TULUNGAGUNG - Saat bencana datang tiba-tiba, emergency kit bisa menjadi penyelamat.
Emergency kit merupakan perlengkapan untuk situasi darurat yang wajib dimiliki setiap rumah.
Fungsi emergency kit yang utama adalah menjaga keselamatan dan kesehatan penghuni rumah dalam 72 jam pertama setelah bencana terjadi.
Berikut 10 perlengkapan yang wajib ada dalam emergency kit menurut panduan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
1. Air Bersih
Sediakan minimal tiga liter air per orang per hari untuk minum dan kebersihan. Ini penting disiapkan saat sumber air terputus.
2. Makanan Tahan Lama
Bawa makanan siap saji, kaleng, atau biskuit mengandung energi. Pastikan makanan tersebut cukup untuk semua anggota keluarga selama tiga hari.
3. Kotak P3K
Isi kotak P3K dengan perban, plester, masker, antiseptik, obat demam, hingga obat khusus untuk penyakit kronis.
4. Senter
Gunakan senter LED atau lampu tenaga surya. Cahaya sangat dibutuhkan saat listrik padam.
5. Radio Portable
Radio portable berfungsi menerima informasi dari pemerintah. Pilih yang memakai baterai atau tenaga surya.
6. Dokumen Penting dalam Wadah Tahan Air
Simpan KTP, KK, akta lahir, ijazah, dan dokumen penting lain dalam plastik kedap air agar tetap aman.
7. Uang Tunai Secukupnya
Bawa pecahan kecil untuk berjaga-jaga jika ATM atau sistem pembayaran digital tak bisa digunakan.
8. Pakaian Ganti dan Selimut
Persiapkan satu set pakaian bersih dan selimut darurat untuk setiap anggota keluarga.
9. Power Bank
Power bank bisa bantu mengisi ulang HP agar komunikasi tetap terjaga ketika listrik padam pascabencana.
10. Peluit
Peluit wajib dimasukkan dalam emergency kit. Barang ini penting digunakan untuk sinyal minta tolong kepada orang lain.
Tambahan seperti tisu basah, pembalut, kantong sampah, hingga makanan bayi bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing keluarga.
Emergency kit sebaiknya disimpan di tempat yang mudah dijangkau.
Seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak, perlu tahu letak dan fungsi isi kit tersebut.
Dengan emergency kit, keluarga punya peluang lebih besar untuk bertahan dalam kondisi krisis. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah