TULUNGAGUNG - Burung kedasih termasuk dalam keluarga Cuculidae, yaitu kelompok burung yang terkenal dengan perilaku brood parasitism yaitu meletakkan telurnya di sarang burung lain dan membiarkan burung tersebut mengerami dan membesarkan anaknya.
Dengan tubuh sepanjang 35 hingga 45 cm dan suara melengking yang khas, burung ini mudah dikenali meskipun sering bersembunyi di balik dedaunan rimbun.
1. Pola Makan Burung Kedasih
Burung kedasih termasuk dalam kelompok omnivora, artinya mereka memakan berbagai jenis makanan, baik dari tumbuhan maupun hewan kecil.
Makanan Utama:
Buah-buahan (misalnya pepaya, beringin, dan ceri liar), serangga kecil, telur dan anak burung dari sarang lain (khususnya saat muda).
Perilaku makannya tergantung ketersediaan makanan di lingkungan sekitar. Di daerah urban dan pedesaan, burung kedasih sering terlihat di pohon buah atau taman yang rimbun.
2. Perilaku Berkembang Biak: "Penitip Sarang"
Salah satu perilaku hidup paling menarik (dan kontroversial) dari burung kedasih adalah tidak membangun sarang sendiri. Sebaliknya, mereka memanfaatkan sarang burung lain—biasanya dari jenis jalak, tekukur, atau merbah—untuk menaruh telurnya.
Prosesnya:
Betina kedasih mengamati sarang burung lain yang sedang bertelur. Ketika induk asli pergi, kedasih menyelinap dan menaruh telurnya di sarang tersebut. Burung penjaga sarang biasanya tidak menyadari telur asing tersebut, dan tetap mengerami semua telur.
Anak kedasih sering tumbuh lebih cepat, dan dapat mendorong anak asli keluar dari sarang untuk menguasai sumber makanan. Perilaku ini dikenal sebagai "parasitisme inkubasi" (brood parasitism) dan telah berevolusi sebagai strategi bertahan hidup bagi spesies ini.
3. Perilaku Suara dan Komunikasi
Burung kedasih terkenal karena suaranya yang keras, panjang, dan berulang, sering terdengar di pagi atau menjelang malam.
Fungsi Suara:
Menarik pasangan kawin (terutama pada musim berkembang biak)
Menandai wilayah kekuasaan
Saling memanggil antar burung kedasih dalam satu area
Meski sering dianggap sebagai pertanda buruk di masyarakat, suara nyaring burung kedasih berperan penting secara biologis dalam komunikasi antarindividu.
4. Perilaku Sosial dan Wilayah Jelajah
Burung kedasih bukan burung koloni, tetapi lebih cenderung hidup menyendiri (soliter), terutama di luar musim kawin. Namun, mereka sering terlihat di daerah yang sama dengan burung lain, terutama ketika:
Mencari sarang untuk menitipkan telur, Mencari makanan di pohon buah yang sama, dan Beristirahat di pohon rindang dekat pemukiman.
Burung ini memiliki wilayah jelajah yang luas, dan dapat berpindah tempat tergantung musim dan ketersediaan makanan.
5. Adaptasi dan Interaksi dengan Manusia
Burung kedasih memiliki tingkat adaptasi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan, termasuk di wilayah urban. Mereka mudah berbaur di lingkungan manusia, selama tersedia:
Pohon besar dan rindang
Sumber makanan (buah atau serangga)
Sarang burung lain sebagai tempat bertelur
Karena perilaku inilah, burung kedasih sering terlihat di sekitar rumah, taman, atau area perkebunan.
Perilaku hidup burung kedasih sangat menarik karena memadukan adaptasi cerdas, strategi bertahan hidup yang unik, dan kemampuan berkomunikasi yang khas. Meskipun sering dikaitkan dengan mitos dan kepercayaan tradisional, secara ilmiah burung ini adalah spesies penting yang menunjukkan dinamika evolusi dan interaksi antarburung.
Dengan memahaminya lebih dalam, kita bisa lebih menghargai keberadaan burung kedasih sebagai bagian dari keanekaragaman hayati Indonesia.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz