TULUNGAGUNG – Warganet banyak menyoroti keberadaan sound horeg di sejumlah acara hiburan yang dinilai mengganggu kenyamanan warga.
Sound horeg dengan volume ekstrem kerap dipakai dalam berbagai acara seperti ulang tahun, arak-arakan, hingga lomba joget di pinggir jalan.
Namun, suara dentuman sound horeg yang terlalu ekstrem membuat banyak orang merasa tidak nyaman, terutama jika digelar dekat kawasan permukiman.
Unggahan video yang memperlihatkan sound horeg bervolume tinggi sering kali viral di media sosial.
Sebagian warganet menganggap sound horeg sebagai hiburan yang unik.
Namun, banyak juga yang justru menilai aktivitas ini sebagai bentuk gangguan terhadap ketenangan publik.
Warganet menyayangkan penggunaan sound horeg yang tidak mengenal batas waktu dan tempat.
Suara bass yang terlalu kuat bahkan disebut terasa hingga ke dalam rumah warga.
Hal ini memicu keluhan dari masyarakat yang merasa hak kenyamanannya terganggu.
“Kalau siang mungkin masih bisa ditoleransi, tapi kalau sudah malam dan suaranya masih keras begini, jelas bikin resah,” tulis salah satu komentar yang ramai disorot.
Fenomena sound horeg memang tidak bisa dilepaskan dari tren hiburan jalanan yang semakin marak.
Namun, sebagian warganet menilai penggunaan sound system berdaya tinggi itu tidak seharusnya dilakukan sembarangan, apalagi tanpa izin lingkungan.
Dentuman musik dari sound horeg sering kali menyasar acara skala kecil, tetapi dengan volume seperti konser besar.
Tak hanya menimbulkan kebisingan, getaran suara juga berdampak pada warga lansia, anak kecil, hingga hewan peliharaan di sekitar lokasi.
Sejumlah netizen bahkan menyebut sound horeg sebagai bentuk polusi suara yang kian meresahkan.
Beberapa wilayah diketahui mulai memperketat aturan soal izin keramaian, terutama jika menggunakan perangkat suara dengan daya besar.
Selain itu, ketidakhadiran batas volume dan jam operasional juga menjadi sorotan utama.
Acara yang berlangsung hingga malam hari dengan suara keras dinilai tidak memperhatikan kenyamanan bersama.
Meski begitu, tidak sedikit juga yang membela hiburan ini.
Bagi sebagian kalangan, sound horeg dianggap sebagai bagian dari ekspresi budaya lokal yang meriah dan penuh kreativitas.
Namun, mereka juga sepakat bahwa seharusnya ada pembatasan agar tidak sampai mengganggu warga sekitar.
Sebagai solusi, beberapa warganet menyarankan agar panitia acara lebih bijak dalam mengatur level suara.
Jika tetap ingin menggunakan sound horeg, idealnya dilakukan di tempat terbuka atau lapangan, jauh dari permukiman.
Diskusi soal sound horeg yang memiliki volume ekstrem masih terus berlanjut di berbagai platform.
Banyak pihak berharap ke depannya ada kesadaran kolektif untuk menyeimbangkan antara kebebasan berekspresi dan kenyamanan masyarakat. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah