Hari Baik Hajatan Menurut Primbon Jawa, Ini Daftar Hari yang Perlu Dihindari

Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 19:55 WIB
Hari baik hajatan menurut primbon Jawa mencakup daftar hari yang dianggap baik, kurang bagus, hingga pantangan untuk pernikahan dan khitanan. (Youtube. com)
Hari baik hajatan menurut primbon Jawa mencakup daftar hari yang dianggap baik, kurang bagus, hingga pantangan untuk pernikahan dan khitanan. (Youtube. com)

TULUNGAGUNG - Hari baik hajatan menurut primbon Jawa masih menjadi rujukan sebagian masyarakat ketika menentukan waktu pernikahan, khitanan, atau acara penting lainnya. Perhitungan tradisional Jawa tidak hanya mengenal hari baik, tetapi juga sejumlah hari yang dianggap kurang bagus hingga pantangan untuk menggelar hajatan.

Hari baik hajatan menurut primbon Jawa tersebut biasanya ditentukan dengan melihat kombinasi bulan dan hari dalam penanggalan Jawa. Perhitungan ini dipercaya dapat menjadi pertimbangan sebelum keluarga menentukan tanggal acara agar hajatan berjalan lebih lancar.

Pembahasan hari baik hajatan menurut primbon Jawa tersebut disampaikan melalui channel Gado-Gado yang merangkum perhitungan dari kitab primbon Jawa. Dalam penjelasannya, terdapat beberapa kelompok hari yang dianggap kurang baik, hari sangar, hingga hari yang dinilai lebih cocok untuk hajatan.

Baca Juga: Arah Mencari Rezeki Menurut Primbon Jawa Berdasarkan Weton, Benarkah Bisa Membawa Keberuntungan?

Enam Hari yang Dianggap Kurang Bagus

Dalam rangkuman primbon Jawa tersebut, terdapat enam hari yang disebut kurang bagus untuk melaksanakan hajatan. Keenamnya adalah Minggu Pahing, Sabtu Pon, Jumat Wage, Selasa Kliwon, Senin Legi, dan Kamis Wage.

Hari-hari tersebut tidak otomatis dianggap buruk untuk semua keperluan. Namun, dalam tradisi orang Jawa zaman dahulu, kombinasi hari dan pasaran tetap diperhitungkan sebelum menentukan waktu pernikahan, khitanan maupun hajatan lainnya.

Selain itu, terdapat pantangan yang lebih kuat ketika perhitungan menunjukkan tanggal tertentu. Salah satunya berkaitan dengan tanggal 29 pada bulan Haji atau bulan yang berdekatan dengan Iduladha.

Baca Juga: Weton Senin Pahing Menurut Primbon Jawa: Karakter, Jodoh, Rezeki dan Pekerjaan yang Dianggap Cocok

Ada Hari Sangar yang Perlu Diperhatikan

Primbon Jawa juga mengenal istilah hari sangar atau hari panas. Dalam penjelasan tersebut, hari sangar dikaitkan dengan waktu yang dianggap kurang mengenakkan jika digunakan untuk hajatan.

Pada bulan Suro, Safar dan bulan Haji, hari yang disebut kurang baik adalah Senin dan Selasa. Sementara untuk bulan Mulud, Rabiul Akhir dan Jumadil Awal, hari yang perlu diperhatikan adalah Rabu dan Kamis.

Kemudian untuk Jumadil Akhir, Rajab dan Ruwah, hari yang disebut kurang baik adalah Jumat.

Baca Juga: Weton Senin Pahing Menurut Primbon Jawa: Karakter, Jodoh, Rezeki dan Pekerjaan yang Dianggap Cocok

Perhitungan tersebut tidak dimaksudkan sebagai larangan mutlak bagi seluruh masyarakat. Narasi dalam video menegaskan bahwa aturan tersebut merupakan adat dan perhitungan orang terdahulu yang dapat dijadikan pelajaran.

Hari Baik Berbeda Menurut Bulan

Selain daftar hari kurang bagus, primbon juga memberikan pilihan hari yang dianggap lebih baik untuk hajatan. Pada bulan Haji, Suro dan Safar, hari Rabu, Kamis dan Jumat disebut sebagai pilihan yang baik.

Untuk bulan Mulud, Rabiul Akhir dan Jumadil Awal, hari Jumat, Sabtu dan Minggu disebut dapat dipilih untuk melaksanakan hajatan.

Baca Juga: Weton Senin Pahing Menurut Primbon Jawa: Karakter, Rezeki, Jodoh hingga Simbol Keberuntungannya

Sementara pada bulan Jumadil Akhir, Rajab dan Ruwah, pilihan yang disebut lebih luas, yakni Sabtu, Minggu, Senin dan Selasa. Hari tersebut juga dinilai praktis karena sebagian bertepatan dengan waktu libur.

Untuk bulan Ramadan, dalam penjelasan tersebut seluruh hari disebut dapat digunakan. Sedangkan pada Syawal dan Zulkaidah, pilihan yang disebut baik adalah Senin, Selasa, Rabu dan Kamis.

Tetap Sesuaikan dengan Kalender Masehi

Masyarakat yang ingin menggunakan perhitungan tersebut tetap perlu mencocokkan penanggalan Jawa dengan kalender Masehi. Hal ini penting karena tanggal Jawa dan tanggal Masehi tidak selalu memiliki angka yang sama.

Baca Juga: Weton Senin Legi Menurut Primbon Jawa, Ini Perjalanan Hidup dan Masa Keemasan di Usia 36-48 Tahun

Dalam tradisi Jawa, pemilihan hari juga dipandang sebagai bentuk ikhtiar. Karena itu, masyarakat dapat menggunakan perhitungan primbon sebagai referensi budaya sebelum menentukan tanggal pernikahan, khitanan atau hajatan lainnya.

Pada akhirnya, keputusan mengenai waktu pelaksanaan acara tetap berada pada masing-masing keluarga. Perhitungan hari baik hajatan menurut primbon Jawa merupakan bagian dari warisan tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa yang masih dipelajari hingga kini.

Editor : Muhammad Tafrihatu Zaidan Al Akhbari
Sumber : dalang channel gado gado
hari baik hajatan menurut primbon Jawa hari sangar Hari Baik Hajatan Primbon Jawa Penanggalan Jawa