TULUNGAGUNG – Di era digital saat ini, generasi muda atau Gen Z memiliki beragam cara untuk mengekspresikan diri dan merangkai narasi kehidupan mereka.
Salah satu tren kreatif yang semakin digemari adalah scrapbook digital, sebuah bentuk kolase visual yang memadukan unsur estetika, kreativitas, dan sentuhan personal.
Bukannya buku diary, Gen Z lebih memilih menggunakan Scrapbook digital. Scrapbook Digital ini mulai berkembang sejak masa pandemi pada tahun 2020.
Banyak yang awalnya mencoba sekadar untuk mengisi waktu, namun justru menjadikannya sebagai hobi dan media ekspresi diri.
Apalagi sekarang sudah banyak aplikasi pendukung seperti Canva, Ibis Paint X, sampai Procreate yang mudah diakses via HP.
Tidak butuh alat ribet kayak scrapbook manual, cukup jari dan ide kreatif jadilah halaman penuh warna dan cerita.
Apa Itu Scrapbook Digital?
Scrapbook digital adalah kolase visual yang dirancang menggunakan aplikasi seperti Canva, Ibis Paint X, atau platform desain lain. Isinya berupa potongan foto, catatan kecil, warna lembut, dan ornamen dekoratif yang disusun secara kreatif.
Berbeda dengan scrapbook tradisional yang memerlukan kertas, lem, dan berbagai perlengkapan fisik lainnya, scrapbook digital memberikan kemudahan dan fleksibilitas. Cukup menggunakan ponsel atau komputer, siapa pun dapat membuat halaman yang menarik secara visual.
Kini, scrapbook digital tidak lagi sekadar menjadi sarana dokumentasi atau aktivitas rekreasional, melainkan juga bentuk ekspresi diri yang bersifat reflektif. Banyak anak muda menggunakannya untuk menceritakan momen pribadi, menyalurkan perasaan, hingga menampilkan gaya visual khas yang unik dan autentik.
Alasan Scrapbook Digital Digemari Kalangan Muda.
1. Meningkatkan Nilai Personal Sebuah Kenangan
Scrapbook digital tidak hanya menampilkan foto, tetapi juga memberi ruang untuk menceritakan kisah di baliknya. Melalui pemilihan warna, tata letak, dan teks pendek yang bersifat personal, setiap kenangan terasa lebih hidup dan bermakna.
2. Estetis dan Mudah Dikerjakan
Meskipun hasil akhirnya terlihat rapi dan menarik, proses pembuatannya cukup sederhana. Bahkan, siapa pun dapat menciptakan desain yang estetis tanpa latar belakang pendidikan desain grafis.
3. Berpotensi Menjadi Portofolio atau Konten Digital
Kegiatan ini memiliki nilai tambah sebagai portofolio kreatif atau konten media sosial. Tidak sedikit anak muda yang terinspirasi dari akun-akun desain visual yang kini menjadi ruang pamer karya dan membuka peluang jasa.
4. Bersifat Terapeutik dan Menenangkan
Bagi sebagian orang, menyusun scrapbook digital menjadi bentuk terapi visual. Proses memilih elemen desain dan menyusunnya secara harmonis sering kali menjadi kegiatan yang menenangkan, terutama saat mengalami kejenuhan.
5. Fleksibel dan Tanpa Batasan Baku
Scrapbook digital tidak memiliki standar atau aturan tetap. Gaya desain yang diusung bisa minimalis, penuh warna, gelap, pastel, atau bentuk lainnya. Kebebasan dalam mengekspresikan ide ini menjadi salah satu alasan utama mengapa tren ini begitu diminati.
Dari Hobi Menjadi Peluang Berkarya
Seiring meningkatnya popularitas scrapbook digital, semakin banyak anak muda yang menjadikannya sebagai media untuk menyalurkan kreativitas dan menunjukkan identitas visual mereka. Scrapbook digital kini tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan kenangan, tetapi juga sebagai karya yang dapat diapresiasi oleh khalayak, terutama melalui media sosial.
Tren ini turut membuka peluang usaha, seperti jasa pembuatan scrapbook digital kustom, wrap-up bulanan, moodboard estetik, jurnal visual, hingga hadiah digital bertema kenangan pribadi. Gaya visual yang khas dan personal menjadi nilai jual yang menarik.
Melalui hobi yang sederhana ini, generasi muda tidak hanya dapat menyalurkan ide dan kreativitas, tetapi juga membentuk karakter desain yang kuat. Bahkan, tidak sedikit yang berhasil mengubahnya menjadi sumber penghasilan melalui karya digital yang mereka hasilkan.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz