Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Populasi Harimau Sumatra Terus Menyusut, Ancaman Terbesar Justru Datang dari Manusia

Betty Khasandra Pujayanti • Selasa, 29 Juli 2025 | 17:15 WIB
Harimau Sumatra bisa punah apabila banyak perburuan liar yang tidak segera ditindak tegas.
Harimau Sumatra bisa punah apabila banyak perburuan liar yang tidak segera ditindak tegas.

JAKARTA – Populasi harimau Sumatera semakin mengkhawatirkan.

Data Red List dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan populasi harimau Sumatera mengalami penurunan 10 persen antara 2008 hingga 2017.

Saat ini, populasi harimau Sumatera diperkirakan tak lebih dari 400 ekor di alam liar.

Penurunan populasi harimau Sumatera ini berkaitan erat dengan aktivitas manusia di dalam maupun sekitar kawasan konservasi.

Direktur Yayasan Sintas Indonesia, Hariyo Wibisono, menyebut tekanan terbesar justru datang dari ulah manusia.

“Terlibat berkait dengan aktivitas masyarakat di dalam kawasan, misalnya memasang jerat babi hutan, mungkin tidak ditujukan untuk harimau tetapi terbukti ada beberapa jerat babi hutan sangat mematikan untuk harimau,” terangnya, Senin (28/7/2025).

Perburuan liar dan perdagangan bagian tubuh harimau masih menjadi ancaman nyata yang belum bisa dihentikan sepenuhnya.

Selain itu, kebakaran hutan dan alih fungsi lahan turut mempercepat hilangnya habitat alami harimau Sumatera.

Di sejumlah daerah seperti Riau, pembukaan lahan kerap memicu karhutla yang berdampak pada wilayah jelajah satwa liar.

“Dampaknya seperti apa pasti ada, cuman memang sampai saat ini belum ada yang secara saintifik mengukur dampaknya. Tetapi, secara teoretikal kan pasti berdampak,” jelas Hariyo.

Berbagai upaya konservasi telah dijalankan di lanskap habitat utama harimau Sumatera.

Upaya yang dilakukan mulai dari patroli pintar, mitigasi konflik manusia-satwa, hingga pencegahan perburuan dan perdagangan ilegal.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama sejumlah LSM juga aktif melakukan pemantauan populasi.

Salah satunya melalui survei menyeluruh bertajuk Sumatra-wide Tiger Survey (SWTS) yang digagas BKSDA Sumatera Barat dan Yayasan Sintas Indonesia.

Namun tantangan yang dihadapi di lapangan semakin kompleks.

Hariyo menambahkan bahwa belakangan muncul faktor-faktor baru yang belum terdeteksi sebelumnya, seperti penyakit menular yang menjangkiti satwa liar.

“Hanya mungkin memang karena masifnya tantangan ya. Mungkin upaya tersebut juga perlu diperkuat ya di samping ada faktor-faktor yang mungkin dulu kita tidak antisipasi karena memang belum muncul seperti penyakit CDV (canine distemper virus),” ucapnya.

Ia juga mengungkap, pada awal 2020-an, virus ASF (African Swine Fever) sempat terdeteksi menyerang populasi babi hutan, yang merupakan mangsa utama harimau.

Gangguan rantai makanan ini berdampak pada kelangsungan hidup harimau Sumatra di habitatnya.

Untuk jangka panjang, pembangunan koridor satwa liar yang menghubungkan hutan-hutan terfragmentasi menjadi salah satu solusi yang disorot para ahli.

Harimau sebagai predator besar membutuhkan ruang jelajah yang sangat luas agar tetap bisa bertahan.

“Karena upaya konservasi satwa liar utamanya yang berukuran besar dan jelajahnya luas membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Jadi itu mungkin perlu dijadikan catatan,” kata Hariyo.

Pada peringatan Hari Harimau Sedunia ini, para pegiat lingkungan kembali mengingatkan pentingnya dukungan nyata dari masyarakat luas.

Populasi harimau Sumatra hanya bisa pulih jika ancaman dari manusia benar-benar ditekan. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#hewan langka #harimau sumatra #satwa #Hari Harimau Sedunia #punah #konservasi