Radar Tulungagung – Menentukan hari baik khitan menurut Primbon Jawa masih menjadi tradisi yang dijaga oleh sebagian masyarakat hingga sekarang. Selain mempertimbangkan kesiapan fisik anak, banyak keluarga juga memilih waktu pelaksanaan berdasarkan perhitungan weton yang diyakini membawa kelancaran serta keberkahan.
Dalam budaya Jawa, khitan tidak hanya dipahami sebagai kewajiban agama dan tindakan medis, tetapi juga sebagai bagian dari prosesi penting menuju kedewasaan seorang anak. Oleh sebab itu, pemilihan hari pelaksanaan sering diperhitungkan dengan cermat melalui penanggalan Jawa.
Perhitungan weton merupakan salah satu bagian dari Primbon Jawa yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kombinasi hari dan pasaran dipercaya memiliki karakter tertentu yang digunakan sebagai pedoman dalam menentukan waktu pelaksanaan berbagai kegiatan penting, termasuk khitan. Meski demikian, keyakinan tersebut merupakan bagian dari tradisi budaya dan bukan ketentuan yang didasarkan pada bukti ilmiah.
Weton yang Kerap Dipilih untuk Khitan
Menurut penafsiran Primbon Jawa, terdapat enam weton yang sering dianggap baik untuk melaksanakan khitan. Weton tersebut meliputi Selasa Pon, Jumat Pahing, Kamis Legi, Minggu Pon, Sabtu Pahing, dan Senin Kliwon.
Selasa Pon dipercaya memiliki energi yang mendukung proses pemulihan, sedangkan Jumat Pahing sering dikaitkan dengan keberkahan karena bertepatan dengan hari yang dimuliakan dalam ajaran Islam.
Kamis Legi juga menjadi pilihan karena diyakini membawa kebijaksanaan dan ketenangan. Sementara Minggu Pon dipercaya memberikan kelancaran selama prosesi khitan berlangsung.
Adapun Sabtu Pahing dianggap memiliki perlindungan spiritual bagi anak yang menjalani khitan. Senin Kliwon pun masih dipilih oleh sebagian masyarakat karena dipercaya membawa energi positif apabila dilaksanakan dalam kondisi yang tepat.
Persiapan Tidak Hanya Soal Hari
Selain memilih weton, orang tua juga dianjurkan memastikan kondisi kesehatan anak benar-benar siap. Pemeriksaan kesehatan sebelum tindakan menjadi langkah penting agar proses khitan berlangsung aman.
Anak juga perlu diberikan pemahaman mengenai proses khitan agar tidak merasa takut. Dukungan orang tua sebelum dan sesudah tindakan akan membantu mempercepat proses pemulihan.
Saat ini tersedia berbagai metode khitan modern yang dapat dipilih sesuai rekomendasi dokter. Karena itu, pertimbangan medis tetap menjadi prioritas utama dibandingkan perhitungan tradisional.
Tradisi yang Masih Dipertahankan
Di berbagai daerah, prosesi khitan juga disertai doa bersama, syukuran, hingga berbagai tradisi keluarga sebagai bentuk rasa syukur. Pemilihan weton menjadi salah satu bagian dari rangkaian tersebut yang diyakini membawa ketenangan batin bagi keluarga.
Walaupun demikian, keberhasilan proses khitan tetap bergantung pada kondisi kesehatan anak, keterampilan tenaga medis, serta perawatan setelah tindakan dilakukan.
Primbon Jawa dapat dipandang sebagai warisan budaya yang memperkaya tradisi masyarakat Nusantara. Sementara itu, aspek kesehatan, kebersihan, dan anjuran tenaga medis tetap menjadi faktor utama agar pelaksanaan khitan berjalan lancar dan anak dapat segera kembali beraktivitas seperti biasa.
Editor : M. Helmi Nurhisam