Nogo Dino dalam Hitungan Jawa, Cara Menentukan Arah dan Waktu yang Baik

Syarifatul Insaniyah • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 12:00 WIB
Nogo dino merupakan hitungan Jawa untuk menentukan arah dan waktu perjalanan berdasarkan jumlah neptu hari serta pasaran.(PINTEREST)
Nogo dino merupakan hitungan Jawa untuk menentukan arah dan waktu perjalanan berdasarkan jumlah neptu hari serta pasaran.(PINTEREST)

TULUNGAGUNG- Nogo dino merupakan bagian dari hitungan Jawa yang digunakan untuk menentukan arah dan waktu ketika seseorang hendak melakukan kegiatan tertentu. Perhitungan ini dapat diterapkan untuk perjalanan, mencari utangan, boyongan atau pindah rumah, hingga menentukan waktu keberangkatan agar sesuai dengan keyakinan tradisional masyarakat Jawa.

Dalam video tersebut, narasumber menjelaskan bahwa nogo dino berkaitan dengan jumlah neptu hari dan pasaran. Neptu menjadi dasar untuk mengetahui posisi nogo dino, termasuk arah yang dianggap perlu dihindari dan waktu yang dinilai lebih sesuai untuk melakukan perjalanan.

Narasumber menegaskan, hitungan yang disampaikan merupakan referensi. Masyarakat boleh meyakininya atau tidak. Ia juga menyebut metode perhitungan ilmu klenik Jawa dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya, meskipun bilangan neptu hari dan pasaran umumnya tetap sama.

Langkah pertama untuk menghitung nogo dino adalah mengetahui nilai neptu hari dan pasaran. Dalam penjelasan tersebut, Minggu atau Ahad memiliki neptu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9.

Sementara itu, nilai pasaran terdiri atas Kliwon 8, Legi 5, Pahing 9, Pon 7, dan Wage 4. Nilai hari kemudian digabungkan dengan nilai pasaran untuk mendapatkan jumlah akhir.

Contohnya, Sabtu Legi. Sabtu memiliki neptu 9, sedangkan Legi bernilai 5. Jika dijumlahkan, hasilnya adalah 14. Dalam hitungan Jawa, jumlah tersebut dapat disebut sebagai papat.

Baca Juga: Nogo Dino dalam Kepercayaan Jawa, Tradisi Kuno untuk Menentukan Arah

Jumlah neptu itulah yang kemudian digunakan untuk menentukan posisi nogo dino. Narasumber menjelaskan bahwa arah nogo dino dibagi menjadi empat, yakni kidul atau selatan, wetan atau timur, lor atau utara, dan kulon atau barat.

Untuk nogo dino yang berada di arah kidul, jumlah neptunya adalah 14 atau 15. Nogo dino di arah wetan berkaitan dengan jumlah 11 atau 9. Sementara itu, arah lor memiliki jumlah 13 atau 8, sedangkan arah kulon berkaitan dengan jumlah 12, 6, 16, atau 17.

Perhitungan dilakukan dengan mencocokkan jumlah neptu dengan daftar arah tersebut. Dengan demikian, hasil hitungan tidak hanya menunjukkan angka, tetapi juga posisi yang dipercaya memiliki kaitan dengan perjalanan atau kegiatan seseorang.

Narasumber memberikan contoh bahwa jika nogo dino berada di kidul, seseorang disarankan tidak berjalan menuju selatan. Sebaliknya, arah yang dipilih adalah lor atau utara. Jika nogo dino berada di kulon, arah yang disarankan adalah wetan.

Contoh lain menggunakan Kemis Kliwon. Kamis memiliki neptu 8 dan Kliwon juga bernilai 8 sehingga jumlahnya 16. Berdasarkan daftar yang dijelaskan, jumlah tersebut termasuk nogo dino yang berada di kulon.

Artinya, seseorang yang hendak melakukan perjalanan menurut hitungan tersebut tidak disarankan berjalan ke arah kulon. Arah yang dipilih adalah wetan. Narasumber mengaitkan ketentuan ini dengan kepercayaan masyarakat terdahulu yang menganggap perjalanan menuju arah tertentu dapat membawa kesialan, seperti mengalami masalah di jalan atau kehilangan barang.

Baca Juga: Nogo Dino Menurut Primbon Jawa, Ini Arah yang Dipercaya Bawa Rezeki Tiap Hari

Selain menentukan arah, hitungan Jawa juga mengenal perhitungan waktu. Narasumber menjelaskan istilah belis, adam, dan howok untuk membagi waktu menjadi esuk atau pagi, awan atau siang, serta sore.

Dalam contoh Sabtu Legi dengan jumlah neptu 14, perhitungan waktu berakhir pada adam atau awan. Karena itu, waktu keberangkatan yang dianggap sesuai adalah siang hari. Jika berangkat terlalu pagi atau terlalu sore, waktunya dinilai tidak sesuai dengan hasil hitungan.

Narasumber juga menyebut bahwa metode hitungan seperti ini tidak selalu sama di setiap daerah. Cara yang digunakan di Banyuwangi, Jogja, Tuban, dan Gresik bisa berbeda. Namun, nilai dasar neptu hari dan pasaran disebut cenderung sama di berbagai wilayah Jawa.

Pengetahuan tersebut, menurut narasumber, diperoleh dari seorang sesepuh asal Ponorogo pada 1988. Sesepuh itu disebut berprofesi sebagai dalang. Setelah itu, metode tersebut dibandingkan dengan perhitungan yang digunakan sejumlah dukun atau pujangga desa dan ditemukan banyak kesamaan.

Pada akhirnya, nogo dino menjadi salah satu warisan pengetahuan Jawa yang menggabungkan hitungan hari, pasaran, arah, dan waktu. Bagi masyarakat yang mempercayainya, perhitungan ini dapat menjadi pedoman sebelum melakukan kegiatan penting. Namun, narasumber kembali mengingatkan bahwa hitungan tersebut merupakan referensi yang boleh diyakini maupun tidak.

Editor : Syarifatul Insaniyah
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
neptu hari neptu pasaran Nogo Dino hitungan Jawa budaya jawa