TULUNGAGUNG - Primbon Jawa menganalogikan pemilik Weton Pon bak sebuah telaga yang sangat tenang di permukaan, namun memiliki kedalaman ekstrem dan arus deras yang bergejolak di dasarnya. Perumpamaan ini menggambarkan betapa kontrasnya antara penampilan luar pemilik Weton Pon dengan kondisi batin yang sebenarnya mereka rasakan sehari-hari.
Lahir dengan pembawaan energi spiritual yang kuat, pemilik Weton Pon dibekali ketahanan mental yang luar biasa dari lahir. Mereka terbiasa tampil sebagai sosok pemuda atau pribadi yang tegar, mandiri, dan dapat diandalkan oleh keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Ketika badai permasalahan hidup datang menimpa, mereka menjadi pihak pertama yang pasang badan dan menenangkan orang-orang di sekelilingnya.
Baca Juga: Bagaimana agar Pengelolaan Dana Desa Tidak Bermasalah Hukum? Kenali 5 Prinsip Ini
Sayangnya, predikat sebagai "sosok yang kuat" ini sering kali menjadi beban tersembunyi yang amat berat. Karena terbiasa terlihat tegar, pemilik Weton Pon merasa tidak memiliki ruang untuk menunjukkan kelemahan atau rasa lelahnya. Ketika sedang terluka atau berada di titik terendah, mereka lebih memilih untuk mengunci diri dan memendam semua penderitaan itu rapat-rapat.
Saat malam hari tiba dan suasana mulai hening, pikiran pemilik Weton Pon sering kali berkelana sangat jauh. Pergumulan batin, kecemasan akan masa depan, rasa kecewa, hingga beban tanggung jawab yang menumpuk dipikirkan secara mendalam tanpa pernah diucapkan kepada siapa pun. Bahkan, pasangan atau keluarga terdekat sekalipun kerap tidak menyadari bahwa batin Weton Pon sedang menjerit kesakitan.
Baca Juga: Status Jabatan Kepala Desa saat Proses Hukum, Ini Beda Tersangka dan Putusan Inkrah
Kebiasaan menanggung beban sendirian ini jika dibiarkan dalam jangka panjang dapat merusak keseimbangan jiwa dan raga. Ketegangan saraf, gangguan tidur, hingga depresi terselubung menjadi ancaman nyata bagi mereka. Kebiasaan memendam perasaan juga kerap membuat mereka mendadak menjadi pribadi yang sangat dingin dan mudah merasa terasing dari lingkungan sosialnya.
Para sesepuh Jawa mengajarkan bahwa kekuatan sejati manusia bukan diukur dari seberapa sanggup ia menahan beban penderitaan seorang diri, melainkan dari keberaniannya untuk jujur mengakui keterbatasan diri. Weton Pon perlu menyadari bahwa meminta bantuan dan membagikan isi hati kepada orang yang tepat bukanlah sebuah tanda kelemahan, melainkan bentuk kasih sayang terhadap diri sendiri.
Mengenali sinyal kelelahan batin menjadi langkah awal untuk menyelamatkan energi besar yang dimiliki Weton Pon. Dengan belajar terbuka dan melepaskan beban yang tidak perlu, telaga tenang dalam diri Weton Pon tidak lagi menyimpan arus bawah yang membahayakan, melainkan berubah menjadi sumber kedamaian dan penyejuk bagi kehidupan orang banyak.
Baca Juga: Status Jabatan Kepala Desa saat Proses Hukum, Ini Beda Tersangka dan Putusan Inkrah
Editor : Dinar Ananda Putri
Sumber : youtube