Radar Tulungagung – Penentuan hari pernikahan masih menjadi perhatian penting bagi sebagian masyarakat Bali yang memegang teguh ajaran Wariga Bali. Melalui sistem perhitungan tradisional ini, hari, penanggal, sasih, hingga unsur kalender lainnya dipercaya dapat menjadi pedoman dalam memilih waktu terbaik untuk melangsungkan pernikahan.
Dalam tradisi Wariga, memilih hari pernikahan bukan sekadar menentukan tanggal yang tersedia. Berbagai unsur kalender Bali dihitung secara teliti karena diyakini memiliki makna tersendiri terhadap perjalanan kehidupan rumah tangga pasangan yang akan menikah.
Perlu dipahami bahwa Wariga merupakan bagian dari warisan budaya Bali yang diwariskan secara turun-temurun. Penafsiran mengenai hari baik dan hari yang sebaiknya dihindari merupakan kepercayaan tradisional, bukan kepastian yang didasarkan pada bukti ilmiah.
Hari yang Menjadi Pantangan Menurut Wariga
Dalam penjelasan mengenai Wariga, terdapat tiga hari yang sering disebut kurang dianjurkan untuk menggelar pernikahan, yakni Minggu, Selasa, dan Sabtu.
Hari Minggu dikaitkan dengan makna perpisahan sehingga dipercaya kurang baik digunakan sebagai hari pernikahan. Sementara Selasa dianggap berpotensi memunculkan pertengkaran karena pasangan diyakini lebih mudah mengalami perbedaan pendapat.
Adapun Sabtu dipercaya dapat membawa berbagai fitnah atau penilaian negatif dari lingkungan sekitar terhadap kehidupan rumah tangga pasangan yang menikah pada hari tersebut.
Selain memilih hari, masyarakat juga dianjurkan memperhatikan penanggal dan pangelong. Beberapa penanggal dipercaya membawa keberuntungan, sedangkan lainnya dianggap kurang baik sehingga biasanya dihindari ketika menentukan waktu pernikahan.
Sasih Menjadi Pertimbangan Penting
Wariga juga mengenal perhitungan sasih atau bulan dalam kalender Bali. Setiap sasih dipercaya memiliki karakter yang berbeda sehingga tidak semuanya dianggap baik untuk melaksanakan upacara pernikahan.
Beberapa sasih diyakini mampu membawa keharmonisan, kesetiaan, rezeki, hingga peluang memperoleh keturunan. Sebaliknya, sasih tertentu dipercaya kurang mendukung sehingga masyarakat yang masih mengikuti Wariga biasanya akan memilih bulan lain.
Di samping itu, terdapat pula perhitungan lain seperti Engkel Wong, Wong Jepun, serta berbagai dewasa ayu yang menjadi pelengkap dalam menentukan hari terbaik sesuai tradisi Bali.
Bagian dari Kearifan Lokal
Hingga kini, Wariga masih dipelajari dan digunakan oleh sebagian masyarakat sebagai pedoman adat dalam menentukan waktu pelaksanaan berbagai upacara, termasuk pernikahan.
Meski demikian, keharmonisan rumah tangga pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh hari pelaksanaan pernikahan. Komunikasi yang baik, rasa saling menghormati, tanggung jawab, dan komitmen kedua pasangan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun keluarga yang bahagia.
Karena itu, Wariga lebih tepat dipandang sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang memperkaya budaya Nusantara. Tradisi ini terus dijaga sebagai bagian dari identitas budaya Bali sekaligus menjadi pengingat pentingnya mempersiapkan pernikahan secara lahir maupun batin.
Editor : M. Helmi Nurhisam