Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Primbon Jawa Ungkap Rahasia Naga Dina, Jayaning Dina, dan Patine Dina, Begini Cara Menghitungnya Berdasarkan Weton

M. Helmi Nurhisam • Minggu, 28 Juni 2026 | 19:53 WIB
Naga Dina, Jayaning Dina, dan Patine Dina dalam Primbon Jawa dipercaya menjadi pedoman arah berdasarkan hitungan weton. (Pinterest)
Naga Dina, Jayaning Dina, dan Patine Dina dalam Primbon Jawa dipercaya menjadi pedoman arah berdasarkan hitungan weton. (Pinterest)

Radar Tulungagung – Naga Dina menjadi salah satu bagian penting dalam Primbon Jawa yang hingga kini masih dipelajari oleh masyarakat, terutama mereka yang masih menggunakan hitungan weton. Bersama konsep Jayaning Dina dan Patine Dina, perhitungan ini dipercaya menjadi pedoman untuk mengetahui arah yang dianggap membawa kekuatan maupun arah yang sebaiknya dihindari saat menjalankan berbagai aktivitas penting.

Dalam tradisi Jawa, Naga Dina merupakan simbol letak kekuatan suatu hari. Arah tempat Naga Dina berada dikenal sebagai Jayaning Dina, sedangkan arah yang berlawanan dengan kekuatan tersebut disebut Patine Dina. Ketiga istilah ini telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Jawa.

Meskipun tidak memiliki dasar ilmiah, banyak masyarakat masih mempelajari perhitungan ini sebagai bagian dari pelestarian budaya sekaligus penghormatan terhadap ajaran leluhur.

Baca Juga: Primbon Jawa: Begini Cara Menghitung Naga Dina dan Patine Dina, Dipercaya Menentukan Arah Hoki hingga Pantangan Besar

Perhitungan Berawal dari Neptu Hari dan Pasaran

Untuk mengetahui posisi Naga Dina, seseorang harus menjumlahkan nilai neptu hari dan pasaran. Dalam Primbon Jawa, Minggu bernilai 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sementara nilai pasaran terdiri atas Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, serta Kliwon 8.

Hasil penjumlahan tersebut kemudian dihitung mulai dari arah timur, selatan, barat, hingga utara secara berulang. Posisi hitungan terakhir dipercaya menjadi letak Naga Dina atau Jayaning Dina.

Sebagai ilustrasi, Kamis Kliwon memiliki jumlah neptu 16. Dari hasil perhitungan arah, posisi akhirnya menunjukkan lokasi Naga Dina yang dipercaya sebagai pusat kekuatan hari tersebut.

Baca Juga: Cara Menghitung Naga Dina dan Patine Dina Menurut Primbon Jawa, Ketahui Arah Keberuntungan dan Pantangan Sebelum Hajatan

Patine Dina Menjadi Arah yang Dihindari

Setelah mengetahui posisi Naga Dina, langkah berikutnya adalah menentukan Patine Dina. Caranya dilakukan dengan menghitung kembali pasangan hari dan pasaran berdasarkan jumlah neptu sebelumnya, lalu menjumlahkan kembali nilai neptunya.

Hasil akhir kembali dihitung menggunakan pola empat arah mata angin hingga ditemukan posisi Patine Dina. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, arah ini sering dihindari ketika seseorang akan menggelar hajatan, pindah rumah, membuka usaha, maupun melakukan perjalanan penting.

Sebagian masyarakat percaya bahwa menghindari Patine Dina merupakan bentuk ikhtiar agar berbagai rencana dapat berjalan lebih lancar.

Menjadi Bagian dari Warisan Budaya Jawa

Para sesepuh Jawa menjelaskan bahwa Naga Dina bukan sekadar hitungan arah, melainkan juga mengandung filosofi agar manusia selalu berhati-hati sebelum mengambil keputusan penting. Nilai utama yang diwariskan adalah kebijaksanaan dalam mempertimbangkan setiap langkah kehidupan.

Di era modern, pembahasan mengenai Naga Dina, Jayaning Dina, dan Patine Dina masih banyak ditemukan melalui berbagai kanal media sosial maupun YouTube yang membahas Primbon Jawa. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi leluhur tetap mendapat perhatian dari masyarakat sebagai bagian dari identitas budaya Jawa.

Meski demikian, perhitungan tersebut lebih tepat dipahami sebagai warisan budaya dan kearifan lokal. Keberhasilan, keselamatan, maupun rezeki tetap diyakini bergantung pada ikhtiar, doa, dan keyakinan masing-masing, sementara Primbon Jawa menjadi salah satu bentuk tradisi yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

Editor : M. Helmi Nurhisam
#naga dina #patine dina #Trenggalek Njenggelek #Jayaning Dina #Primbon Jawa