jawa yang menarik untuk dipelajari, tanpa mengesampingkan bahwa keberhasilan dan rezeki pada akhirnya merupakan bagian dari ikhtiar serta keyakinan masing-masing individu.

Editor : M. Helmi Nurhisam
#naga dina #patine dina #Trenggalek Njenggelek #Jayaning Dina #Primbon Jawa