TULUNGAGUNG- Naga dina dan patine dina merupakan bagian dari hitungan hari yang masih digunakan sebagian masyarakat Jawa untuk menentukan arah keberuntungan serta menghindari arah yang dianggap kurang baik. Perhitungan ini kerap diperhatikan ketika seseorang hendak menggelar hajat besar, pindah rumah, atau memulai kegiatan mencari rezeki.
Dalam penjelasan sebuah video tentang hitungan weton, naga dina diartikan sebagai kekuatan atau kejayaan sebuah hari. Arah yang ditempati naga dina dipercaya menjadi tempat bersemayamnya kekuatan hari tersebut. Sementara itu, patine dina dimaknai sebagai “kematian hari” atau kuburan hari.
Karena itu, masyarakat yang mempercayai hitungan ini dianjurkan mengetahui posisi keduanya sebelum menentukan arah perjalanan atau kegiatan penting. Tujuannya agar langkah yang diambil lebih berhati-hati dan tidak menuju arah yang dianggap sebagai patine dina.
Langkah pertama untuk menghitung naga dina adalah mengetahui neptu hari dan neptu pasaran. Dalam penjelasan video, nilai neptu hari terdiri atas Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9.
Sementara itu, nilai neptu pasaran adalah Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, dan Kliwon 8. Nilai hari dan pasaran kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan neptu keseluruhan.
Contohnya adalah Sabtu Legi. Sabtu memiliki neptu 9, sedangkan Legi bernilai 5. Dengan demikian, neptu Sabtu Legi adalah 14.
Baca Juga: Letak Nogo Dino Menurut Primbon Jawa, Ini Arah Naga Hari dan Naga Pasaran Setiap Hari
Setelah mendapatkan angka tersebut, penghitungan dimulai dari arah timur atau wetan. Arah yang digunakan terdiri atas timur, selatan, barat, dan utara. Angka 14 kemudian dihitung berulang mengikuti urutan arah tersebut.
Dalam contoh Sabtu Legi, hitungan ke-14 jatuh di arah selatan. Dengan demikian, naga dina Sabtu Legi berada di selatan. Arah tersebut dianggap sebagai tempat kekuatan atau kejayaan hari Sabtu Legi.
Setelah mengetahui naga dina, perhitungan dilanjutkan dengan mencari patine dina. Dalam video, patine dina disebut penting untuk diperhatikan ketika seseorang hendak melakukan kegiatan besar, seperti mengarak pengantin, mendirikan atau pindah rumah, serta berdagang.
Untuk contoh Sabtu Legi, penghitungan patine dina dilakukan dengan menghitung hari dan pasarannya masing-masing sebanyak 14 kali, sesuai jumlah neptu Sabtu Legi.
Pada hitungan hari, urutannya dimulai dari Sabtu, Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, kemudian kembali ke Sabtu dan seterusnya. Hasil hitungan ke-14 jatuh pada Sabtu.
Sementara itu, hitungan pasaran dimulai dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Setelah dihitung sebanyak 14 kali, hasilnya jatuh pada Kliwon. Dengan demikian, patine dina untuk Sabtu Legi adalah Sabtu Kliwon.
Neptu Sabtu Kliwon kemudian dihitung kembali. Sabtu bernilai 9 dan Kliwon bernilai 8, sehingga jumlahnya 17. Angka 17 kembali dihitung dari arah timur dengan urutan timur, selatan, barat, dan utara.
Dalam contoh tersebut, hitungan ke-17 jatuh di arah timur. Artinya, patine dina Sabtu Legi berada di timur. Arah itu dianggap sebagai tempat yang sebaiknya dihindari ketika pemilik hajat hendak melakukan kegiatan penting pada hari Sabtu Legi.
Baca Juga: Nogo Dino Bulan, Begini Posisi Naga Tiap Bulan Jawa dan Pantangannya
Video tersebut memberikan gambaran bahwa seseorang yang hendak berdagang pada Sabtu Legi, misalnya, dianjurkan tidak menuju arah timur karena arah itu menjadi posisi patine dina. Sebaliknya, arah selatan dianggap sebagai posisi naga dina atau kekuatan hari.
Perhitungan naga dina dan patine dina pada akhirnya diposisikan sebagai pedoman dalam mengambil langkah. Bagi masyarakat yang masih memegang hitungan Jawa, pengetahuan ini dianggap membantu menentukan arah dengan lebih hati-hati. Namun, seluruh penjelasan tersebut merupakan bagian dari tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa.
Editor : Syarifatul InsaniyahSumber : Diolah dari berbagai sumber