RADAR TULUNGAGUNG - Jaranan adalah salah satu kesenian tradisional Jawa yang menampilkan tarian dengan properti kuda kepang atau kuda anyaman bambu.
Pertunjukan ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga mengandung nilai budaya, spiritual, dan filosofi yang diwariskan turun-temurun.
Di beberapa daerah, jaranan dikenal dengan nama berbeda, seperti kuda lumping, ebeg, atau jaran kepang.
Asal-usul jaranan dipercaya sudah ada sejak zaman kerajaan di Jawa. Dahulu, kesenian ini menjadi simbol keberanian prajurit yang sedang berlatih perang.
Baca Juga: Generasi Muda Tulungagung Bangkitkan Kesenian Tradisional: Tayub, Jaranan, dan Campursari
Gerakan penari jaranan menggambarkan semangat, ketangkasan, dan kekompakan pasukan berkuda.
Seiring waktu, jaranan berkembang menjadi hiburan rakyat yang sering ditampilkan dalam acara hajatan, bersih desa, hingga festival budaya.
Ciri Khas Pertunjukan Jaranan
Seni jaranan memiliki beberapa ciri khas yang membuatnya unik dan diminati banyak orang, antara lain:
1. Kuda Kepang - terbuat dari anyaman bambu atau kulit, dihiasi warna mencolok.
2. Musik Gamelan - iringan gamelan, kendang, gong, dan angklung membuat suasana semakin hidup.
3. Gerakan Mistis - beberapa penari bisa mengalami trance atau kesurupan, menambah daya tarik penonton.
4. Kostum Meriah - penari biasanya mengenakan busana warna-warni dengan hiasan kepala khas prajurit.
Baca Juga: Jaranan Jawa Sepi Peminat di Tulungagung, Benarkah Kalah dengan Jenis Jaranan Lain?
Nilai Budaya dalam Jaranan
Di balik atraksinya, jaranan menyimpan makna mendalam. Kesenian ini mengajarkan kebersamaan, keberanian, dan penghormatan pada leluhur.
Bahkan, beberapa kelompok jaranan masih menjalankan ritual khusus sebelum pertunjukan, sebagai bentuk doa agar acara berjalan lancar.
Meski zaman terus berkembang, jaranan tetap eksis dan beradaptasi. Banyak komunitas seni muda mengemas jaranan dengan sentuhan modern, tanpa meninggalkan tradisi aslinya.
Bahkan, kesenian ini kerap tampil di festival budaya internasional sebagai identitas seni Jawa yang memukau wisatawan mancanegara.
Baca Juga: PDI Perjuangan Trenggalek Berupaya Lestarikan Kesenian Jaranan Turonggo Yakso, Begini Caranya
Jaranan bukan sekadar hiburan, tetapi juga warisan budaya yang perlu dijaga. Melalui seni tari, musik, dan nilai spiritual, jaranan membuktikan bahwa tradisi tetap bisa bertahan di tengah arus modernisasi.
Dengan terus melestarikannya, generasi muda dapat lebih mencintai budaya asli Indonesia. ****
Editor : Dharaka R. Perdana