RADAR TULUNGAGUNG – Reog Kendang Tulungagung menjadi salah satu kesenian tradisional yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kesenian reog dari daerah lain.
Kesenian khas Kabupaten Tulungagung ini memadukan gerakan tari dengan permainan alat musik kendang dalam satu pertunjukan.
Reog Kendang Tulungagung tidak hanya mengandalkan gerakan tubuh penari.
Para penampil juga memainkan alat musik kendang yang disebut dodok dengan sejumlah pola pukulan.
Perpaduan tersebut menjadi salah satu ciri khas yang membuat kesenian ini memiliki identitas tersendiri.
Reog Kendang Padukan Tari dan Musik
Tari bukan sekadar rangkaian gerakan tubuh. Tari merupakan bentuk ekspresi seniman untuk menyampaikan rasa, hati, jiwa, dan pikiran melalui karya seni.
Dalam pertunjukan Reog Kendang, penari sekaligus menjadi pemain musik.
Alat musik utama yang digunakan berupa dodok yang dimainkan dengan beberapa pola pukulan.
Beberapa pola tersebut antara lain kendang satu, imbal satu, imbal dua, keplak, dan trinting.
Kendang satu berfungsi sebagai obo-obo atau semacam tanda dan perintah bagi penari dalam pertunjukan.
Sementara itu, pola imbal satu dan imbal dua dimainkan secara saling berkaitan. Ada pula pola trinting yang memiliki karakter pukulan tersendiri.
Selain kendang, pertunjukan Reog Kendang juga dapat dilengkapi alat musik kenong dan gong.
Berbeda dengan Reog Ponorogo
Meski sama-sama menggunakan nama reog, Reog Kendang Tulungagung memiliki perbedaan dengan Reog Ponorogo.
Salah satu perbedaan paling mencolok terletak pada properti yang digunakan dalam pertunjukan.
Reog Ponorogo identik dengan dadak merak, sedangkan Reog Kendang Tulungagung menggunakan kendang atau dodok sebagai properti utama yang dibawa oleh penari.
Keduanya memiliki kesamaan filosofi sebagai gambaran prajurit yang mengiringi atau mengabdi kepada seorang ratu.
Namun, karakter pertunjukan berkembang sesuai dengan identitas budaya masing-masing daerah.
Perbedaan juga terlihat dari kostum yang dikenakan.
Penari Reog Kendang menggunakan udeng gelik berwarna merah putih, sempyok yang dikenakan di bagian dada, serta gongseng yang dipasang pada kaki.
Gongseng menghasilkan bunyi gemerincing ketika penari bergerak.
Bunyi tersebut turut memberikan kesan ramai sekaligus menjadi bagian dari irama pertunjukan.
Punya Banyak Gerakan Dasar
Gerakan dalam Reog Kendang Tulungagung juga cukup beragam.
Beberapa gerakan dasar yang dikenal antara lain sundangan, mentokan, midak kecil, gejau bumi, hingga kejang.
Sundangan dilakukan dengan posisi tanjak berbentuk tertentu. Sementara mentokan merupakan gerakan dengan posisi mendak yang disertai gerakan pada bagian pinggul.
Pada gerakan midak kecil, posisi kedua kaki dibuat berbeda, sedangkan gejau bumi dilakukan dengan perpindahan posisi kaki secara bergantian.
Ada pula gerakan kejang yang dilakukan dengan posisi berdiri sambil menjinjit dan menggerakkan kepala.
Seiring perkembangan zaman, gerakan Reog Kendang juga semakin beragam.
Sejumlah seniman melakukan kolaborasi dengan berbagai bentuk tarian sehingga pertunjukannya dapat mengikuti perkembangan tanpa meninggalkan gerakan dasarnya.
Ingin Reog Kendang Mendunia
Pengenalan Reog Kendang secara luas dapat menjadi salah satu cara memperkuat identitas budaya sekaligus memperkenalkan Kabupaten Tulungagung kepada masyarakat luar daerah.
Kegiatan pertunjukan berskala besar juga berpotensi menarik wisatawan lokal maupun asing.
Keberlangsungan Reog Kendang tidak hanya bergantung pada seniman atau sanggar seni.
Generasi muda juga memiliki peran penting untuk mengenal, mempelajari, dan memperkenalkan kesenian khas Tulungagung tersebut agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.***
Editor : Vidya Sajar FitriSumber : Diolah dari berbagai sumber