TULUNGAGUNG - Porang (Amorphophallus muelleri) adalah tanaman umbi yang lagi naik daun di Tulungagung, terutama karena kandungan glukomanan yang laku keras di pasar ekspor.
Bahan ini sering dipakai di industri makanan sehat, kosmetik, hingga farmasi. Bahkan, permintaan ekspor porang ke Jepang dan Korea terus meningkat setiap tahun.
Sebagian besar orang belum sadar kalau Tulungagung, khususnya wilayah lereng Gunung Wilis seperti Sendang, Nglurup, Kalidawir, punya lahan yang cocok untuk budidaya tanaman porang.
Porang suka tanah yang lembap, teduh, dan tidak terlalu banyak sinar matahari langsung persis seperti yang ada di kawasan pegunungan Tulungagung.
Di Tulungagung terdapat lahan tidur, bekas hutan rakyat, atau kebun kopi campuran bisa jadi spot tanam porang yang bagus.
Tanaman porang termasuk tanaman yang mudah untuk dibudidaya karena tidak membutuhkan perawatan yang intens.
Cara Budidaya Porang Secara Singkat
Buat yang baru mulai, ini langkah-langkah dasar budidaya porang:
1. Bibit: Gunakan katak/bulbil porang yang sehat.
2. Lubang Tanam: Gali sedalam 20–30 cm.
3. Jarak Tanam: Idealnya 1 meter x 1 meter antar tanaman.
4. Waktu Tanam: Saat awal musim hujan.
5. Perawatan: Cukup dikontrol gulma dan dijaga kelembapannya.
6. Panen: Biasanya 2–3 tahun setelah tanam, tergantung varietas dan kondisi tanah.
Potensi Keuntungan
Budidaya porang di Tulungagung bukan hanya cocok, melainkan juga menguntungkan. Dalam satu hektar, tanaman porang bisa panen mencapai 20 hingga 30 ton umbi porang basah.
Dimana harga porang kering bisa mencapai Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per kilogram. Tak hanya itu, apabila lahan di Tulungagung ditanami porang telah ada pembeli tetap dari Madiun dan Blitar.
Kalau ditangani dengan benar dan terhubung ke koperasi atau mitra pabrik, hasilnya bisa lebih stabil dengan untung lebih jelas.
Baca Juga: 7 Tips Merawat Tanaman Hias yang Populer di Tulungagung
Tantangan yang Harus Disiapkan
Budidaya porang memang menjanjikan, tapi bukan berarti tanpa tantangan. Beberapa hal yang perlu diantisipasi antara lain yakni harga bisa fluktuatif kalau tidak ada kemitraan atau pembeli tetap.
Pengetahuan teknis soal tanam, panen, dan pengolahan juga perlu dipelajari. Bibit asli dan berkualitas harus diperhatikan, biar tidak salah tanam.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz