TULUNGAGUNG - Kowloon Walled City di Hong Kong adalah salah satu fenomena urban paling unik dalam sejarah dunia.
Kawasan Kowloon Walled City di Hong Kong ini dahulu dikenal sebagai kota tanpa hukum, padat, dan semrawut, yang berkembang tanpa kendali pemerintah.
Sebelum berubah menjadi Kowloon Walled City Park yang tenang seperti sekarang, salah satu kawasan unik di Hong Kong ini menyimpan sejarah panjang mulai dari benteng militer, permukiman kumuh ekstrem, hingga akhirnya dihancurkan dan direvitalisasi.
Sejarah Kowloon Walled City dimulai pada awal abad ke-19 saat Tiongkok berada di bawah kekuasaan Dinasti Qing. Pada tahun 1847, setelah wilayah Kowloon diserahkan kepada Inggris melalui Perjanjian Beijing (1860), Tiongkok tetap mempertahankan benteng kecil di daerah ini sebagai pos militer dan kantor administratif.
Benteng ini dikelilingi oleh tembok batu dan memiliki gerbang-gerbang serta menara penjaga.
Namun, seiring waktu, keberadaan militer Tiongkok melemah dan Inggris mulai mengabaikan keberadaan benteng ini.
Hal tersebut membuka jalan bagi perkembangan kawasan ini tanpa pengawasan yang jelas dari otoritas manapun.
Selama Perang Dunia II, Jepang menghancurkan sebagian besar tembok benteng untuk membangun bandara Kai Tak yang berdekatan.
Setelah perang berakhir dan Jepang mundur, kawasan benteng mulai dipenuhi oleh pengungsi dari Tiongkok daratan yang lari dari konflik politik, termasuk Perang Saudara Tiongkok dan Revolusi Kebudayaan.
Tanpa ada pengawasan dari Inggris maupun Tiongkok, Kowloon Walled City berkembang menjadi zona abu-abu hukum, di mana hukum resmi tidak berlaku secara efektif. Inilah awal munculnya reputasi Kowloon Walled City sebagai kota tanpa hukum.
Pada puncaknya pada tahun 1950-an hingga 1980-an, Kowloon Walled City menjadi rumah bagi lebih dari 30.000 penduduk dalam area hanya 2,6 hektare.
Ini menjadikannya kawasan dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia, bahkan melebihi kota-kota besar modern saat ini.
Baca Juga: Sejarah Tulungagung, Punya Jejak Kerajaan Tertua di Nusantara dengan Peradapan Maju
Bangunan bertingkat rapat, hingga 14 lantai, dibangun tanpa perencanaan arsitektur resmi. Lorong-lorong sempit, lembab, dan gelap, dijuluki “kota vertikal” atau “labirin manusia”. Pasokan listrik ilegal, sistem air dan sanitasi seadanya, serta ventilasi yang buruk.
Aktivitas ekonomi informal berkembang, seperti klinik gigi, pabrik kecil, rumah makan, dan toko-toko. Kawasan ini juga menjadi markas aktivitas kriminal seperti judi, narkoba, dan pelacuran, terutama pada tahun 1960-an hingga awal 1970-an, meski kemudian mulai mereda.
Perubahan dan Penggusuran
Pada tahun 1984, setelah kesepakatan Inggris dan Tiongkok terkait penyerahan Hong Kong ke Tiongkok tahun 1997, kedua negara sepakat untuk menghancurkan Kowloon Walled City.
Penggusuran dimulai pada tahun 1993 setelah relokasi ribuan penduduk, dengan kompensasi dari pemerintah.
Proses ini dilakukan secara bertahap dan hati-hati mengingat kompleksitas bangunan dan padatnya penduduk.
Pada tahun 1994, seluruh bangunan dirobohkan, namun beberapa bagian bersejarah seperti South Gate dan fondasi tembok dilestarikan.
Transformasi Menjadi Kowloon Walled City Park
Pada tahun 1995, bekas kawasan tersebut dibuka sebagai Kowloon Walled City Park, taman publik yang menampilkan gaya taman klasik Tiongkok, lengkap dengan kolam, paviliun, taman bambu, dan sisa tembok asli.
Taman ini tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tapi juga situs sejarah dan budaya yang mengenang kehidupan ekstrem dan unik yang pernah ada di sana.
Kowloon Walled City adalah simbol urbanisasi ekstrem tanpa pengawasan yang pernah terjadi di dunia.
Dari benteng kecil, berkembang menjadi kota liar dan padat, sebelum akhirnya menjadi taman bersejarah yang indah.
Kisah Kowloon Walled City menunjukkan bagaimana ruang kota bisa berubah drastis seiring waktu, dan menyimpan pelajaran berharga tentang perencanaan kota, hukum, dan kehidupan manusia di tengah keterbatasan. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah