TULUNGAGUNG - Mangrove bantu nelayan menjaga ekonomi pesisir saat cuaca ekstrem.
Mangrove bukan hanya menjadi penyangga lingkungan, tetapi juga pelindung kehidupan ekonomi masyarakat pesisir.
Di saat badai, gelombang tinggi, atau cuaca buruk melanda, mangrove dapat menahan dampak kerusakan dan memastikan nelayan tetap bisa beraktivitas.
Di berbagai daerah pesisir Indonesia, kawasan mangrove menjadi habitat alami berbagai jenis ikan, kepiting, udang, dan kerang.
Akar-akar mangrove yang rapat dan berlumpur menyediakan tempat persembunyian yang ideal bagi biota laut.
Oleh karena itu, meski ombak tinggi membuat nelayan tak bisa melaut jauh, mereka masih bisa menangkap hasil laut di sekitar hutan mangrove.
Keberadaan mangrove membantu nelayan tetap produktif, terutama saat musim angin barat atau badai datang.
Tanpa harus pergi ke laut lepas, mereka bisa mencari udang, kepiting, atau ikan-ikan kecil di kawasan mangrove yang aman dari gelombang besar.
Ini menjadi penyelamat ekonomi harian nelayan, sekaligus alasan kuat mengapa ekosistem mangrove harus terus dijaga.
Selain menjadi tempat hidup ikan dan udang, mangrove juga berfungsi sebagai perisai alami yang melindungi pemukiman pesisir dari terjangan gelombang tinggi.
Akar-akarnya meredam energi ombak dan mengurangi risiko banjir rob, terutama di wilayah dengan daratan rendah.
Tanpa mangrove, banyak desa pesisir bisa mengalami abrasi yang parah dan kehilangan lahan produktif.
Di tengah perubahan iklim yang menyebabkan cuaca semakin tak menentu, keberadaan mangrove menjadi jauh lebih krusial.
Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa intensitas cuaca ekstrem meningkat dalam lima tahun terakhir.
Di saat seperti ini, kawasan mangrove menjadi benteng pertama yang melindungi masyarakat dari bencana alam.
Namun, tidak semua wilayah memiliki kondisi mangrove yang baik.
Banyak kawasan mangrove rusak akibat penebangan, pembangunan tambak, hingga proyek wisata yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan.
Hal ini justru memperbesar potensi kerugian saat terjadi cuaca ekstrem sehingga pemerintah daerah dan masyarakat perlu mengembalikan fungsi mangrove di wilayah-wilayah yang mulai terdegradasi.
Program rehabilitasi tidak cukup hanya dengan menanam bibit, tetapi juga memastikan perawatan jangka panjang agar mangrove benar-benar tumbuh dan berfungsi maksimal.
Kesadaran akan pentingnya mangrove sebagai penyelamat ekonomi pesisir juga perlu terus ditumbuhkan.
Apalagi bagi nelayan tradisional yang sangat bergantung pada kondisi alam, keberadaan mangrove dapat menjadi pembeda antara tetap berpenghasilan atau tidak sama sekali saat musim buruk datang.
Di beberapa daerah, ada komunitas nelayan yang secara swadaya menjaga dan menanam mangrove sebagai bagian dari kearifan lokal.
Mereka sadar bahwa tanpa perlindungan alam, mereka juga yang akan pertama kali terkena dampaknya.
Ini menunjukkan bahwa pelestarian mangrove bukan sekadar urusan lingkungan, tetapi juga soal ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat pesisir.
Hari Mangrove Sedunia yang diperingati setiap 26 Juli bisa menjadi momen untuk menyoroti fungsi mangrove dalam mendukung ekonomi lokal.
Tidak hanya dari sisi konservasi, tetapi juga dari sisi ketahanan pangan dan perlindungan aset nelayan.
Dengan pendekatan yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, pelestarian mangrove bisa menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.
Fakta bahwa mangrove membantu nelayan jaga ekonomi pesisir saat cuaca ekstrem seharusnya cukup menjadi alasan bahwa hutan mangrove perlu dilindungi.
Tanpa hutan mangrove, ancaman bencana meningkat, penghasilan nelayan tergerus, dan ketahanan wilayah pesisir jadi rapuh.
Saatnya mangrove tidak lagi dipandang sebagai ruang kosong, tapi sebagai jantung ekonomi pesisir yang harus dijaga bersama. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah