Ngeri Sifat Pendendam Weton Pon dalam Primbon Jawa: Terlihat Tenang tapi Simpan Luka Hati Sangat Dal

Dinar Ananda Putri • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 17:17 WIB
Primbon Jawa mengungkap sifat pendendam dalam diam pemilik Weton Pon. Simak bahaya menyimpan kecewa dan cara menyembuhkan luka batin Weton Pon di sini!
Primbon Jawa mengungkap sifat pendendam dalam diam pemilik Weton Pon. Simak bahaya menyimpan kecewa dan cara menyembuhkan luka batin Weton Pon di sini!

TULUNGAGUNG - Penampilan luar seseorang sering kali menipu, dan hal inilah yang paling menggambarkan karakter pemilik Weton Pon. Dalam tatanan Primbon Jawa, orang-orang yang lahir pada pasaran Pon dikenal memiliki aura yang tenang, kalem, serta tidak banyak bicara. Namun di balik sikapnya yang ramah dan penuh ketenangan, tersimpan sifat pendendam dalam diam yang amat berbahaya bagi siapa saja yang berani mengkhianatinya.

Berbeda dengan watak orang lain yang langsung meluapkan amarah atau emosi saat disakiti, pemilik Weton Pon cenderung memilih untuk bungkam. Mereka tidak membalas makian saat itu juga, tidak menunjukkan ledakan emosi di depan umum, bahkan masih sanggup melempar senyum seolah tidak terjadi masalah apa pun. Namun, bersikap tenang bukan berarti mereka tidak merasa sakit hati.

Masyarakat Jawa mengenal prinsip meneng ora ateges ora kroso, yang bermakna diam bukan berarti tidak merasakan apa-apa. Ketika rasa percaya yang diberikan Weton Pon dikhianati atau disalahgunakan, rasa kecewa itu akan menancap sangat dalam di sanubarinya. Luka tersebut akan terus tersimpan rapi dalam ingatan mereka dalam waktu yang sangat lama, bahkan sulit untuk disembuhkan.

Baca Juga: Status Jabatan Kepala Desa saat Proses Hukum, Ini Beda Tersangka dan Putusan Inkrah

Dampak dari rasa sakit yang dipendam ini sangat mengerikan bagi kelangsungan sebuah hubungan. Weton Pon yang pernah terluka tidak akan secara terang-terangan menyerang balik, melainkan menutup pintu hatinya secara perlahan. Mereka akan membangun jarak dingin yang tak kasat mata. Meski tetap menyapa dan berbicara sopan seperti biasa, ruang batin bagi orang yang menyakitinya telah tertutup rapat untuk selamanya.

Bahaya laten dari sifat ini adalah sifatnya yang tidak terdeteksi oleh orang awam. Banyak orang mengira perselisihan dengan Weton Pon telah selesai hanya karena tidak ada pertengkaran hebat. Padahal, di balik diamnya, Weton Pon sedang mengamati, mengingat setiap detail kejadian, dan memproses rasa kecewa tersebut menjadi tembok pembatas yang kokoh.

Baca Juga: Kepala Desa Berhalangan, Bagaimana Pemerintahan Desa Tetap Berjalan? Ini Peran Sekdes dan Plt

Jika beban kekecewaan ini terus dipendam tanpa pernah dilepaskan atau dikomunikasikan, ia akan berubah menjadi racun batin yang menggerogoti kesehatan jiwa pemilik weton itu sendiri. Mereka rentan menjadi pribadi yang dingin, berhati-hati secara berlebihan, dan sulit merasakan kebahagiaan yang tulus karena selalu diselimuti kewaspadaan tinggi terhadap pengkhianatan.

Leluhur Jawa mengingatkan pentingnya ajaran sing uwis uwisana—yang sudah berlalu biarkanlah berlalu. Ujian terberat Weton Pon sejatinya bukanlah membalas perbuatan orang lain, melainkan menaklukkan ego batinnya sendiri untuk melepaskan dendam. Ketika berhasil mengubah rasa kecewa menjadi pelajaran hidup yang mendewasakan, Weton Pon akan terbebas dari beban batin yang memberatkan langkah hidupnya.

Baca Juga: Kepala Desa Jadi Tersangka, Apa yang Terjadi pada Jabatannya? Ini Proses Pemberhentian Sementara

 

Editor : Dinar Ananda Putri
Sumber : youtube
Watak Pendendam Kebiasaan Weton Pon Sifat Weton Pon Primbon Jawa Weton Pon