TULUNGAGUNG - Di setiap sudut rumah kampung Tulungagung, ada satu benda yang hampir selalu hadir toples kaca besar berisi kerupuk. Warnanya bening, isinya menggoda dari kerupuk putih garing, kerupuk udang, hingga kerupuk puli buatan sendiri.
Warga Tulungagung biasanya meletakannya di ruang tamu atau dekat dapur, strategis dan mudah dijangkau siapa saja, entah itu tamu, cucu, atau tetangga yang mampir ngopi.
Toples kerupuk bukan sekadar wadah camilan.'Di Tulungagung adalah simbol keramahan ala kampung tanda bahwa rumah ini selalu siap menyambut siapa pun dengan tangan terbuka dan mulut yang bisa segera mengunyah.
Di banyak rumah, suara "krek-krek" dari tangan yang masuk ke dalam toples sering jadi penanda awal obrolan santai.
Kadang hanya sekadar basa-basi, kadang bisa melebar jadi diskusi soal panen, harga beras, sampai jodoh anak tetangga.
Menariknya, meski zaman makin modern dan makanan ringan makin beragam, keberadaan toples kerupuk ini tak tergantikan.
Ia jadi penanda kehangatan keluarga, solusi cepat saat lauk habis, bahkan penyelamat rasa saat kopi terlalu pahit.
Tak heran kalau banyak orang rantau yang saat mudik, akan tersenyum melihat toples itu di atas meja, seolah masa kecil dan kenangan kampung hadir kembali lewat satu gigitan renyah.
Kerupuk di toples kaca mungkin sederhana.
Tapi di Tulungagung, ia adalah warisan rasa, simbol budaya, dan harta karun kecil yang tak ternilai. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah