Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kopi Hitam Cangkir di Tulungagung jadi Teman Setia Obrolan Pagi sampai Malam

Yoga Dany Damara • Sabtu, 2 Agustus 2025 | 14:30 WIB
Bukan sekadar soal kopi, tapi tentang rasa akrab, kehangatan, dan cerita-cerita kecil di Tulungagung yang mengalir pelan, seperti uap panas dari kopi yang baru diseduh.
Bukan sekadar soal kopi, tapi tentang rasa akrab, kehangatan, dan cerita-cerita kecil di Tulungagung yang mengalir pelan, seperti uap panas dari kopi yang baru diseduh.

 

TULUNGAGUNG - Di sudut-sudut desa Tulungagung, ada satu tradisi yang tak lekang oleh waktu minum kopi hitam di cangkir kaleng alias gelas enamel.

Bukan sekadar soal kafein, tapi tentang rasa akrab, kehangatan, dan cerita-cerita kecil di Tulungagung yang mengalir pelan, seperti uap panas dari kopi yang baru diseduh.

Biasanya, kopi di Tulungagung disajikan di cangkir tua berwarna putih dengan pinggiran biru atau hijau.

Cangkir yang mungkin sudah penyok atau mengelupas sedikit catnya, tapi justru di situlah letak pesonanya.

Di teras rumah, di depan warung kelontong, atau di pos ronda, kopi ini menjadi pengantar obrolan santai, dari bahas harga pupuk sampai gosip sinetron terbaru.

Ada yang menyeruput kopi sambil merokok kretek, ada juga yang diam menatap sawah atau jalanan sepi sambil merenung.

Tak perlu WiFi, tak perlu kopi susu kekinian. Hanya butuh air panas, bubuk kopi hitam, dan cangkir kaleng sudah cukup untuk membuat hati terasa pulang.

Budaya ngopi seperti ini bukan sekadar kebiasaan, tapi sudah jadi simbol kedekatan antarwarga.

Simpel, murah, tapi sarat makna. Dari pagi buta saat ayam jago mulai berkokok, hingga malam larut ketika jangkrik mulai bersuara, kopi hitam di cangkir kaleng selalu siap menemani.

Tradisi ini punya daya tarik visual yang kuat: suasana desa, cahaya kuning lampu pijar, asap rokok yang melayang di antara tawa dan diam. Semua itu adalah potret kehidupan yang tenang dan otentik sesuatu yang makin langka di era digital.

Itulah kenapa, segelas kopi hitam di cangkir kaleng bukan hanya minuman. Ia adalah teman. Teman setia untuk ngobrol, diam, berpikir, bahkan untuk sekadar merasa hidup.

Dan di Tulungagung, teman itu masih ada setia menunggu di beranda rumah. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#warung #kopi #tulungagung #kafein #pagi