Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Misteri Perairan Drake Passage dan Kaitannya dengan Segitiga Bermuda

Hendra Novias • Senin, 28 April 2025 | 19:11 WIB
foto: Geo Globe Tales
foto: Geo Globe Tales

Radar Tulungagung - Selama ini perairan laut yang berbahaya sering diidentikkan dengan Segitiga Bermuda. Tahukah Anda bahwa ada selat atau perairan di laut yang tak kalah berbahayanya dibandingkan Segitiga Bermuda? Namanya adalah Selat Drake (Drake Passage).

 

Selat Drake adalah perairan yang memisahkan ujung selatan Amerika Selatan (Tanjung Horn, Chili) dari bagian paling utara Antartika (Kepulauan Shetland Selatan). Selat ini menghubungkan Samudra Atlantik barat daya dengan Samudra Pasifik tenggara dan meluas ke Samudra Selatan.

 

Lokasinya terletak di antara Tanjung Horn (Amerika Selatan) dan Kepulauan Shetland Selatan (Antartika). Koordinatnya kira-kira 58°34'53.5"S dan 64°31'02.2"W. Memiliki lebar kira-kira 800 kilometer (500 mil) dan kedalaman rata-rata sekitar 3.400 meter (11.150 kaki), dengan beberapa area mencapai hingga 4.800 meter (15.700 kaki).

 

Rute laut terpendek antara Antartika dan seluruh dunia

Selat Drake terkenal dengan kondisi lautnya yang tidak terduga dan sering kali ganas karena pertemuan arus laut utama (Atlantik, Pasifik, dan Samudra Selatan) dan tidak adanya daratan yang menghalangi Arus Lingkar Antartika yang kuat. Kondisinya bisa berubah dari perairan yang tenang ("Danau Drake") hingga kondisi yang sangat bergolak dengan gelombang tinggi dan angin kencang ("Guncangan Drake").

 

Selat ini kaya akan kehidupan laut, termasuk paus, lumba-lumba, anjing laut, penguin, dan berbagai burung laut seperti albatros dan petrel.

 

Selat ini dinamai menurut nama penjelajah Inggris Sir Francis Drake, meskipun ia tidak pernah benar-benar berlayar melewatinya. Pelayaran pertama yang tercatat melalui selat ini adalah oleh navigator Belanda Willem Schouten pada tahun 1616.

 

 

Melintasi Selat Drake sering dianggap sebagai bagian penting dari perjalanan ke Antartika, dan bagi banyak orang, ini adalah pengalaman yang menarik, meskipun terkadang menantang. Kapal-kapal modern dilengkapi dengan penstabil dan teknologi lain untuk membuat penyeberangan senyaman dan seaman mungkin.

 

Alasan Drake Passage disebut sebagai salah satu perairan paling berbahaya:

Arus Laut yang Kuat: Di jalur ini bertemu beberapa arus laut terkuat di dunia, terutama Arus Lingkar Antartika (Antarctic Circumpolar Current - ACC). ACC adalah arus laut terbesar di dunia yang bergerak tanpa hambatan mengelilingi Antartika. Ketika arus ini terhimpit di antara ujung Amerika Selatan dan Antartika, kecepatannya meningkat secara signifikan, menciptakan perairan yang sangat bergolak. Volume air yang mengalir melalui Drake Passage diperkirakan antara 95 hingga 150 juta meter kubik per detik.

 

Angin Kencang dan Badai: Tidak ada daratan signifikan yang menghalangi angin bertiup di garis lintang ini. Angin kencang dari Samudra Pasifik dan Atlantik dapat bertiup bebas dan bertemu di Drake Passage, sering kali membentuk badai yang hebat. Siklon (sistem tekanan rendah atmosfer) yang terbentuk di Pasifik bergerak dari barat ke timur melintasi tepi selatan jalur ini, menambah intensitas angin.

 

Gelombang Besar: Kombinasi arus kuat dan angin kencang sering kali menghasilkan gelombang yang sangat besar. Gelombang di Drake Passage dapat mencapai ketinggian lebih dari 20 meter (65 kaki), bahkan dilaporkan mencapai 25 meter (80 kaki) dalam kondisi ekstrem.

 

Suhu Air Dingin: Perairan Drake Passage sangat dingin, dengan suhu yang dapat turun hingga mendekati titik beku. Jika seseorang jatuh ke air, risiko hipotermia sangat tinggi dan dapat terjadi dengan cepat.

 

Lokasi Terpencil: Lokasi Drake Passage yang terpencil berarti tidak ada tempat berlindung yang dekat jika terjadi keadaan darurat. Kapal yang melintas harus sepenuhnya mandiri dan dilengkapi dengan baik untuk menghadapi kondisi yang keras.

 

Meskipun demikian, dengan teknologi dan prakiraan cuaca modern, pelayaran melalui Drake Passage menjadi lebih aman dibandingkan berabad-abad lalu. Kapten kapal berpengalaman sering kali menunggu kondisi cuaca yang lebih baik sebelum melintasi, dan kapal-kapal modern dilengkapi dengan penstabil untuk mengurangi dampak gelombang. Namun, reputasinya sebagai perairan yang menantang dan berpotensi berbahaya tetap melekat.

Editor : Aditya Yuda Setya Putra
#Sir Francis Drake #Drake passage #segitiga bermuda #selat drake #amerika selatan