Lungguhe Nogo Tahun dalam Hitungan Jawa, Ini Arah yang Perlu Diperhatikan

Syarifatul Insaniyah • Dipublikasikan Sabtu, 12 September 2026 | 12:05 WIB
Lungguhe nogo tahun menjadi patokan arah dalam hitungan Jawa. Simak pembagian bulan dan arah yang perlu diperhatikan.(PINTEREST)
Lungguhe nogo tahun menjadi patokan arah dalam hitungan Jawa. Simak pembagian bulan dan arah yang perlu diperhatikan.(PINTEREST)

TULUNGAGUNG- Lungguhe nogo tahun menjadi salah satu bagian penting dalam perhitungan hari baik menurut tradisi Jawa. Perhitungan ini digunakan sebagai patokan arah ketika seseorang hendak melakukan kegiatan penting, seperti menempati rumah atau memulai perjalanan. Arah yang ditunjukkan dalam lungguhe nogo tahun dipercaya berkaitan dengan keberuntungan, rezeki, dan terutama keselamatan.

Penjelasan mengenai lungguhe nogo tahun disampaikan Teguh Sharno melalui kanal YouTube Dekong TV. Pria yang mengaku berasal dari Malang itu mengajak masyarakat, khususnya orang Jawa, untuk kembali mengenal berbagai perhitungan tradisional yang berkaitan dengan hari, bulan, dan tahun.

Menurut Teguh, nogo tahun terbagi menjadi empat fase. Setiap fase berlangsung selama tiga bulan. Pembagian tersebut menjadi patokan untuk mengetahui posisi nogo tahun pada arah tertentu. Setelah seseorang menentukan hari dan bulan yang dianggap baik, posisi nogo tahun juga perlu diperhatikan sebelum kegiatan penting dilakukan.

“Lungguhe no tahun pun juga sama,” ujar Teguh dalam penjelasannya. Ia menerangkan, nogo tahun merupakan patokan arah dari bulan-bulan tertentu. Karena itu, arah rumah, jalur masuk, atau arah langkah seseorang perlu disesuaikan dengan posisi nogo tahun pada periode tersebut.

Fase pertama berada pada bulan Besar, Sura, dan Sapar. Pada tiga bulan tersebut, nogo tahun disebut berada di lor atau utara. Dalam kepercayaan yang dijelaskan Teguh, seseorang sebaiknya tidak memulai kegiatan penting dengan arah menuju utara ketika nogo tahun berada di wilayah tersebut.

Baca Juga: Nogo Dino dalam Tradisi Jawa: Arah yang Dipercaya Bisa Bawa Rezeki atau Kesialan

Teguh memberikan contoh seseorang yang hendak menempati rumah. Jika rumah menghadap ke selatan, orang tersebut secara otomatis akan masuk menuju arah utara. Kondisi itu dianggap perlu dihindari apabila nogo tahun sedang berada di utara.

Namun, terdapat beberapa solusi yang bisa dilakukan. Penghuni rumah dapat masuk melalui samping, baik dari arah timur menuju barat maupun dari arah barat menuju timur. Pilihan lain yang disebut lebih aman adalah menggunakan pintu belakang sehingga arah masuk menuju selatan.

Solusi lainnya adalah memilih bulan berbeda. Teguh menyebut bulan Mulud atau Bak Mulud serta Jumadilawal sebagai periode ketika nogo tahun berada di wetan atau timur. Dengan demikian, seseorang dapat menyesuaikan waktu pelaksanaan kegiatan agar arah yang ditempuh tidak berlawanan dengan posisi nogo tahun.

Fase berikutnya mencakup Jumadilakhir, Rejab, dan Ruwah. Pada periode tersebut, nogo tahun berada di kidul atau selatan. Teguh kembali mengingatkan agar arah masuk atau langkah untuk kegiatan penting tidak menuju selatan.

Contohnya, ketika seseorang hendak menempati rumah yang menghadap ke utara. Jika dilakukan pada bulan Jumadilakhir, Rejab, atau Ruwah, arah masuk rumah akan menuju selatan. Dalam perhitungan yang dijelaskan, arah tersebut dianggap perlu dihindari karena dikaitkan dengan upaya mendatangi sesuatu yang buruk.

Sementara itu, fase terakhir meliputi Poso, Syawal, dan Selo. Pada tiga bulan tersebut, nogo tahun berada di kulon atau barat. Penjelasan ini menjadi bagian dari pembagian empat fase yang digunakan untuk menentukan posisi arah dalam perhitungan nogo tahun.

Baca Juga: Nogo Dino, Perhitungan Jawa yang Tentukan Arah Lamaran: Ada Bulan yang Tak Boleh Dilalui

Teguh menegaskan bahwa penjelasan tersebut merupakan referensi dalam mengenal tradisi Jawa. Ia mengajak masyarakat untuk tetap mengingat budaya Jawa sekaligus saling mengingatkan apabila terdapat kekeliruan dalam pemahaman.

“Bila ada yang salah kita benarkan, bila ada yang benar kita pertahankan,” tutur Teguh. Ia juga menyampaikan bahwa perhitungan tersebut dapat dijadikan bahan pembelajaran bagi masyarakat yang ingin mendalami pengetahuan tradisional Jawa.

Editor : Syarifatul Insaniyah
Sumber : Diolah dari berbagai sumber
hari baik Jawa hitungan Jawa lungguhe nogo tahun nogo tahun budaya jawa