Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Melambangkan Kemewahan, Warna Ini Dulunya Memiliki Harga Selangit, Kesukaan Para Bangsawan

Siti Fadhilah Salsabila • Rabu, 16 Juli 2025 | 22:00 WIB
he young woman seated at a virginals by vermeer
he young woman seated at a virginals by vermeer

SERBA - Warna biru kini identik dengan ketenangan, kepercayaan, dan teknologi. Tapi tahukah kamu? Dulu, warna biru adalah lambang kemewahan ekstrem yang harganya bisa bikin bangkrut sang seniman.

Salah satu pelukis ternama bahkan mengalami kesulitan keuangan hanya karena ingin memakai warna biru murni di lukisannya. 

Asal-Usul Warna Biru: Dari Batu Langka Lapis Lazuli

Warna biru cerah yang disebut Ultramarine berasal dari batu berharga Lapis Lazuli, yang selama berabad-abad hanya ditemukan di tambang kuno di Badakhshan, Afghanistan.

Untuk mengubah batu ini menjadi pigmen warna, dibutuhkan:

Hasil akhirnya adalah pigmen ultramarine—biru intens yang tahan lama, cerah, dan memesona. Karena proses dan bahan bakunya, pigmen ini lebih mahal dari emas!

Sejarah Warna Biru di Dunia Seni

Pada abad ke-13 hingga ke-17, warna biru dianggap sakral dan hanya digunakan dalam konteks religius atau lukisan agung. Di Eropa, warna biru sering dipakai untuk menggambarkan Perawan Maria dalam lukisan gereja, sebagai simbol keagungan dan spiritualitas.

Namun, mahalnya warna biru membuat banyak seniman mengalami dilema. Mereka harus memilih: menggunakan warna biru dan berisiko kehilangan uang, atau mengganti warnanya dengan yang lebih murah.

Baca Juga: Manfaat Mengajari Anak untuk Bersosialisasi Sejak Dini: Kunci Penting Tumbuh Kembang Anak

Pelukis yang Bangkrut Karena Warna Biru

Salah satu contoh paling tragis adalah Johannes Vermeer, pelukis Belanda terkenal pada abad ke-17 yang dikenal dengan karya seperti Girl with a Pearl Earring. Vermeer sangat menyukai ultramarine dan sering menggunakannya meski tidak mampu.

Ia memakai pigmen biru ultramarine di banyak lukisannya, termasuk untuk detail kecil seperti latar belakang atau baju, demi kualitas visual tinggi.

Karena keterbatasan keuangan dan ketergantungannya pada bahan mahal, Vermeer terlilit utang. Setelah kematiannya tahun 1675, istrinya mengajukan permohonan perlindungan dari kebangkrutan karena mereka meninggalkan utang besar kepada pemasok cat dan bahan seni.

Penemuan Warna Biru Sintetis

Karena tingginya permintaan dan mahalnya harga ultramarine asli, pemerintah Prancis pada 1820-an menawarkan hadiah bagi siapa pun yang bisa menciptakan alternatif sintetis.

Hasilnya, pada 1826, kimiawan Jean-Baptiste Guimet berhasil menciptakan "French Ultramarine" — versi sintetis dari biru ultramarine yang jauh lebih murah dan bisa diproduksi massal.

Sejak saat itu, warna biru menjadi lebih terjangkau dan tidak lagi jadi simbol kekayaan eksklusif.

Baca Juga: Bikin Baper, Berikut 8 OST Drama Korea Terbaik yang Sulit Dilupakan

Fakta Unik Warna Biru:

Warna biru bukan hanya indah, tapi juga menyimpan sejarah yang dramatis dan mahal. Dari tambang Afghanistan hingga istana Eropa, dari altar gereja hingga studio Vermeer—warna ini pernah jadi simbol status tertinggi. Namun bagi sebagian seniman, seperti Johannes Vermeer, kecintaan terhadap warna biru bahkan bisa menghancurkan keuangan mereka.

 

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#warna #didunia #termahal