Hari Baik Menurut Hitungan Jawa untuk Buka Usaha dan Hajatan, Begini Panduannya

Syarifatul Insaniyah • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 11:50 WIB
Hari baik menurut hitungan Jawa digunakan untuk mempertimbangkan waktu buka usaha, menikah, pindah rumah, dan kegiatan penting lainnya.(PINTEREST)
Hari baik menurut hitungan Jawa digunakan untuk mempertimbangkan waktu buka usaha, menikah, pindah rumah, dan kegiatan penting lainnya.(PINTEREST)

TULUNGAGUNG - Hari baik menurut hitungan Jawa masih digunakan sebagian masyarakat sebagai pertimbangan sebelum menjalankan kegiatan penting, seperti membuka usaha, menggelar hajatan, menikah, hingga pindah rumah. Perhitungan tersebut dilakukan dengan memperhatikan kombinasi dina atau hari dan pasaran dalam kalender Jawa.

Dalam penjelasannya, narasumber menyebut masyarakat perlu memahami istilah guru dina, naga dina, serta hari yang dianggap kurang baik atau naas. Istilah-istilah itu menjadi bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan untuk membantu seseorang menentukan waktu dan langkah sebelum melaksanakan kegiatan tertentu.

Guru dina berkaitan dengan perhitungan hari dan pasaran. Setiap hari memiliki nilai neptu yang berbeda. Begitu pula dengan lima pasaran, yakni Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Nilai tersebut kemudian dijumlahkan untuk memperoleh angka yang menjadi dasar perhitungan.

Nilai neptu hari dalam hitungan Jawa adalah Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sementara itu, nilai pasaran terdiri atas Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, serta Kliwon 8.

Kombinasi hari dan pasaran kemudian menghasilkan jumlah tertentu. Angka tersebut dapat digunakan untuk melihat posisi arah maupun menentukan hari yang dianggap sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, satu hari yang dinilai baik untuk seseorang belum tentu digunakan untuk keperluan yang sama oleh orang lain.

Baca Juga: Nogo Dino Menurut Primbon Jawa, Ini Arah yang Dipercaya Bawa Rezeki Tiap Hari

Dalam transkrip, narasumber menyinggung pertanyaan mengenai hari yang tepat untuk membuka usaha. Salah satu contoh yang disebut adalah Selasa Kliwon atau Jumat Legi. Namun, penentuan hari tidak cukup hanya dengan menyebut nama harinya.

Perhitungan tetap perlu melihat jumlah neptu serta tujuan kegiatan. Untuk membuka usaha, masyarakat biasanya mempertimbangkan hari kelahiran, hari pasaran, dan perhitungan lain yang dipercaya berkaitan dengan kelancaran rezeki.

Narasumber juga mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan menentukan waktu hanya berdasarkan perkiraan. Ada istilah hari naas yang perlu dihindari dalam kegiatan tertentu. Selain itu, terdapat pula perhitungan taliwangke, yakni penentuan waktu yang dianggap kurang sesuai untuk melakukan aktivitas penting.

Dalam konteks tersebut, hitungan Jawa diposisikan sebagai pedoman tradisi. Perhitungan ini bukan kepastian mengenai masa depan, melainkan cara masyarakat dahulu membaca waktu dan mengambil sikap lebih hati-hati.

Selain membuka usaha, hitungan hari dan pasaran juga kerap dikaitkan dengan pernikahan, pindah rumah, boyongan, serta perjalanan mencari rezeki. Narasumber menjelaskan bahwa masyarakat dapat memperhatikan arah tertentu berdasarkan hasil perhitungan.

Dalam penjelasan mengenai naga dina, arah tertentu dipercaya memiliki kekuatan atau posisi yang baik pada hari tertentu. Sebaliknya, terdapat patine dina yang dianggap sebagai arah kurang baik untuk kegiatan besar. Karena itu, seseorang yang hendak bepergian atau memindahkan tempat tinggal dapat mempertimbangkan arah tersebut.

Baca Juga: Nogo Dino dalam Kepercayaan Jawa, Tradisi Kuno untuk Menentukan Arah

Narasumber juga menyinggung contoh perhitungan menggunakan Senin Legi. Hari dan pasaran dihitung untuk mengetahui posisi yang berkaitan dengan waktu maupun arah. Namun, hasil akhirnya tetap bergantung pada metode hitungan yang digunakan dalam tradisi masing-masing.

Di luar perhitungan hari, narasumber menekankan pentingnya mengingat asal-usul, menjaga sikap, serta menguasai diri. Nasihat tersebut dikaitkan dengan upaya memperbaiki kehidupan, mencari ketenangan, dan memohon kelancaran rezeki.

Dalam pandangan tradisi Jawa, hitungan hari bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Niat, usaha, doa, serta perilaku seseorang tetap menjadi bagian penting. Karena itu, pengetahuan mengenai hari baik sebaiknya digunakan sebagai bentuk kehati-hatian, bukan alasan untuk mengabaikan ikhtiar.

Meta Description: Hari baik menurut hitungan Jawa digunakan untuk mempertimbangkan waktu buka usaha, menikah, pindah rumah, dan kegiatan penting lainnya.

Tags: hari baik menurut hitungan Jawa, hitungan Jawa, guru dina, naga dina, buka usaha

Editor : Syarifatul Insaniyah
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
naga dina hitungan Jawa hari baik menurut hitungan Jawa guru dina buka usaha