Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Permainan Tertua di Indonesia Ada di Tulungagung, Inilah Warisan Budaya Nusantara Penuh Nilai Luhur

Analisa • Sabtu, 5 Juli 2025 | 00:00 WIB

 

Congklak yang juga dikenal dengan nama dakon atau mancala di berbagai daerah ini menjadi salah satu permainan tertua di Indonesia.
Congklak yang juga dikenal dengan nama dakon atau mancala di berbagai daerah ini menjadi salah satu permainan tertua di Indonesia.

TULUNGAGUNG – Di tengah gempuran permainan digital modern, permainan tertua di Indonesia seperti congklak tetap bertahan di Tulungagung sebagai simbol budaya dan tradisi leluhur.

Congklak, yang juga dikenal dengan nama dakon atau mancala di berbagai daerah, telah dimainkan oleh anak-anak di Tulungagung sejak zaman nenek moyang

Bagi masyarakat Tulungagung, permainan congklak ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga mengandung nilai edukatif yang tinggi, terutama dalam hal perhitungan, strategi, serta memperkuat hubungan sosial.

Bukti sejarah dan budaya menunjukkan bahwa congklak telah ada sejak ratusan tahun lalu dan tersebar luas di wilayah Nusantara termasuk Tulungagung, mulai dari Jawa, Sulawesi, hingga Maluku.

Sebagai salah satu permainan tertua, congklak memiliki ciri khas berupa papan berlubang-lubang dan biji-bijian (kerang, batu kecil, atau plastik) yang menjadi alat permainannya.

Dua pemain saling beradu strategi untuk mengumpulkan biji sebanyak mungkin ke dalam lubang milik mereka.

Meskipun terlihat sederhana, congklak sebenarnya menuntut kecermatan, kesabaran, dan kemampuan berpikir ke depan.

Menariknya, permainan ini telah menjadi bagian dari ritual dan adat di Tulungagung dan beberapa daerah lainnya.

Dimana permainan congklak di Tulungagung dimainkan pada saat-saat tertentu untuk mempererat kebersamaan juga sebagai simbol pelatihan kecerdasan anak-anak perempuan sebelum dewasa.

Hal ini menunjukkan bahwa congklak bukan sekadar permainan, tetapi juga bagian dari identitas budaya bangsa termasuk di Tulungagung.

Banyak sejarawan dan antropolog menyebut congklak sebagai permainan tertua yang masih ada di Tulungagung dan diwariskan secara turun-temurun dan mencerminkan cara masyarakat dahulu berpikir serta berinteraksi.

Tidak heran jika permainan ini banyak ditemukan di situs-situs sejarah dan candi-candi di Indonesia khususnya di Tulungagung, seperti Prambanan dan Borobudur.

Bentuk papan congklak yang diukir dari kayu atau batu membuktikan bahwa permainan ini telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Tulungagung sejak zaman kuno.

Bahkan, congklak tidak hanya eksis di Indonesia, tetapi juga di negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand, yang menandakan adanya pertukaran budaya maritim pada masa lampau.

Namun, di Indonesia khusunya di Tulungagung, congklak memiliki kekayaan lokal tersendiri yang membedakannya dari versi negara lain.

Kini, upaya pelestarian congklak sebagai warisan budaya semakin digalakkan. Sekolah-sekolah mulai mengajarkan kembali permainan tradisional ini dalam pelajaran muatan lokal, komunitas budaya mengadakan lomba congklak.

Bahkan beberapa kreator membuat versi digital congklak agar tetap relevan di era teknologi. Keberadaan congklak sebagai salah satu permainan tertua di Indonesia bukan yang  hanya harus dikenang.

Tetapi juga dijaga agar generasi muda tetap mengenalnya sebagai bagian dari jati diri bangsa.

Dengan sejarah panjang dan nilai budaya yang tinggi, congklak membuktikan bahwa permainan tradisional memiliki tempat penting dalam perkembangan sosial dan intelektual masyarakat.

Di tengah modernitas, melestarikan congklak berarti merawat akar budaya Indonesia yang telah tumbuh sejak ratusan tahun lalu.

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#congklak #tulungagung #permainan anak-anak #tradisional